Menteri Israel Akui Gagal Bunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei
Saat menyerang Iran pada 13 Juni, Israel membunuh sejumlah komandan militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil Iran.
Saat melancarkan agresi ke Iran, salah satu tujuan Israel adalah membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Namun upaya ini gagal dilakukan, seperti diakui Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.
Katz menyampaikan dalam sebuah wawancara, Tel Aviv bakal membunuh Khamenei selama perang 12 hari tersebut “jika memungkinkan.”
“Saya memperkirakan bahwa jika Khamenei menjadi sasaran kami, kami akan menghabisinya,” kata Katz, dikutip dari The Cradle, Jumat (27/6).
“Namun Khamenei memahami hal ini, bersembunyi hingga ke kedalaman yang sangat dalam, dan memutuskan kontak dengan para komandan yang menggantikan para komandan yang disingkirkan, jadi pada akhirnya hal itu tidak realistis,” klaimnya.
Israel menyerang Iran pada 13 Juni, memicu perang selama 12 hari. Dalam serangan tersebut, Israel membunuh sejumlah komandan militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil Iran.
Beberapa jam setelah serangan, Iran membalas dengan menembakkan serentetan rudal, menghancurkan sejumlah situs militer dan intelijen penting di Israel.
Sebelumnya Khamenei dilaporkan bakal mencari penggantinya menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump untuk bergabung dengan Israel untuk menyerang situs nuklir Iran.
Dikutip dari New York Times, Senin (23/6) Khamenei menunjuk tiga ulama senior sebagai kandidat untuk menggantikannya sebagai pemimpin tertinggi, jika ia terbunuh.
Dalam laporan tersebut, Khamenei menginstruksikan Majelis Ahli Iran, yang bertugas menunjuk seorang pemimpin tertinggi, untuk segera memilih penggantinya dari tiga nama yang ia berikan.
Menurut konstitusi di Iran, apabila pemimpin tertinggi wafat, maka Majelis Ahli sebagai lembaga ulama beranggotakan 88 orang harus memilih pengganti. Proses ini baru pernah terjadi sekali sejak Revolusi Islam 1979, yakni ketika Khamenei sendiri menggantikan Ayatollah Khomeini pada 1989.