Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Presiden Erdogan: Serangan Rusia ke Ukraina 'Pukulan Berat' Perdamaian Kawasan

Presiden Erdogan: Serangan Rusia ke Ukraina 'Pukulan Berat' Perdamaian Kawasan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy (kiri) dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. ©Kantor Pers Kepresidenan Ukraina

Merdeka.com - Tak lama setelah pasukan Rusia menyerang Ukraina pada Kamis subuh, Kedutaan Besar Ukraina di Ankara dengan cepat meminta bantuan kepada Turki.

"Federasi Rusia telah memulai sebuah perang terhadap Ukraina. Kota-kota penuh damai Ukraina sedang dibom. Kami menyerukan rekan strategis kami Turki dan rakyat Turki yang ramah untuk mendukung kami di masa sulit ini," tulis kedutaan besar Ukraina di Twitter, seperti dikutip dari Al Jazeera, Jumat (25/2).

Duta Besar Ukraina untuk Turki, Vasyl Bodnar juga meminta Ankara mencegah kapal-kapal Rusia melewati Selat Borphorus dan Dardanelle. Selat Borphorus terhubung dengan Laut Hitam dan Laut Marmara, sedangkan Selat Dardanelles terhubung dengan Laut Marmara dan Laut Aegea.

Pada Kamis, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga berbicara dengan timpalannya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, dan mengecam invasi Rusia ke Ukraina, menyebutnya "pukulan berat bagi perdamaian dan stabilitas kawasan".

"Kami menolak operasi militer Rusia," ujarnya dalam pidato televisi setelah menggelar rapat keamanan darurat.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Turki juga mengecam langkah Rusia mengakui kemerdekaan dua wilayah di Donbas, Ukraina timur yang memisahkan diri dari Kyiv.

"Keputusan Federasi Rusia untuk mengakui apa yang disebut republik Donetsk dan Luhansk, di samping berlawanan dengan Perjanjian Minsk, merupakan sebuah pelanggaran jelas kesatua politik dan integritas teritorial Ukraina. Keputusan Federasi Rusia tidak dapat diterima dan kami menolaknya," jelas kementerian dalam pernyataannya.

Presiden Zelenskiy juga berterima kasih pada Erdogan di Twitter, karena telah mendukung posisi Ukraina dalam keputusan provikatif Rusia.

Pada Rabu, Erdogan berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, menyampaikan bahwa Turki tidak terima langkah Putin mengakui kemerdekaan Donetsk dan Luhansk. Namun, dia memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Kita tidak bisa menyerah pada kedua (negara). Kita punya hubungan politik, ekonomi, dan militer dengan Rusia, dan kita juga menjalin hubungan politik, ekonomi, dan militer dengan Ukraina," kata Erdogan kepada wartawan saat kembali dari lawatannya ke negara-negara Afrika.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP