Perjuangan bocah Suriah berjualan kartu pos demi bertahan hidup
Darwis dan Nasser adalah pengungsi asal Aleppo yang kini terdampar di Ibu Kota Libanon
Sulitnya kehidupan para pengungsi Suriah di Libanon, khususnya anak kecil, memaksa mereka untuk harus berjualan kartu pos hasil tangan sendiri kepada masyarakat sekitar. Jika sedang mujur, hasil jualan mereka tiap bulannya bisa mendulang untung sebesar USD 60 atau setara dengan Rp 785 ribu.
Pendapatan mereka diberikan untuk membantu perekonomian keluarga. "Kita harus bekerja agar bisa terus hidup, jika tidak bekerja kita tidak bisa hidup," kata Mohamed Ali Darwish bocah 9 tahun seorang penjual gambar tangan kartu pos.
Serupa dengan Ali, Nasser Darwish yang masih berusia 11 tahun adalah saudaranya sekaligus rekan kerjanya. Tugasnya adalah menggambar dan mencari bentuk unik yang nantinya dijual oleh Ali.
Mereka mengaku kehilangan masa kecil dan rasa hangat di dalam rumah saat harus meninggalkan Aleppo.
"Apa anda pikir meninggalkan negara akan lebih menyenangkan?" kata Nasser, seperti dikutip dalam video stasiun TV Al Jazeera, Kamis (14/7).
Saat ini terdapat sat juta lebih orang pengungsi Suriah di Libanon. Kebanyakan dari mereka hanya ingin dapat kembali ke rumah.
Baca juga:
Temukan uang Rp 2 miliar, pengungsi Suriah ini kembalikan ke pemilik
Meratapi bocah korban perang Suriah sekolah di dalam gua
UNHCR: Jumlah pengungsi global terburuk sejak Perang Dunia II
Larang pengungsi datang lagi, pejabat oposisi Jerman dilempar kue
Ibrahim, pengungsi Suriah yang sukses membuka usaha di Eropa
Menengok kehidupan anak-anak pengungsi Suriah di Judaidah Artus
Kabar dari Suriah: Menyusuri ibu kota negeri pengungsi