Italia Usut Kematian Lima Warganya saat Menyelam di Maladewa
Italia sedang melakukan penyelidikan terkait kematian lima warganya saat menyelam di Maladewa. Namun, upaya pencarian korban kondisi cuaca yang buruk.
Kejaksaan Italia telah memulai penyelidikan terkait kematian lima warganya saat menyelam di Maladewa pada Jumat (16/5). Penyelidikan ini berlangsung di tengah upaya pencarian korban lainnya yang terpaksa dihentikan sementara karena cuaca buruk melanda kawasan kepulauan tersebut.
Menurut laporan dari New York Post pada Sabtu (16/5), jaksa penuntut di Roma masih menunggu laporan resmi dari konsulat Italia di Sri Lanka, yang juga menangani urusan diplomatik di Maladewa. Laporan tersebut akan menjadi acuan dalam menentukan apakah kasus ini akan diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum setempat.
Sementara itu, pihak berwenang di Maladewa sedang menyelidiki kemungkinan adanya pelanggaran prosedur keselamatan sebelum tragedi tersebut. Penyelidikan ini difokuskan pada dugaan pengabaian terhadap peringatan cuaca ekstrem serta aturan penyelaman pada saat kegiatan berlangsung.
Cuaca dilaporkan semakin memburuk dengan kondisi laut idak bersahabat, sehingga tim penyelamat mengalami kesulitan dalam melanjutkan operasi pencarian korban lainnya. Situasi ini memaksa mereka untuk menghentikan pencarian demi menjaga keselamatan petugas di lapangan.
Ombak besar dan arus laut yang kuat membuat proses penyelaman menjadi sangat berisiko bagi tim penyelamat. Hingga saat ini, empat dari lima wisatawan yang dilaporkan hilang masih belum ditemukan.
Tim penyelam diketahui telah mencari di dua segmen gua bawah laut yang berada sekitar 200 kaki atau lebih dari 60 meter di bawah permukaan laut, kedalaman ini mencapai dua kali lipat dari batas aman penyelaman rekreasi di Maladewa yang umumnya hanya 100 kaki.
Cuaca Buruk Menghambat Operasi Pencarian Korban
Para penyelam di Maladewa hanya dapat menjelajahi dua lubang pertama sebelum harus naik ke permukaan untuk menjalani proses dekompresi. Hingga saat ini, mereka belum berhasil menemukan jenazah penyelam Italia lainnya. Pihak berwenang setempat masih terus memantau perkembangan cuaca sebelum melanjutkan operasi pencarian di area penyelaman dekat Pulau Alimatha.
"Tim berencana kembali menyelam besok (Sabtu, 16 Mei 2026). Namun, kondisi cuaca di Maladewa saat ini sangat buruk, dengan angin kencang dan hujan deras. Saya juga mendapat informasi adanya arus laut yang kuat, yang sayangnya membuat operasi pencarian menjadi lebih sulit," ujar Duta Besar Italia untuk Sri Lanka, Damiano Francovigh.
Dalam upaya mencari korban, pihak berwenang telah mengerahkan sejumlah penyelam profesional, unit dukungan udara, dan kapal pencarian untuk menyisir area penyelaman di sekitar Pulau Alimatha. Hingga saat ini, satu jenazah telah berhasil ditemukan.
Media lokal di Maladewa melaporkan bahwa korban yang ditemukan adalah Monica Montefalcone. Namun, kantor berita Italia ANSA menyebutkan bahwa jenazah tersebut adalah Gianluca Benedetti, yang merupakan instruktur selam sekaligus kapten kapal yang terlibat dalam perjalanan itu. Operasi pencarian terhadap empat korban lainnya akan dilanjutkan setelah kondisi cuaca membaik dan situasi laut dinilai lebih aman bagi tim penyelamat.
Penyebab Kematian
Diduga, kematian lima wisatawan asal Italia dalam insiden penyelaman scuba di Maladewa disebabkan oleh keracunan oksigen dan kepanikan ekstrem. Hal ini terungkap setelah semua korban dilaporkan meninggal dalam satu penyelaman di kedalaman sekitar 160 kaki atau hampir 50 meter di perairan Atol Vaavu.
Dokter spesialis paru-paru asal Italia, Claudio Micheletto, menyatakan bahwa mungkin ada masalah pada tabung oksigen yang digunakan oleh para penyelam saat tragedi tersebut terjadi. Pernyataan ini disampaikan kepada media Italia, Adnkronos, di tengah penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian mengenai penyebab insiden tragis ini. "Ada kemungkinan terjadi sesuatu yang salah pada tabung oksigen," ujar Claudio.
Ia menjelaskan bahwa keracunan oksigen atau hiperoksia adalah salah satu kondisi paling berbahaya dalam aktivitas menyelam. Kondisi ini muncul ketika tubuh terpapar kadar oksigen berlebih akibat tekanan tinggi di bawah laut, yang dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem saraf dan kehilangan kesadaran secara mendadak. "Kematian akibat keracunan oksigen, atau hiperoksia, adalah salah satu kematian paling dramatis yang dapat terjadi selama penyelaman, sebuah akhir yang mengerikan," tambah Claudio, yang juga menjabat sebagai Direktur Pulmonologi Rumah Sakit Universitas Verona.
Dugaan keracunan oksigen dan kepanikan terjadi saat penyelaman dalam
Penyelam scuba biasanya menggunakan udara terkompresi yang tersimpan dalam tabung, yang mengandung sekitar 21 persen oksigen dan 79 persen nitrogen. Akan tetapi, dalam situasi tertentu, beberapa penyelam memilih untuk menggunakan nitrox, yaitu campuran gas dengan kadar oksigen yang lebih tinggi, yang memungkinkan mereka untuk bertahan lebih lama di dalam air.
Dokter spesialis paru-paru, Claudio Micheletto, memberikan peringatan bahwa kadar oksigen yang berlebihan dapat menjadi racun bagi tubuh ketika digunakan pada kedalaman tertentu. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini dapat memicu hiperoksia atau keracunan oksigen, yang menimbulkan gejala seperti pusing, nyeri, disorientasi, dan bahkan gangguan kesadaran. "Selama penyelaman, dapat terjadi pusing, nyeri, perubahan kesadaran, dan disorientasi, sehingga tidak memungkinkan untuk kembali ke permukaan," tambah Claudio.
Selain masalah teknis yang berkaitan dengan tabung oksigen, para ahli juga menyoroti kemungkinan terjadinya kepanikan di bawah laut. Presiden Perhimpunan Kedokteran Bawah Air dan Hiperbarik Italia, Alfonso Bolognini, menyatakan bahwa kondisi di gua bawah laut pada kedalaman sekitar 50 meter sangat berisiko jika salah satu penyelam mengalami masalah atau serangan panik. Menurutnya, kepanikan dapat menyebabkan gerakan yang berlebihan, yang dapat mengakibatkan air menjadi keruh dan mengurangi jarak pandang secara signifikan.
Meski demikian, Alfonso menegaskan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk memastikan penyebab utama dari tragedi tersebut sebelum hasil penyelidikan resmi diumumkan. "Saat ini sulit untuk mengatakan secara pasti apa yang mungkin terjadi di dasar laut," katanya.