LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Mantan Kepala CIA: Donald Trump boneka Rusia

Trump beberapa kali secara terbuka mengaku mengidolakan kebijakan Vladimir Putin

2016-08-06 14:17:00
Donald Trump
Advertisement

Mantan Kepala Badan Pusat Intelijen Amerika Serikat (CIA), Michael Morell, mengkritik rencana kebijakan domestik maupun luar negeri calon presiden Donald Trump. Pejabat intelijen senior ini menyebut gagasan Trump hanya akan menguntungkan negara-negara rival, terutama Rusia, seperti dilansir Channel News Asia, Sabtu (6/8).

Morell menuding Trump tidak seharusnya memuji-muji Presiden Vladimir Putin tanpa dasar di pelbagai kesempatan. Sang capres Partai Republik itu memang tercatat pernah memuji ketegasan Putin, mengapresiasi kebijakan perdagangan Rusia, serta menginginkan AS dipimpin dengan gaya Moskow.

"Dalam dunia intelijen, kami akan bilang Putin sudah berhasil merekrut Trump sebagai boneka Federasi Rusia," kata Morell dalam tulisannya untuk surat kabar the New York Times edisi kemarin.

Advertisement

Morell adalah agen rahasia yang sudah berkarir 33 tahun, sebelum akhirnya memimpin CIA pada 2011. Dia menjadi intelijen di bawah presiden Republikan maupun Demokrat. Menurutnya, tak ada capres AS selama karirnya yang lebih berbahaya daripada Trump.

"Kebijakan dan visi (Trump) bisa membahayakan keamanan nasional kita," kata Morell.

Trump sedang mendapat serangan dari pelbagai kubu, tak terkecuali rekan-rekannya sesama anggota Partai Republik. Pekan lalu sang konglomerat kasino itu melecehkan orang tua tentara muslim AS. Berikutnya, Trump mengusir ibu yang membawa dua bayi karena menangis di tengah kampanye.

Advertisement

Kini, mantan kepala CIA pun menyerang menuding Trump tidak pantas menjadi Presiden Negeri Adi Daya itu. Jajak pendapat menunjukkan pesaing Trump, Hillary Clinton, unggul 15 basis poin. Jika pemilu presiden AS digelar pekan ini, maka Hillary akan meraup 48 persen dukungan, sedangkan Trump mendapat 33 persen.

Di negara bagian basis pendukung Partai Republik, dukungan Trump pun menurun selama sepekan terakhir.

Baca juga:
Donald Trump menuding Hillary adalah pendiri sesungguhnya ISIS
Fakta-fakta mengejutkan tentang Melania, istri Donald Trump
Obama sebut Trump tidak pantas jadi presiden AS
Trump dituding berkhianat pada Rusia, tak pantas jadi presiden AS
Mengapa Donald Trump minta hacker Rusia serang Amerika?
Lima kecaman pedas Obama kepada Donald Trump

(mdk/ard)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.