Mengungkap kerja sama AS dengan Al-Qaidah di Yaman
Mengungkap kerja sama AS dengan Al-Qaidah di Yaman. Selama dua tahun terakhir pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang didukung Amerika Serikat mengklaim sejumlah kemenangan dengan memukul mundur militan Al-Qaidah dari Yaman dan melumpuhkan kekuatan mereka untuk menyerang negara Barat.
Selama dua tahun terakhir pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang didukung Amerika Serikat mengklaim sejumlah kemenangan dengan memukul mundur militan Al-Qaidah dari Yaman dan melumpuhkan kekuatan mereka untuk menyerang negara Barat.
Temuan kantor berita the Associated Press mengatakan, satu hal yang tidak diungkap ke publik adalah seringkali militan Al-Qaidah menyerah tanpa melepaskan satu tembakan sekalipun. Hal itu terjadi karena pasukan koalisi membuat perjanjian rahasia dengan para militan Al Qaidah, membayar sebagian dari mereka untuk meninggalkan kota-kota kunci dan membiarkan mereka mundur dengan membawa persenjataan, peralatan, dan uang hasil menjarah. Ratusan lainnya bahkan diajak bergabung dengan pasukan koalisi.
Dilansir dari laman AP, Senin (6/8), hasil kompromi dengan pasukan AS itu membuat Al-Qaidah bisa bertahan dan memperkuat jaringan mereka di Yaman. Dalam perjanjian yang disepakati dengan AS itu juga dikatakan serangan pesawat nirawak (drone) dari pasukan koalisi akan dibatalkan.
Kesepakatan yang diungkap AP ini menggambarkan dua kepentingan AS yang saling bertolak belakang di Yaman.
Di satu sisi AS bekerja sama dengan sekutu Arab, terutama Uni Emirat Arab dengan tujuan menghabisi kelompok Al-Qaidah di Yaman yang lebih dikenal dengan nama AQAP. Namun agenda lebih besar dari AS adalah memenangkan perang melawan kelompok pemberontak Huthi yang didukung Iran. Dalam perang melawan Huthi ini Al-Qaidah praktis berada di kubu yang sama dengan pasukan koalisi Saudi didukung AS.
"Di dalam militer AS sudah jelas mereka tahu apa yang dilakukan di Yaman adalah membantu AQAP dan ada kekhawatiran soal itu," kata Michael Horton, pengamat terorisme dari Yayasan Jamestown.
"Namun mendukung UEA dan Kerajaan Arab Saudi dalam melawan pengaruh Iran lebih utama dibanding memerangi AQAP atau bahkan membuat Yaman stabil," kata Horton.
pemberontak huthi di yaman ©Reuters
Termuan AP ini didasarkan pada hasil liputan di Yaman melalui serangkaian wawancara dengan puluhan pejabat, termasuk dari petugas keamanan Yaman, komandan milisi, juru runding kelompok suku, dan empat cabang Al-Qaidah di Yaman.
Kelompok milisi didukung pasukan koalisi kerap merekrut militan Al-Qaidah untuk memperkuat pasukan mereka.
Salah satu komandan lapangan asal Yaman yang masuk dalam daftar terorisme AS karena punya hubungan dengan Al-Qaidah tahun lalu juga hingga kini masih menerima sumbangan dana dari UEA untuk operasional pasukan milisinya. Kabar itu diungkap langsung dari orang dekat si komandan kepada AP. Seorang komandan lain belum lama ini menerima sumbangan dana USD 12 juta dari presiden Yaman untuk operasional pasukannya.
Belum lama ini Pentagon membantah tudingan soal bekerja sama dengan militan Al-Qaidah.
"Sejak awal 2017, kami sudah melancarkan serangan udara sebanyak lebih dari 140 kali untuk menyingkirkan para pentolan AQAP dan mencegah upaya mereka merekrut anggota di lapangan untuk menyerang AS dan sekutu kami di kawasan," kata juru bicara Pentagon Sean Robertson dalam surat elektronik kepada AP.
Pengamat dari Institut American Enterprise, Katherine Zimmerman, mengatakan AS tak bisa lepas dari konflik di Yaman.
"Memang tidak masuk akal, AS menganggap Al-Qaidah sebagai ancaman, tapi mereka punya kepentingan yang sama di Yaman dan di bagian tertentu kedua saling bertolak belakang," kata Zimmerman.
Baca juga:
Iran cemas Saudi gunakan dana haji buat perang di Yaman
Pria Yaman bunuh diri karena aturan Trump melarang keluarganya masuk AS
Arab Saudi hentikan pengiriman minyak melalui Laut Merah
Pertempuran 6 hari, porak-porandakan kota pelabuhan di Yaman
Arab Saudi dan sekutunya kembali gempur Kota Hodeidah
DK PBB minta Arab Saudi dan koalisi hentikan serangan ke pelabuhan di Yaman