Trump Akui Tujuan Operasi di Venezuela: Bukan Narkoba, tapi Minyak
Dalam konferensi pers di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump secara blak-blakan mengakui tujuannya adalah mengambil minyak Venezuela.
Penangkapan dramatis Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS) di Caracas akhir pekan lalu awalnya dibungkus dengan narasi "Perang Melawan Narkoba". Namun, tak butuh waktu lama bagi Presiden Donald Trump untuk membuka kartu sebenarnya.
Dilansir Aljazeera (4/1), retorika Washington yang selama berminggu-minggu berfokus pada pemberantasan aliran narkotika mendadak berubah arah. Bukti-bukti kuat, termasuk pernyataan Trump sendiri pasca-operasi, menunjukkan bahwa target utama AS bukanlah kokain, melainkan cadangan minyak terbesar di dunia yang terkandung di perut bumi Venezuela.
Pada awalnya, serangan Sabtu di Caracas digambarkan sebagai operasi anti-narkoba untuk menangkap "dua buronan yang didakwa" atas konspirasi terorisme narkoba. Namun, hanya beberapa jam setelah serangan yang menewaskan puluhan orang tersebut, narasi Trump berubah total.
China dan Rusia
Dalam konferensi pers di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump secara blak-blakan menyatakan bahwa AS akan "menjalankan negara" Venezuela untuk saat ini. Fokus utamanya membangun kembali infrastruktur minyak dan "mengambil sejumlah besar kekayaan dari dalam tanah" untuk dijual ke pasar global, bahkan termasuk ke negara saingan seperti China dan Rusia.
"Jika Anda ingat, mereka mengambil semua hak energi kita, mereka mengambil semua minyak kita belum lama ini. Dan kita menginginkannya kembali," ujar Trump, seperti dikutip Aljazeera, merujuk pada nasionalisasi industri minyak Venezuela di masa lalu yang mendepak perusahaan AS.
Harta Karun 303 Miliar Barel
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbukti sekitar 303 miliar barel, jumlah terbesar di dunia. Kekayaan inilah yang diyakini menjadi magnet sebenarnya bagi Gedung Putih.
Trump bahkan sesumbar bahwa cadangan minyak Venezuela ini nantinya akan digunakan untuk menutup seluruh biaya operasi militer AS dan mengganti "kerugian" yang diklaim telah ditimbulkan Venezuela terhadap AS.
Maduro sendiri sejak lama membantah terlibat narkoba dan konsisten menuduh tuduhan itu hanyalah "kuda troya" bagi Washington untuk menguasai sumber daya alam negaranya.
Peran Kunci
Menariknya, AS tidak berniat menduduki Venezuela selamanya, asalkan pemegang kekuasaan mau kooperatif soal minyak.
Saat ini, Wakil Presiden Delcy Rodriguez telah ditunjuk Mahkamah Agung Venezuela sebagai presiden sementara. Rodriguez memegang peran kunci karena merangkap sebagai Menteri Keuangan dan Menteri Perminyakan.
Trump secara mengejutkan mengisyaratkan kesediaan bekerja sama dengan Rodriguez jika ia "melakukan apa yang diinginkan AS". Sebaliknya, Trump justru menolak mendukung pemimpin oposisi pro-Barat, Maria Corina Machado, dengan alasan ia kurang mendapat "rasa hormat" dari rakyat.
Ancaman Bagi OPEC dan Iran
Jika AS berhasil mengontrol penuh keran minyak Venezuela, dampaknya akan mengguncang geopolitik energi global.
Meski infrastruktur minyak Venezuela saat ini rusak parah akibat sanksi dan salah urus hanya memproduksi 500.000 barel per hari (bpd) mantan penasihat ekonomi Venezuela, Francisco Rodriguez, memprediksi produksi bisa melonjak hingga 2,5 juta bpd dalam 3-5 tahun jika sanksi dicabut.
Bagi OPEC, ini adalah mimpi buruk. Masuknya pasokan minyak Venezuela di bawah kendali AS akan memberi Washington pengaruh besar untuk mengatur harga pasar, mengganggu keseimbangan yang selama ini dijaga OPEC. Hal ini juga akan memukul Iran dan Arab Saudi, yang berpotensi kehilangan pangsa pasar dan sekutu strategis di kawasan Amerika Latin.
Reporter magang: Muhammad Naufal Syafrie