Penganut Kristen di Timur Tengah menurun drastis
Berakhirnya era Saddam Hussein di Irak membuat kondisi warga Kristen kian memburuk.
Berdasarkan laporan Pusat Penelitian Pew (lembaga riset), umat Nasrani di Timur Tengah saat ini tengah mengalami pembunuhan secara besar-besaran.
Perang saudara di Suriah, munculnya kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), konflik di Libya, Afrika Utara, serta meningkatnya gelombang anti-Kristen di Iran dan Turki, membuat warga Nasrani mengungsi secara besar-besaran dari Timur Tengah. Namun sebagian dari mereka mengalami yang terburu: dijadikan budak atau dibantai.
Pekan lalu the New York Times menurunkan artikel yang mengisahkan sekitar sepetiga dari 600 ribu warga Kristen Suriah di Timur Tengah mengungsi ke luar negeri dan sekitar sepertiga dari 1,5 juta warga Kristen Irak masih bertahan.
"Keberadaan kekristenan saat ini sedang dalam ancaman," kata Anna Eshoo, anggota parlemen Amerika Serikat dari Partai Demokrat, seperti dilansir koran Haaretz, Selasa (28/7). Anna juga adalah pengacara bagi warga Nasrani di Timur Tengah.
Laporan teranyar dari koran the Guardian menyatakan pembunuhan terhadap kaum Nasrani buakn dimulai sejak munculnya ISIS, tapi sejak sepuluh tahun lalu ketika Amerika Serikat, Inggris, menginvasi Irak.
Sebelum invasi itu datang, di bawha kepemimpinan Saddam Hussein, umatg Kristen justru mencapai masa keemasan. Mereka diberi kebebasan beribadah dan berperan banyak di tengah masyarakat.
Namun berakhirnya era Saddam Hussein membuat kondisi warga Kristen kian memburuk.
Israel dan Libanon di Timur Tengah saat ini menjadi negara yang paling membuat warga Kristen senang. Di kedua negara itu mereka bebas menjalankan ibadah agama dan tidak dibunuhi. Namun jumlah penganut Kristen di Libanon menurun drastis dari 78 persen menjadi hanya 34 persen dalam seabad belakangan.
Laporan dari Pew juga menyebutkan selepas 2050 nanti jumlah penganut muslim di seluruh dunia akan lebih banyak ketimbang penganut Kristen.
Baca juga:
Dicabutnya sanksi nuklir Iran guncang ekonomi Rusia & Arab Saudi
Arab Saudi tak suka Iran diizinkan punya teknologi nuklir
Iran resmi diizinkan punya nuklir, Israel kalang kabut
Negosiasi dengan 6 negara tuntas, Iran resmi diizinkan punya nuklir