Konflik Iran-AS Memanas, Menlu Retno Minta Kedua Negara Menahan Diri
Indonesia merespons kondisi terkini di kawasan itu dengan menggelar rapat koordinasi dengan Duta Besar (Dubes) Iran, Irak, dan PTRI New York. Demikian disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno LP Marsudi, Rabu (8/1).
Konflik Iran-Amerika Serikat (AS) dalam sepekan terakhir memanas setelah pembunuhan Panglima Pasukan Garda Revolusi Iran, Qassim Sulaimani. Sulaimani dibunuh atas perintah Presiden AS, Donald Trump dalam sebuah serangan drone di Bandara Internasional Baghdad, Jumat, (3/1).
Iran pun bersumpah akan membalas dendam atas serangan tersebut. Pagi ini Iran dikabarkan melakukan serangan udara ke pangkalan militer pasukan AS yang ada di Irak.
Indonesia merespons kondisi terkini di kawasan itu dengan menggelar rapat koordinasi dengan Duta Besar (Dubes) Iran, Irak, dan PTRI New York. Demikian disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno LP Marsudi, Rabu (8/1).
"Sebentar lagi kita mau melakukan rapat koordinasi karena ada perkembangan terbaru yang terjadi di kawasan Iran dan Irak. Kebetulan para Duta Besar Republik Indonesia sedang berada di Jakarta dan kita sebentar lagi akan melakukan rapat koordinasi dengan duta besar kita di Teheran, duta besar kita di Baghdad, Watap kita di New York, karena Watap dari New York yang bertanggung jawab di pembahasan-pembahasan di PBB terutama di DK PBB, sehingga kita akan mendengarkan dulu perkembangan terakhir seperti apa," jelasnya di Kantin Diplomasi, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat.
Retno mengatakan pihaknya sangat memperhatikan perkembangan situasi di kawasan Irak dan Irak. Pihaknya juga sudah menyampaikan perihal ini baik kepada Iran maupun AS.
Indonesia, kata Retno, juga berharap pihak-pihak terkait khususnya Iran dan AS agar dapat menahan diri demi mencegah terjadinya peningkatan eskalasi.
"Semua pihak yang terkait dapat menahan diri sehingga tidak terjadi eskalasi yang lebih buruk lagi karena kita tahu kalau terjadi eskalasi yang lebih tinggi maka dampaknya tidak akan dapat terlokalisir. Dampaknya pasti akan dirasakan baik oleh kawasan maupun oleh dunia termasuk ekonomi dunia, yang tanpa terjadinya eskalasi, sudah cukup tertekan saat ini," paparnya.
Minta WNI waspada
Kemenlu juga telah mengeluarkan rilis yang berisi imbauan agar semua WNI yang berada di kawasan konflik untuk terus waspada. WNI diminta mengikuti infomasi dari otoritas setempat terutama yang terkait dengan perkembangan situasi dan keamanan di masing-masing negara.
"Dan kita meminta para WNI kita untuk segera menghubungi KBRI, KJRI jika memerlukan bantuan," pesannya.
Dalam rilis tersebut, Kemenlu juga mencantumkan hotline perwakilan Indonesia di negara Timur Tengah.
"Tidak hanya di Teheran, di Baghdad, tetapi juga di wilayah-wilayah sekitarnya, just in case WNI kita memerlukan bantuan. Karena sekali lagi kita yakin kalau kita bicara mengenai kawasan, maka jumlah WNI kita akan lebih 1 juta," jelasnya.
"Dan di Kementerian Luar Negeri sendiri, crisis center sudah dihidupkan dan ada nomor telepon yang kita masukkan di dalam rilis Kementerian Luar Negeri pagi ini."
Rencana Kemungkinan
Retno Marsudi menyampaikan, pihaknya juga telah mematangkan contingency plan jika eskalasi semakin memanas. Pekan lalu, sejak pembunuhan Sulaimani, langsung dilakukan koordinasi dengan para Dubes di negara terkait untuk menyusun contingency plan, untuk antisipasi apabila eskalasi akan terus meningkat.
"Dan kemarin saya juga sudah bicara dengan panglima, untuk menyampaikan segala kemungkinan yang dapat terjadi," kata Retno.
"Sambil kita mengamati perkembangan, kita akan terus mengamati secara dekat sekali mengenai masalah warga negara Indonesia," pungkasnya.
(mdk/pan)