Kim Yo Jong Kecam Latihan Militer Gabungan AS-Korea Selatan
Kim Yo Jong, adik dari pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengecam rencana Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan menggelar latihan militer tahunan skala besar.
Kim Yo Jong, adik dari pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengecam rencana Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan menggelar latihan militer tahunan skala besar. Korea Utara sejak lama menyebutnya sebagai latihan invasi dan Kim Yo menyebut latihan itu pada akhirnya merusak diri sendiri.
"Militer AS dan Korea Selatan akhirnya memulai latihan militer gabungan yang lebih jauh dapat menyebabkan ketidakstabilan," kata Kim dalam pernyataannya pada Selasa, disiarkan Korean Central News Agency (KCNA).
"Kami menyatakan penyesalan yang kuat atas tindakan pengkhianatan otoritas Korea Selatan,” lanjutnya, dikutip dari Sputnik News, Selasa (10/8).
“Kami akan memperkuat pertahanan nasional kami dan kemampuan pencegahan yang kuat untuk segera menanggapi setiap tindakan militer,” tambahnya.
Pada Selasa, AS dan Korea Selatan mulai mempersiapkan latihan musim panas tahunan mereka pekan depan. Menurut Kantor Berita Yonhap yang berbasis di Seoul, latihan empat hari itu bertujuan untuk menguji respons militer terhadap “situasi yang tidak terduga sebelum perang pecah,” yang akan disusul Pelatihan Pos Komando Gabungan simulasi komputer selama sepuluh hari. .
Selama dua tahun terakhir, latihan telah dikurangi secara signifikan karena pandemi Covid-19, tetapi selama puncak pemulihan hubungan pada tahun 2018, Pyongyang hampir meyakinkan Seoul untuk membatalkan latihan sebelum Washington masuk dan menegaskan kembali agendanya, yang kontra untuk reunifikasi dan perdamaian di semenanjung Korea.
AS mempertahankan 28.000 personelnya di Korea Selatan, yang dikerahkan sejak Perang Korea 1950-1953 ketika AS memimpin pasukan invasi internasional dalam misi untuk menghentikan reunifikasi negara di bawah kekuasaan komunis. Korea terpecah pada 1945 pada akhir Perang Dunia II.
Perang Korea berakhir hanya dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai permanen. Lebih dari 2 juta orang Korea tewas, sebagian besar karena pengeboman strategis AS di Pyongyang, Nam'po, dan Kanggye.
Hubungan semakin mendingin setelah perundingan pada 2018, dan tahun berikutnya, DPRK mulai menguji senjata artileri roket generasi baru yang mereka klaim dapat menghindari pertahanan rudal anti-balistik yang ditempatkan di Korea Selatan oleh Amerika Serikat.
Baca juga:
Kim Jong Un Perintahkan Militer Salurkan Bantuan ke Wilayah Terdampak Banjir di Korut
Korea Utara Dilanda Banjir, Ribuan Warga Diungsikan dan Ribuan Rumah Hancur
Korut Mau Berunding dengan AS Asal Sanksi Impor Miras & Barang Mewah Diperlonggar
Setelah 14 Bulan Bersitegang, Korut dan Korsel Buka Kembali Saluran Komunikasi
Memperingati 68 Tahun Berakhirnya Perang Korea dengan Pesta Dansa
Pria Australia Dibui karena Mau Jual Suku Cadang Rudal Korut & Batu Bara ke Indonesia