LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

"Mereka Menembak di Kepala tapi Mereka Tidak Tahu Revolusi Bersemayam Dalam Hati"

Penyair Myanmar, Khet Thi, yang karya-karyanya mengandung perlawanan terhadap kekuasaan junta, meninggal di dalam penjara dan jasadnya dikembalikan dengan organ yang telah diambil.

2021-05-10 10:00:00
Kudeta Militer Myanmar
Advertisement

Penyair Myanmar, Khet Thi, yang karya-karyanya mengandung perlawanan terhadap kekuasaan junta, meninggal di dalam penjara dan jasadnya dikembalikan dengan organ yang telah diambil. Hal ini diungkapkan keluarganya pada Minggu (9/5).

Seorang juru bicara junta tidak menjawab telepon untuk meminta komentar terkait kematian Khet Thi, yang terkenal dengan bait puisinya, “Mereka menembak di kepala, tapi mereka tidak tahu revolusi bersemayam di dalam hati.”

Halaman Facebook-nya menyebut Khet Thi berusia 45 tahun.

Advertisement

Istri Khet Thi menyampaikan, mereka berdua dijemput untuk interogasi pada Sabtu oleh tentara dan polisi bersenjata di pusat kota Shwebo, wilayah Sagaing – pusat perlawanan kudeta di mana pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi digulingkan.

“Saya diinterogasi. Begitu juga dia. Mereka bilang dia berada di pusat interogasi. Tapi dia tidak kembali, hanya jasadnya,” kata istrinya, Chaw Su kepada BBC berbahasa Burma dari Monywa, sekitar 100 kilometer perjalanan darat.

“Mereka menelpon saya pada pagi hari dan meminta saya bertemu dengannya di rumah sakit di Monywa. Saya pikir itu sekadar patah lengan atau semacamnya. Tapi ketika saya tiba di sini, dia di kamar mayat dan organ dalamnya diambil,” lanjutnya, seperti dikutip dari The Straits Times, Senin (10/5).

Advertisement

Di rumah sakit dia diberi penjelasan suaminya memiliki masalah jantung, tapi tidak mau repot-repot membaca akta kematian karena dia yakin itu tidak benar.

Chaw Su menyampaikan tentara berencana memakamkan suaminya tapi dia memohon diserahkan jasad suaminya. Dia tidak menjelaskan bagaimana dia mengetahui organ tubuh suaminya telah diambil.

“Dia meninggal di rumah sakit setelah disiksa di pusat interogasi,” kata Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) dalam sebuah buletin yang mencantumkan jumlah kematian warga sipil sejak kudeta yaitu 780.

AAPP, yang memantau pembunuhan dan penangkapan, tidak menyebutkan sumber informasinya.

Khet Thi merupakan satu dari tiga penyair yang meninggal selama unjuk rasa anti kudeta. Khet Thi merupakan kawan dari K Za Win (39), penyair yang ditembak mati dalam sebuah unjuk rasa di Monywa pada awal Maret.

Khet Thi merupakan seorang insinyur sebelum keluar dari pekerjaannya pada 2012 untuk fokus menulis puisi dan menggantungkan penghasilannya dari membuat dan menjual es krim dan kue.

“Saya tidak ingin jadi pahlawan, saya tidak ingin menjadi seorang martir, saya tidak ingin menjadi seorang yang lemah, saya tidak ingin menjadi orang yang bodoh,” tulisnya dua pekan setelah kudeta.

“Saya tidak ingin mendukung ketidakadilan. Jika saya hanya punya satu menit untuk hidup, saya ingin kesadaran saya jernih untuk semenit itu.”

Baca juga:
Junta Militer Myanmar Sebut Pemerintahan Tandingan sebagai Kelompok Teroris
Militer Myanmar Lenyapkan Anak-Anak Muda untuk Menggilas Gerakan Pro Demokrasi
Pemerintah Bayangan Myanmar Bentuk Pasukan Pertahanan Rakyat
Aktivis Myanmar Pantang Bungkam di Tengah Ancaman Pidana dan Kekerasan Junta Militer
Pemberontak Myanmar Klaim Tembak Jatuh Helikopter Militer
Lagi, Delapan Orang Tewas dalam Kekerasan Terbaru Terhadap Demonstran di Myanmar

(mdk/pan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.