Situs Nuklir Chernobyl Dikuasai Rusia, 137 Warga Ukraina Tewas
Zelenskyy mengatakan bahwa meskipun Rusia mengklaim hanya menyerang sasaran militer, situs sipil juga telah diserang.
Sebanyak 137 orang di Ukraina tewas dalam agresi militer yang dilancarkan Rusia. Demikian diungkap Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy dalam pidatonya di stasiun televisi nasional.
Zelenskiy mengatakan dia berkecil hati setelah berbicara dengan para pemimpin Barat.
"Saya tidak melihat siapa pun bertarung bersama Ukraina," katanya seperti dikutip dari live update Aljazeera, Jumat (25/2).
Zelenskiy mengatakan bahwa 137 warga sipil dan personel militer telah tewas sejauh ini dalam invasi Rusia, dan 316 orang lainya terluka. Dia menyebut mereka "pahlawan" dalam pidato video yang dirilis Jumat pagi di mana dia juga mengatakan ratusan orang lainnya terluka.
Zelenskyy mengatakan bahwa meskipun Rusia mengklaim hanya menyerang sasaran militer, situs sipil juga telah diserang.
"Mereka membunuh orang dan mengubah kota yang damai menjadi sasaran militer. Itu hal busuk dan tidak akan pernah dimaafkan," ucap Zelenskyy seperti dikutip dari Associated Press.
Presiden mengatakan semua penjaga perbatasan di Pulau Zmiinyi di wilayah Odesa tewas saat invasi Rusia hari pertama Kamis 24 Februari. Layanan penjaga perbatasan Ukraina pada hari sebelumnya melaporkan bahwa pulau itu dikuasai oleh Rusia.
Sementara itu, Ukraina mengatakan bahwa hampir 50 tentara Rusia telah tewas, AFP melaporkan.
Sementara itu, mengutip BBC dari pejabat Ukraina, pasukan militer Rusia dilaporkan telah menguasai pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl.
Penasihat Presiden Ukraina, Mykhailo Podoliak mengatakan "serangan yang sama sekali tidak berguna" pada hari Kamis merupakan "salah satu ancaman paling serius di Eropa saat ini".
Sebagai pengingat, sebuah ledakan di Chernobyl pada tahun 1986 menyebabkan bencana nuklir terburuk dalam sejarah manusia, baik dalam biaya dan korban.
Presiden Ukraina memperingatkan bencana seperti itu bisa terjadi lagi jika Rusia melanjutkan invasinya.
"Pembela kami memberikan hidup mereka sehingga tragedi 1986 tidak akan terulang," tulis Presiden Volodymyr Zelensky sebelumnya di Twitter.
"Ini adalah deklarasi perang melawan seluruh Eropa."
Kementerian Luar Negeri Ukraina juga telah memperingatkan kemungkinan "bencana ekologis lain" di lokasi tersebut.
"Zona eksklusi" Chernobyl - radius 32 km (19 mil) di sekitar pembangkit- sebagian besar tetap tanpa kehidupan 36 tahun setelah reaktor yang rusak menyebabkan ledakan besar di situs tersebut.
Tiga reaktor pembangkit lainnya, semuanya ditutup pada tahun 2000 dan sejak itu telah dinonaktifkan.
Tingkat radiasi di daerah itu tetap sangat tinggi sejak kebocoran 1986, yang dicatat dalam mini-seri HBO pada tahun 2019 yang membantu menjadikan situs itu sebagai objek wisata.
Pasukan Rusia dilaporkan memasuki zona eksklusi pada Kamis 24 Februari pagi sebelum menyeberang ke Ukraina.
Pasukan tersebut merupakan bagian dari "operasi militer khusus" Presiden Rusia Vladimir Putin di negara tetangga mereka.
Chernobyl terletak sekitar 130 km (80 mil) di utara ibu kota Kyiv dan dapat memberikan jalan masuk ke kota untuk pasukan penyerang.
Baca juga:
Penampakan Serpihan Rudal Rusia di Ibu Kota Ukraina
Rusia-Ukraina Tempur Berebut Pangkalan Udara Dekat Kiev, 100 Ribu Warga Mengungsi
Rusia Serang Ukraina, Rupiah Dibuka Menguat Tipis Rp14.383 per USD
Potret Rusia Lumpuhkan Puluhan Fasilitas Militer Ukraina
Komisi I DPR Minta Pemerintah Bergerak Cepat Lindungi WNI di Ukraina
74 Fasilitas Militer di Ukraina Hancur Diserang Rusia
Presiden Erdogan: Serangan Rusia ke Ukraina 'Pukulan Berat' Perdamaian Kawasan