Konflik tak kunjung selesai, 31 warga Marawi tewas di pengungsian
Mereka kebanyakan meninggal karena diare dan kekurangan cairan. Sementara stok obat-obatan menipis.
Keadaan para pengungsi dari Kota Marawi, Provinsi Lanao del Sur, Wilayah Otonomi Muslim Mindanao, Filipina, semakin menyedihkan akibat konflik berkepanjangan. Kabarnya, 31 orang pengungsi meninggal akibat beragam penyakit.
Menurut kepala Kantor Layanan Kesehatan Terpadu Provinsi, Alinader Minalang, delapan pengungsi meninggal akibat diare dan kekurangan cairan. Lainnya karena paru-paru basah, dan infeksi dalam darah.
Beberapa penyakit muncul di lokasi pengungsian warga korban konflik Marawi antara lain infeksi saluran pernapasan akut, penyakit kulit, darah tinggi, dan demam. Celakanya, persediaan cairan infus, antiobiotik, dan tablet penjernih air menipis, seperti dilansir dari laman abs-cbn, Kamis (6/7).
"Dari catatan kami banyak bayi dan anak-anak yang kekurangan nutrisi karena kini bergantung pada bantuan. Kondisi itu juga terjadi pada orang dewasa," kata Minalang.
Karena buruknya kondisi kebersihan, fasilitas medis di kamp pengungsian di Saguiaran tidak pernah sepi dari pasien. Orang tua yang anak-anaknya sakit hanya bisa pasrah dengan pelayanan dan obat-obatan terbatas. Sebab mereka tak sanggup berobat ke rumah sakit karena tak punya uang.
Pertikaian bersenjata di Kota Marawi antara pemerintah Filipina dan militan pro Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sudah memasuki hari ke-44. Jumlah pengungsi mencapai 299,183 orang atau sekitar 63 ribu keluarga.
Baca juga:
Duterte dianggap labil dan bikin konflik Marawi berkepanjangan
Polisi waspadai teror ISIS ingin ubah Jakarta seperti Marawi
Pasukan Filipina bekuk bendahara pengganti kelompok Maute di Marawi
Filipina minta bantuan TNI tumpas militan ISIS di Marawi
Anggota DPR sebut UU tak mengatur TNI bertempur untuk Filipina
MILF terbitkan fatwa perangi ISIS