Presiden Iran Hasssan Rouhani bertekad tetap jual minyak meski dilarang AS
AS sebelumnya mengatakan akan mengizinkan sementara delapan importir untuk tetap membeli minyak dari Iran
Presiden Iran Hasssan Rouhani memutuskan untuk menentang sanksi pada sektor energi dan perbankan vital yang diberlakukan kembali oleh Amerika Serikat. Dia mengatakan akan tetap menjual minyaknya.
"AS ingin memotong penjualan minyak Iran, tetapi kami akan terus menjual minyak kami untuk menghentikan sanksi tersebut," kata Rouhani dalam sebuah forum ekonomi disiarkan langsung oleh televisi negara, dikutip dari Reuters, Senin (5/11).
"Musuh kita (AS) sengaja menargetkan ekonomi kita. Target ekonomi utama dari sanksi ini adalah rakyat kita," tambahnya.
AS sebelumnya mengatakan akan mengizinkan sementara delapan importir untuk tetap membeli minyak dari Iran. Negara-negara tersebut antara lain China, India, Korea Selatan, Jepang, dan Turki. Semua negara itu termasuk delapan negara yang diperkirakan akan diberikan pengecualian terhadap sanksi tersebut untuk memastikan harga minyak masih stabil.
Namun larangan itu kembali diberikan beberapa hari kemudian dengan tujuan memaksa Iran menghentikan kegiatan nuklir dan rudalnya.
Pada Mei lalu, Trump keluar dari perjanjian nuklir Iran pada 2015 lalu. Bersatu dengan enam kekuatan lain, AS kembali memberlakukan sanksi putaran pertama terhadap Iran pada Agustus lalu.
Baca juga:
Sanksi ekonomi untuk Qatar bisa dicabut di tengah kasus Jamal Khashoggi
Melihat satu-satunya rumah sakit Yahudi di Iran yang bergulat dengan sanksi AS
Ahli PBB sebut sanksi terhadap Iran 'tidak adil dan ambigu'
Uni Eropa janji akan bantu Iran soal Sanksi AS atas minyak
Hubungan makin memanas dengan AS, Iran beri dukungan kepada Turki
China akan tetap berbisnis dengan Iran meski diancam Donald Trump