Kubu pro-Brexit unggul di hitung cepat, nasib Uni Eropa suram
Nilai tukar Pound Sterling dan saham Britania rontok. Pemilih lepas dari Uni Eropa mencapai 51 persen
Hasil hitung cepat lebih dari lima lembaga survei menunjukkan terjadi perubahan sikap pemilih beberapa jam sebelum referendum Britania Raya. Hasilnya, kubu 'enyah' yang mendukung Agenda Britania meninggalkan Uni Eropa, berbalik unggul.
Dalam perkembangan terbaru yang dilansir Telegraph, the Guardian, maupun Mirror, Jumat (24/6) dini hari waktu setempat, hasil hitung cepat memperkirakan kubu 'enyah' unggul 12 poin dibanding kelompok 'bertahan'. Perbedaan poin ini setara 500 ribu suara.
Suara masuk sejauh ini yang mendukung agenda Brexit mencapai 51,5 persen. Sedangkan kubu menolak Brexit tertinggal dengan 48,5 persen.
Nigel Farage, Ketua Partai Britania Independen (UKIP), menyatakan kelompoknya yang mendukung Brexit sudah mencium kemenangan. "Fajar telah tiba bagi Britania. Inilah kemenangan rakyat biasa," kata politikus sayap kanan ekstrem itu.
Perdana Menteri Inggris David Cameron terancam akan dilengserkan oleh partainya jika kubu 'enyah' menang.
Politikus partai Buruh, yang mendukung Uni Eropa, juga melihat tipisnya peluang kelompok 'bertahan' bisa menang referendum. "Situasinya sekarang sulit. Bagi rezim Cameron maupun bagi para pendukung Uni Eropa," kata Hillary Ben, Menteri Luar Negeri Bayangan Partai Buruh.
Inggris tidak bisa keluar kemudian bergabung lagi dengan Uni Eropa selama-lamanya. Lepasnya Britania diprediksi membuat konflik Uni Eropa semakin runyam, akhirnya membubarkan organisasi multilateral diikuti 28 negara tersebut.
Kejutan berasal dari pemilih kawasan Inggris Tengah. Di Kota Sunderland, pemilih pro-Brexit mencapai 61,3 persen, lebih tinggi dari perkiraan nyaris semua lembaga survei. Kejutan lainnya berasal dari Kota Sheffield yang ternyata dimenangkan kubu 'enyah' mencapai 80 persen, di luar perkiraan semua orang. Sejauh ini 116 kota-distrik memilih keluar dari Uni Eropa, sedangkan baru 51 wilayah mendukung Britania tetap bertahan.
Pemilihan ini melibatkan warga Inggris, Wales, Irlandia Utara, serta Skotlandia. Hanya Skotlandi yang konsisten mendukung Britania tetap di Uni Eropa.
Melihat condongnya hasil pemilihan pada kemungkinan kubu 'enyah' menang, pasar dunia bereaksi. Nilai tukar Pound Sterling melemah 8 persen ke level terendah lima tahun terakhir. Setali tiga uang, nilai tukar Euro diperkiran anjlok 2 persen.
Saham-saham perusahaan Britania Raya turut anjlok. Rata-rata saham perusahaan Inggris di bursa dunia anjlok 2,5 persen.
Baca juga:
Inggris tak bisa lagi gabung Uni Eropa jika sudah memilih keluar
Survei terakhir, kubu Brexit diprediksi menangi referendum
Inggris gelar referendum keluar dari Uni Eropa, ini daftar dampaknya
Anggota parlemen Inggris ditembak mati, diduga terkait referendum
Video wanita hilang mendadak di speedboat picu debat netizen dunia