Terduga pelaku bom Manchester dikenal santun dan saleh
Keluarga Salman dikenal baik di kalangan komunitas Libya di Manchester.
Kepolisian Inggris menyatakan mereka mencurigai seorang lelaki, Salman Ramadan Abedi (22), diduga sebagai pelaku bom bunuh diri, di konser penyanyi Ariana Grande di Manchester Arena, Manchester, Inggris, pada Selasa (23/5) lalu. Namun, warga setempat mengaku tidak yakin jika pemuda itu melakukan perbuatan merenggut nyawa banyak orang.
Dilansir dari laporan The Guardian, Rabu (24/5), menurut polisi sebenarnya Salman tidak masuk dalam daftar orang-orang dicurigai. Sama seperti Khalid Masud yang menjadi tersangka penyerangan di Westminster.
Meski orang tuanya berasal dari Libya, Salman lahir dan besar di Manchester. Di mata para tetangga dan komunitas orang-orang Libya di sana, dia dianggap sebagai pemuda santun dan saleh. Malah mereka menduga kalau pelaku teror itu adalah seorang lelaki yang pernah bertempur di Libya enam tahun lalu, kemudian mengalami gangguan kejiwaan ketika kembali ke Inggris dan menjadi mudah naik pitam.
"Enggak mungkin si Salman. Dia itu pendiam dan sopan kalau saya lihat. Saudaranya, Ismail, memang lebih terbuka. Saya rasa dia enggak mungkin melakukan itu," kata seorang anggota komunitas Libya di Manchester.
Keluarga Salman selalu beribadah di Masjid Didsbury. Sang ayah, Abu Ismail, adalah tokoh masyarakat di komunitas itu. Dia kerap menjadi imam salat dan muadzin. Bahkan menjadi guru mengaji. Dia bekerja jauh di Tripoli, Libya. Sedangkan Salman beserta kakak dan ibunya menetap di Manchester.
"Abu Ismail itu enggak pernah sepakat dengan ideologi jihad. Buat dia segala yang berbau jihad atau ISIS itu dianggap sebagai perbuatan jahat," ujar sumber itu.
Meski demikian, tidak semua berpandangan sama. Tetua Pusat Keislaman dan Masjid Didsbury, Muhammad Said, justru pernah mendapat perlakuan tidak mengenakkan oleh Salman. Hal itu terjadi dua tahun lalu. Ketika itu dia berkhutbah dengan tema mengkritik sepak terjang ISIS dan kelompok Ansar Al-Syariah di Libya. Setelahnya, kata dia, Salman memandang dengan tatapan tajam seolah penuh kebencian. Namun, dia mengaku pernyataannya ini juga bakal mengundang masalah. Bisa saja dia dicurigai sebagai mata-mata di komunitasnya.
"Saya harus bicara buat melindungi komunitas dan orang-orang tak bersalah," ucap Said.
Kepolisian Inggris juga sudah menggerebek tempat tinggal Salman di Jalan Elsmore, Fallowfield, selatan Manchester kemarin. Kabarnya mereka menyita sebuah bahan peledak dari sana. Lantas, rumah sang kakak, Ismail Abedi, di Chorlton, selatan Manchester, juga disatroni dan diduga kini Ismail ditahan.
Baca juga:
Salman Abedi diduga pelaku bom bunuh diri di Manchester
Ibu korban bom Manchester terpukul setelah tahu anaknya tewas
Inggris siaga satu usai teror bom, operasi khusus digelar
Toure beri sumbangan Korban bom Manchester
Serangan teror di Manchester buktikan kita menang lawan ISIS