Yunani Umumkan Keadaaan Darurat di Santorini Picu 11.000 Orang Eksodus Massal, Ini Penyebabnya
Pemerintah mengumumkan keadaan darurat di Santorini pada Kamis (6/2).
Pemerintah Yunani mengumumkan keadaan darurat di pulau Santorini pada Kamis (6/2) menyusul serangkaian gempa bawah laut yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mengguncang pulau tersebut selama hampir sepekan. Gelombang gempa bumi baru juga dilaporkan terjadi di Santorini pada dini hari Kamis (6/2), yang merupakan bagian dari fenomena seismik yang membingungkan para ilmuwan dan menyebabkan banyak penduduk mengungsi.
Pada Kamis (6/2) dini hari, tujuh kali gempa mengguncang Santorini dengan kekuatan lebih dari magnitudo 4,0, menurut catatan Institut Geodinamika Athena, lembaga yang berwenang dalam analisis gempa bumi di Yunani. Sebelumnya, pada Rabu (5/2) malam, gempa dengan magnitudo 5,2 yang merupakan yang terkuat hingga saat ini telah tercatat.
Para ahli belum dapat memprediksi kapan aktivitas seismik ini akan berakhir, namun mereka menegaskan bahwa situasi ini adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Intensitasnya menurun tetapi belum stabil," ungkap Athanassios Ganas, direktur penelitian lembaga tersebut, kepada saluran TV pemerintah ERT seperti yang dikutip dari AFP pada Jumat (7/2).
"Kita sudah sampai di titik tengah," tambah Vassilis Karastathis, wakil direktur lembaga itu.
Institut Geodinamika Athena mengungkapkan pada Kamis, lebih dari 6.000 gempa telah tercatat di Laut Aegea dekat pulau Santorini, Amorgos, Anafi, dan Ios sejak 26 Januari. Juru bicara pemerintah, Pavlos, menyatakan "seluruh mekanisme negara Yunani telah dimobilisasi" untuk bersiap menghadapi "segala kemungkinan" yang mungkin terjadi.
Lebih dari 11.000 penduduk dan pekerja musiman telah meninggalkan Santorini sejak akhir pekan melalui jalur laut dan udara, dengan operator menambah penerbangan dan feri tambahan. Para ahli menyatakan wilayah ini belum pernah mengalami aktivitas seismik sebesar ini sejak pencatatan dimulai pada tahun 1964.
"Skenario yang paling mungkin adalah aktivitas seismik akan terus berlanjut selama beberapa hari atau minggu dengan intensitas yang sama," kata Efthymios Lekkas, kepala otoritas perencanaan dan perlindungan gempa Yunani, kepada radio Proto Programma.
Tak Terkait Aktivitas Gunung Berapi
Santorini terletak di atas gunung berapi yang terakhir kali meletus pada tahun 1950. Namun, pada Senin (2/2), komite ahli menyatakan bahwa gempa yang terjadi saat ini "tidak terkait dengan aktivitas gunung berapi". Hingga kini, tidak ada laporan mengenai cedera atau kerusakan yang ditimbulkan. Sebagai langkah pencegahan, tim penyelamat telah dikerahkan ke kawasan tersebut, dan sensor seismik tambahan juga telah dipasang.
Lekkas mengingatkan, terdapat lima lokasi di Santorini yang berpotensi mengalami longsor batu, termasuk pelabuhan Fira dan Athinios. Sebagai langkah antisipasi, sekolah-sekolah di lebih dari dua belas pulau dalam gugus Pulau Cyclades di Laut Aegea ditutup hingga hari Jumat. Kebijakan ini membuat banyak orang tua memilih untuk meninggalkan Santorini sementara waktu hingga situasi gempa mulai mereda.
Di tahun 2023, Santorini menarik sekitar 3,4 juta wisatawan, di mana lebih dari satu juta di antaranya adalah penumpang kapal pesiar. Menurut agen perjalanan Eropa yang dihubungi oleh AFP, saat ini jumlah pengunjung asing ke Santorini sangat minim. Namun, mereka memperkirakan bahwa jumlah pemesanan akan meningkat pada bulan-bulan musim semi mendatang.