Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kabar dari Suriah: Menyusuri ibu kota negeri pengungsi

Kabar dari Suriah: Menyusuri ibu kota negeri pengungsi Pemandangan Damaskus dari atas bukit. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Tapak waktu baru beranjak dini hari ketika melongok jendela pesawat di bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Di luar masih gelap, hanya terlihat cahaya samar dari lampu-lampu landasan pacu buat menerangi jelang sepertiga malam.

Saat itu Sabtu 23 April 2016. Wartawan merdeka.com Pandasurya berkesempatan meliput langsung situasi Suriah. Ibu Kota Damaskus, tujuan utama, ditempuh melalui jalur darat setibanya di Beirut, Libanon. Laporan dari Suriah akan diturunkan berseri.

Mendengar kata Suriah, wajar jika orang langsung membayangkan kecamuk perang, konflik, ISIS. Bukan itu saja, satu kata lagi boleh ditambahkan: pengungsi. Di mana ada perang niscaya ada pengungsi. Dari konflik Suriah pecah Maret 2011, sudah 4,7 juta penduduk terdaftar sebagai pengungsi di beberapa negara tetangga, sebagian lagi menyeberang ke Benua Biru Eropa. Mereka bukan sekadar angka.

****

"Good evening, sir," kata pramugari berwajah bule ketika menyambut kami masuk ke dalam kabin pesawat beberapa menit sebelum terbang. Kulitnya putih, parasnya cantik, suaranya renyah, ramah.

Tak lama setelah lepas landas, sayup-sayup terdengar suara awak kabin yang mengatakan pesawat Emirates yang kami tumpangi memiliki kru dari 14 negara dan menguasai 10 bahasa. Seorang pramugari berwajah Asia sempat menyapa saya dalam bahasa Indonesia. Meski berasal dari maskapai Uni Emirat Arab, pramugari-pramugari di pesawat ini seluruhnya berwajah Asia dan Barat, tak ada yang bertampang Arab.

Selanjutnya perjalanan dilalui dengan pemandangan luar jendela sepenuhnya berwarna hitam. Lampu kabin diredupkan. Orang-orang mulai memejamkan mata. Sebagian masih berkutat dengan menu hiburan layar sentuh di punggung kursi depan. Kelihatannya orang lebih memilih menu mononton film atau mendengarkan musik ketimbang membaca buku digital.

Duduk di kelas ekonomi dengan perjalanan tujuh jam mengudara adalah penderitaan tersendiri. Ruang gerak sangat terbatas. Bahu kiri kanan rapat. Meski jarak antara lutut dengan punggung kursi di depan tidak sebiadab metromini, tetap saja rasanya jauh dari nyaman. Mungkin itu juga yang jadi alasan orang lebih memilih mencoba tidur buat mengusir ketidaknyamanan.

Tidak banyak pergerakan pesawat selama perjalanan. Bahkan terasa hampir seperti diam, hanya suara deru mesin pesawat yang membuat telinga seperti terkatup. Sesekali pesawat bergetar kecil menandakan sedang menembus negeri awan.

Pengumuman dari ruang pilot selalu dalam tiga bahasa: Arab, Inggris, kemudian Indonesia.

****

Waktu di jam tangan saya menunjukkan pukul 08.30 ketika burung besi yang kami tumpangi mendarat di Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab. Tapi pemandangan di luar jendela pesawat masih gelap. Dari pengumuman awak kabin, waktu Dubai adalah pukul 05.30. Jam tangan saya masih waktu Jakarta dan mata ini masih perih karena kurang tidur.

Kami berempat harus transit selama dua jam untuk selanjutnya menuju Beirut, Libanon, dengan berganti pesawat. Dari sana kami akan menuju Ibu Kota Suriah, Damaskus, lewat jalan darat.

Di bandara Dubai yang luas ini kami harus berjalan kaki cukup jauh untuk mencapai gate C 19 tempat kami akan masuk pesawat. Entah berapa depa jaraknya dan entah berapa ratus kali kami harus melangkahkan kaki dengan mata perih untuk mencapai gate itu. Barangkali ada hampir dua kilometer harus kami tempuh.

Dari keterangan di belakang tiket, tertera jarak dari gate A ke gate C ditempuh 20 menit dengan berjalan kaki dan 15 menit dengan mobil khusus bandara. Ah seandainya ada ojek online di sini. Dengan langkah mulai gontai, akhirnya bokong kami mendarat juga di kursi tunggu gate C 19.

Setelah beberapa menit dari pukul 06.30, suara pengumuman dalam bahasa Arab dan Inggris mengatakan penumpang boleh mulai mengantre masuk pesawat. Petugas memperlihatkan wajah curiga ketika melihat visa Suriah di paspor kami. Beberapa kali dia bergantian melihat ke paspor, visa, lalu wajah kami.

"Anda mau ke Suriah atau ke Libanon?" tanya lelaki muda berwajah Arab, berkulit putih dan berkacamata itu dalam bahasa Inggris. Tidak lain tidak bukan, pasti dia khawatir kami orang Indonesia simpatisan jihadis yang ingin bergabung jadi militan ISIS.

Saya menjawab kami mau ke Suriah. Seorang rekan menambahkan, kami berempat sama-sama akan ke Suriah melalui Libanon.

"Visa Libanonnya mana?" kata dia lagi. Kami menunjukkan visa Libanon di dalam paspor yang sepertinya luput tidak dia lihat.

Setelah itu dia menyuruh kami menunggu. Lalu dia berjalan ke meja di belakangnya beberapa langkah dari kami berdiri. Dia menelepon seseorang.

Kami menunggu dengan perasaan khawatir akan ada masalah. Seandainya dia menghubungi intelijen atau petugas keamanan, habislah kami. Urusan bakal panjang. Tak ada orang KBRI akan membantu kami di bandara Dubai ini. Kami baru akan dijemput ketika sampai di bandara Beirut.

"Ini pasti karena kita mau ke Suriah nih," kata seorang kawan sesama wartawan.

"Kalau ada apa-apa kita akan kontak ke nomor KBRI Abu Dhabi," kata saya kepada teman-teman sambil memperlihatkan nomor kantor KBRI di ponsel. Padahal kami tahu, ponsel kami tak bisa digunakan karena kartunya lokal dan hanya bisa mengandalkan sinyal WiFi gratis. Paling tidak kami punya nomor tempat mengadu di negeri antah berantah ini.

Hitungan menit terasa seperti penentuan nasib bagi kami, lanjut atau berhenti, terus atau tidak sama sekali. Dia berjalan menghampiri kami. Semua aman, katanya. Kami boleh naik pesawat. Rasa lega berkumandang di dalam dada. Beirut bersiaplah, kami datang.

Ahlan wa sahlan.

(mdk/eko)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP