LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. GAYA

Benarkah Banyak Luxury Brand Asal Eropa yang Produksi Barangnya di China?

Banyak merek mewah Eropa seperti Gucci dan Prada memproduksi barang di China, mengungkap fakta menarik tentang industri fashion global.

Rabu, 16 Apr 2025 12:28:00
barang-barang mewah
Ilustrasi tas branded (© 2024 dream.co.id)
Advertisement

Di tengah meningkatnya popularitas merek-merek mewah asal Eropa, terungkap fakta mengejutkan bahwa banyak dari mereka memproduksi barang di China. Hal ini menjadi sorotan publik, terutama melalui media sosial seperti TikTok, di mana informasi ini viral. Merek-merek terkenal seperti Gucci, Prada, Chanel, Hermès, dan Louis Vuitton disebut terlibat dalam fenomena ini, yang menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas dan transparansi dalam industri fashion.

Alasan utama di balik keputusan para merek mewah ini untuk memindahkan sebagian produksi mereka ke China adalah efisiensi biaya dan kualitas yang kompetitif. China dikenal memiliki tenaga kerja yang lebih murah dan infrastruktur manufaktur yang canggih, memungkinkan produksi massal dengan biaya lebih rendah dibandingkan negara asal merek tersebut. Meskipun demikian, banyak merek tetap mempertahankan proses finishing di negara asal untuk menjaga citra dan label 'Made in [negara asal]'.

Label 'Made in China' sering kali diasosiasikan dengan kualitas rendah, namun kenyataannya, kualitas produksi di China telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pabrik di China kini mampu memenuhi standar kualitas tinggi yang dibutuhkan oleh merek-merek mewah.

Produksi Merek Mewah di China: Kenyataan atau Mitos?

Memang benar bahwa tidak semua produk dari merek-merek mewah ini diproduksi di China. Beberapa merek masih memproduksi sebagian atau seluruh produknya di negara asal, sementara yang lain menggunakan kombinasi lokasi produksi di berbagai negara, termasuk China dan negara-negara Asia lainnya. Transparansi mengenai lokasi produksi juga bervariasi antar merek. Beberapa merek secara terbuka mengakui produksi di China, sementara yang lain kurang transparan.

Advertisement

Contohnya, Mulberry, merek asal Inggris yang didirikan pada tahun 1971, sebagian besar produknya masih diproduksi di Somerset, Inggris. Namun, beberapa item seperti tas dan aksesori kini dibuat di China. Merek ini tetap menekankan komitmen terhadap kesejahteraan pekerja dan etika produksi tanpa mengorbankan standar kemewahan. Di sisi lain, Marc Jacobs memanfaatkan kapasitas produksi di China untuk merakit berbagai produknya, meskipun bahan baku kulit tetap berasal dari Italia.

Armani, merek terkenal asal Italia, juga memproduksi sebagian koleksinya di China. Miuccia Prada, pendiri dan direktur kreatif Prada, mengakui bahwa China menawarkan efisiensi dan mutu produksi yang sangat kompetitif. Selain itu, Vietnam juga menjadi pilihan lokasi produksi bagi Prada untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar.

Advertisement

Kontroversi dan Kualitas Produksi

Keputusan untuk memproduksi di China seringkali memicu pro-kontra di kalangan penggemar. Misalnya, Coach, yang dikenal dengan desain klasik dan fungsional, kini sebagian besar produk mereka diproduksi di Tiongkok. Meskipun ada kritik, perusahaan menegaskan bahwa standar kontrol kualitas tetap dijaga ketat, bahkan di luar Amerika Serikat. Laporan dari pengunjung pabrik Coach di China menunjukkan bahwa lingkungan kerja di sana layak dan manusiawi, serta memenuhi standar etika kerja global.

D&G, merek yang dikenal dengan glamor Italia, juga tidak sepenuhnya memproduksi di negara asal. Beberapa produk seperti kacamata mereka diproduksi di China, sementara pakaian dalam dan kemeja bisa berasal dari Turki hingga Serbia. Menariknya, D&G tetap transparan mengenai label, mencantumkan negara tempat produksi sebenarnya.

Brand Mewah Menyanggah

Akun TikTok senbags2 mengunggah video yang menyebutkan bahwa sebagian besar tas mewah dibuat di China. Dalam video tersebut, kreator mengatakan, "Mereka mengambil tas yang hampir jadi dari pabrik di China dan hanya melakukan pengemasan ulang dan pemasangan logo." Klaim ini langsung menarik perhatian, terutama karena tas mewah sering diasosiasikan dengan keahlian pengrajin di Eropa, khususnya Prancis dan Italia. 

Dilansir dari Newsweek (14/4), untuk brand Hermes disebut jika Hermès tidak membuat tasnya di China. Semua tas Hermès dibuat di Prancis, di lokasi seperti Pantin (dekat Paris), Ardennes, Lyon, dan Normandy. Dibutuhkan antara 15 hingga 40 jam untuk membuat satu tas Hermès. Untuk model seperti Birkin, Kelly, atau Constance, para pengrajin dilatih hingga 5 tahun sebelum akhirnya diperbolehkan untuk satu tas. Mereka juga memiliki penyamakan kulit sendiri untuk mengontrol kualitas.

Tas Hermès juga memiliki kode autentikasi yang dicetak panas, biasanya berada di bawah penutup atau di dalam tas, menunjukkan tahun dan lokasi produksi.

Regulasi Label di AS dan Uni Eropa

Label seperti “Made in USA” atau “Made in Italy” juga memiliki regulasi ketat. Di Amerika Serikat, label “Made in USA” hanya boleh digunakan jika semua bagian penting, proses, dan tenaga kerja berasal dari AS. Sedangkan untuk Uni Eropa, khususnya Italia dan Prancis, label juga hanya bisa digunakan jika proses manufaktur substansial terakhir terjadi di negara tersebut. Prancis bahkan memiliki sertifikasi khusus bernama Origine France Garantie (OFG), yang mensyaratkan bahwa karakteristik utama produk diciptakan di Prancis dan 50% biaya unit berasal dari operasi di Prancis.

Statistik Industri Fashion Mewah

Menurut laporan Statista 2023, ada sekitar 200 hingga 250 merek fashion dan aksesori mewah di seluruh dunia, dengan 70 hingga 100 di antaranya dianggap merek papan atas. Sebagian besar merek ini dimiliki oleh konglomerasi seperti LVMH (pemilik Louis Vuitton, Dior) dan Kering (pemilik Gucci, Saint Laurent). Merek-merek ini mengutamakan produksi di Eropa untuk menjaga citra dan mematuhi regulasi.

Advertisement

Berdasarkan fakta, klaim bahwa 80% tas mewah dibuat di China yang viral lewat banyak video yang diunggah di platform sosial media seperti TikTok tidak sepenuhnya akurat, terutama untuk merek ternama seperti Hermès. Tas-tas ini diproduksi di Prancis dengan keahlian pengrajin yang terlatih dan di bawah regulasi ketat. Meski China memainkan peran besar dalam produksi fashion global, tas mewah kelas atas tetap mempertahankan akarnya di Eropa.

Berita Terbaru
  • Hasto: 600 Doktor Pernah Merumuskan Cetak Biru Bangsa, BRIN Harus Kaji Mana yang Masih Relevan
  • Ayo Garuda Muda! ASEAN U19 Boys Championship 2026: Indonesia vs Myanmar Hanya di Vidio
  • Hasto Soroti Kenaikan Harga Pangan hingga PHK Massal, Nilai Rupiah Ikut Tertekan
  • Tragis! Perselisihan Soal HP Berujung Pembacokan Brutal di OKU
  • Saat Upacara Hari Pancasila, Hasto Soroti Gejala Menguatnya Militerisme di Indonesia
  • barang-barang mewah
  • berita paham
  • konten ai
  • konten nais
  • merdekagaya
  • nais
  • perang tarif as-china
  • tas branded
Artikel ini ditulis oleh
Editor Dwi Zain Musofa
D
Reporter Dwi Zain Musofa
Disclaimer

Artikel ini dihasilkan oleh AI berdasarkan data yang ada. Gunakan sebagai referensi awal dan selalu pastikan untuk memverifikasi informasi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.

Berita Terpopuler

Berita Terpopuler

Advertisement
Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.