Lebih Banyak Warga AS Meninggal karena Covid-19 Ketimbang Pandemi Flu 1918
Data Universitas Johns Hopkins menunjukkan 675.722 kematian akibat virus corona di AS pada Jumat. Angka itu melampaui 675.000 kematian AS selama wabah influenza yang dimulai pada tahun terakhir Perang Dunia I.
Terlepas dari satu abad kemajuan dunia medis, lebih banyak orang Amerika yang meninggal karena Covid-19 daripada mereka yang meninggal pada pandemi flu 1918. Demikian dilaporkan data dari Universitas John Hopkins pada Jumat lalu.
Dilansir dari laman AFP, Selasa (21/9), AS kini tengah mengalami gelombang keempat pandemi Covid-19 akibat varian Delta yang sangat menular dan rendahnya vaksinasi di beberapa daerah sebagai penyebab utama kematian.
Data Universitas Johns Hopkins menunjukkan 675.722 kematian akibat virus corona di AS pada Jumat. Angka itu melampaui 675.000 kematian AS selama wabah influenza yang dimulai pada tahun terakhir Perang Dunia I.
Semua orang mengatakan, sekitar 50 juta orang tewas di seluruh dunia dalam pandemi flu – terkadang secara tidak akurat disebut sebagai "flu Spanyol" – peristiwa ini menjadi paling mematikan dalam sejarah manusia, menurut ahli epidemiologi.
Kematian saat pandemi flu 1918 melebihi kematian global Covid-19 saat ini yaitu sekitar 4,7 juta jiwa.
Dari angka kematian global tersebut 14 persen di antaranya terjadi di AS.
Populasi Amerika pada tahun 1918 kurang dari sepertiga dari jumlah populasi yang sekarang, yang berarti kematian akibat flu akan setara dengan sekitar 2,2 juta dalam keadaan saat ini.
Tidak seperti influenza saat ini, yang paling berdampak pada anak-anak dan orang tua, flu 1918 menyebabkan kematian yang sangat tinggi pada orang dewasa muda.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, tanpa adanya vaksin dan antibiotik pada masa pandemi flu 1918 itu, upaya pengendalian sangat terbatas. Hal ini termasuk isolasi, karantina, kebersihan diri yang baik, penggunaan disinfektan, dan pembatasan pertemuan publik.
Banyak tindakan yang sama, termasuk memakai masker disarankan ketika pandemi Covid dimulai.
Bagaimanapun, sekarang ada juga beberapa vaksin yang aman dan sangat efektif yang dikembangkan dan diuji dalam waktu singkat —tetapi 24 persen orang dewasa AS, atau hampir 60 juta, belum mendapatkan dosis pertama.
Reporter magang: Ramel Maulynda Rachma
Baca juga:
Pfizer/BioNTech Klaim Vaksin Buatannya Aman dan Melindungi Anak 5-11 Tahun
India Catat 30 Ribu Lebih Kasus Baru Covid-19 Hanya dalam 24 Jam
Perlindungan yang Diberikan Vaksin Covid Moderna Bertahan Lebih Lama Daripada Pfizer
Lacak Asal Usul Corona, Peneliti Kamboja Swab Kelelawar
Australia Secara Bertahap Mulai Hidup Berdampingan dengan Covid-19
Apakah Suntikan Booster atau Dosis Ketiga Vaksin Covid-19 Benar-Benar Diperlukan?
3000 Nakes Prancis Kena Skors karena Belum Divaksin Covid-19
China Gencarkan Pelacakan Covid-19 Seusai Munculnya 19 Kasus Lokal Baru
Moderna: Efektivitas Vaksin Berkurang Seiring Waktu, Perlu Dosis Tambahan
China Telah Memvaksinasi Penuh 1 Miliar Penduduknya untuk Lawan Covid-19