Presiden Iran belum bisa penuhi tuntutan pengunjuk rasa
Presiden Iran, Hassan Rouhani, hanya berharap protes tidak mengarah kepada kerusuhan.
Presiden Iran, Hassan Rouhani, akhirnya buka suara empat hari setelah sekitar sepuluh ribu penduduknya menggelar unjuk rasa besar-besaran di sejumlah kota. Dia menyatakan tidak bisa melarang rakyatnya berdemonstrasi, tetapi dia beralasan mewujudkan aspirasi rakyatnya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Melalui siaran langsung televisi pada Minggu pekan lalu, Rouhani menyatakan unjuk rasa adalah hak rakyat yang tidak bisa dihalangi. Namun, dia hanya berharap protes tidak menjurus kepada kerusuhan, seperti dilansir dari laman Reuters, Senin (1/1).
"Kritik berbeda dari kekerasan dan merusak fasilitas publik. Menyelesaikan masalah tidak mudah dan butuh waktu. Pemerintah dan rakyat harus bahu membahu saling membantu mencarikan jalan keluar," kata Rouhani.
Rouhani juga menanggapi pernyataan dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui media sosial. Menurut dia, Trump tidak berhak turut campur atau bersimpati atas gejolak terjadi di Iran, karena menuding negara itu sebagai teroris beberapa waktu lalu.
Aksi unjuk rasa besar-besaran di Iran terjadi sejak Kamis pekan lalu. Demonstrasi itu lantas menyebar ke sejumlah kota lain, hingga Ibu Kota Tehran.
Para pengunjuk rasa mengusung sejumlah permasalahan dan aspirasi. Mereka mengkritik kepemimpinan Rouhani yang tetap bersikap represif terhadap lawan politik, perilaku korupsi, ekonomi, hingga kebijakan luar negeri Iran. Insiden serupa pernah terjadi pada 2009 lalu, ketika masa pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.
Kabarnya dua pengunjuk rasa tewas ditembak polisi. Pemerintah Iran juga menutup akses Internet, membuat sejumlah media sosial tidak beroperasi.
Walau demikian, ternyata pidato Rouhani belum mampu meredam gejolak aksi unjuk rasa di Iran. Massa demonstran terus berada di jalan menuntut aspirasi mereka didengar.
Aksi unjuk rasa terjadi di sejumlah kota di Iran seperti Izah, Karmansyah, Kharramabad, Shahinshahr, dan Zanjan. Di Kota Takestan, pendemo justru membakar sebuah pesantren dan gedung pemerintah setempat.
Demonstrasi itu bermula di Kota Mashhad. Mulanya mereka menuntut perbaikan ekonomi. Namun, aspirasi diusung lantas berubah menjadi menentang pemerintah. Kabarnya aparat keamanan sudah menangkap 200 demonstran di Tehran.
(mdk/ary)