Kutukan mematikan, metode kuno untuk lindungi dokumen dari pencurian
Kutukan untuk melindungi buku atau manuskrip merupakan praktik umum ribuan tahun lalu.
"Barang siapa mematahkan tablet ini atau menempatkannya dalam air atau menggosoknya sampai tak bisa dibaca lagi, Ashur, Sin, Shamash, Adad dan Ishtar, Bel, Nergal, Ishtar Niniwe, Ishtar dari Arbela, Ishtar dari Bit Kidmurri, para dewa langit, bumi, dan dewa-dewa Asyur, mereka semua akan mengganjarnya dengan kutukan yang tidak bisa dilepaskan, mengerikan dan tanpa ampun, selama dia hidup mereka [para dewa] akan menyapu nama dan benihnya dari tanah ini, menempatkan jasadnya di mulut anjing".
Kalimat menyeramkan di atas tercantum dalam salah satu lembaran manuskrip kuno yang ditemukan di perpustakaan di Niniwe, peninggalan kebudayaan Asyur kuno.
Memang terdengar menyeramkan, namun menyertakan kutukan pada manuskrip atau dokumen penting merupakan praktik yang umum di masa lalu. Sejak ribuan tahun lalu, tablet manuskrip yang mengandung pengetahuan berharga sering menjadi sasaran pencurian atau malah dihancurkan. Untuk melindunginya, para pembuat manuskrip akan menyertakan kutukan sebagai perlindungan.
Menurut History of Information, pengutukan buku sudah dikenal luas pada zaman pertengahan. Namun praktik itu sendiri sudah dikenal sejak sebelum zaman Kristen. Kutukan terhadap peninggalan literatur paling tua bisa ditelusuri hingga ke zaman kekuasaan Ashurbanipal, Raja Asyur (668-627 SM). Sebagian besar tablet yang dikumpulkan di perpustakaan Niniwe saat itu disertai serangkaian kalimat kutukan.
Sejak itu para cendekiawan mengembangkan segala cara untuk melindungi peninggalan literatur penting. Mulai dari mengunci buku, merantai buku, hingga menuliskan informasi rahasia dalam bahasa sandi. Kutukan sebagai sarana pelindung buku pun semakin ditinggalkan hingga kini tak terdengar lagi.
Baca juga:
Launching dan bedah buku Be An Optimist bersama BRI
Tak banyak yang tahu, 10 film sukses ini ternyata diangkat dari buku
Penerbit Inggris akan terbitkan kembali novel terakhir Saddam Husein
Penulis ini 'ramal' kontroversi Trump lewat novelnya 20 tahun lalu
Setiap orang tinggalkan ciuman di nisan penulis kondang ini, kenapa?