Warga muslim jadi kunci kemenangan Macron di Prancis
Warga muslim jadi kunci kemenangan Macron di Prancis. Islam dan warga muslim memainkan peran cukup besar dalam pemilihan presiden di Prancis tahun ini. Dari seluruh umat muslim di Negeri Anggur, setengah di antaranya menyatakan dukungan terhadap Emmanuel Macron.
Islam dan warga muslim memainkan peran cukup besar dalam pemilihan presiden di Prancis tahun ini. Dari seluruh umat muslim di Negeri Anggur, setengah di antaranya memiliki identitas sekuler dan menyatakan dukungan terhadap Emmanuel Macron hingga akhirnya memenangkan pemilu.
Macron memang mendeklarasikan dirinya merupakan orang yang pro terhadap imigran dan memiliki pandangan tersendiri terhadap umat Islam selama masa kampanye. Hal itu berbeda dengan rivalnya, Marine Le Pen dari Partai Front Nasional yang terkesan membenci kaum minoritas.
Le Pen yang dikalahkan dalam pemilu telah menganjurkan untuk menghentikan para imigran di mana sebagian besar pesertanya berasal dari negara-negara muslim. Selama ini, penduduk muslim yang berimigrasi sering mengalami diskriminasi sehingga mereka merasakan kekhawatiran.
Dalam beberapa kesempatan, Le Pen sempat mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait Islam. Dia mengatakan tentang penyelidikan terhadap masjid, menyerang para teknokrat di Brussels dan imigran. Secara keseluruhan, Le Pen menyatakan orang Prancis harus menguasai Prancis.
"Jangan lagi ada ketakutan di rumah kita sendiri. Prancis untuk orang Prancis," katanya, seperti dilansir dari laman the Nation, Selasa (9/5).
Pernyataan tersebut dinilai menganggap muslim di Prancis dan warga negara lain seperti dari Afrika dan Asia bukan orang Prancis. Hal itulah yang membuatnya kurang mendapat simpati dari rakyat Prancis.
Di Prancis, ada sekitar lima sampai enam juta muslim yang mana dua persen di antaranya memiliki hak pilih sebagai warga negara. Komposisi tersebut memang tidak sebanding, namun setidaknya jumlah mereka cukup menyumbang perbedaan. Hal itulah yang juga dialami Presiden Francois Hollande. Pada pemilu 2012 lalu Hollande mendapatkan suara dari 86 persen penduduk muslim karena berhasil merebut perhatian umat Islam.
Kendati demikian, tokoh intelektual dan filsuf terkemuka di Prancis yang merupakan warga negara Swiss, Tariq Ramadhan, meminta agar umat muslim bertindak netral dalam pemilu dan tidak terlalu menaruh banyak harapan. Pasalnya, banyak sekali kandidat yang menjanjikan penghapusan Islamofobia di negaranya namun rupanya menusuk dari belakang, seperti Hollande.
Sebaliknya, banyak juga imam-imam muslim yang menganjurkan agar umat muslim di Prancis ikut berpartisipasi sebagai pemilih dalam pemungutan suara agar bisa mengubah nasib. Sebagai tambahan, Serikat Organisasi Islam Prancis (UOIF) yang konservatif secara gencar mengingatkan agar warga muslim menyingkirkan pemimpin dari sayap kanan.
"Kita harus melindungi Prancis dari bahaya kaum ekstremisme sayap kanan," kata pemimpin organisasi tersebut, Amar Lasfar.
Baca juga:
Netizen berdebat soal siapa lebih tampan antara Macron dan Trudeau
Masa depan Prancis di bawah kepemimpinan presiden baru
Jadi presiden, ini janji Emmanuel Macron untuk rakyat Prancis
Presiden baru Prancis digosipkan gay karena istri lebih tua
Ini sosok istri Presiden Emmanuel Macron yang 24 tahun lebih tua