Israel bakal kirim 16.000 imigran ilegal Afrika ke Negara Barat
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Jerman mengatakan bahwa pihaknya belum mengetahui rencana pengiriman para imigran Afrika dari Israel ke negaranya. Hal serupa juga diungkapkan oleh pihak Italia.
Pemerintah Israel membatalkan rencana untuk mendeportasi para imigran Afrika ke negara asal mereka. Sebagai gantinya, Israel mencapai kesepakatan dengan Badan Pengungsi Amerika Serikat untuk mengirim 16.000 imigran tersebut ke negara-negara Barat.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Kanada, Italia, dan Jerman sebagai negara-negara yang akan menerima para imigran tersebut, meski tidak semua negara telah diberitahu tentang rencana itu.
Sementara itu, imigran lain yang masih berada di Israel dan di antaranya juga sedang mencari suaka akan tetap diizinkan tinggal di negara itu selama lima tahun ke depan. Mereka adalah para imigran yang masuk ke Israel secara ilegal dengan berjalan kaki melalui perbatasan Mesir.
Dilansir dari laman Reuters, Selasa (3/4), Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) membenarkan bahwa telah dibuat kesepakatan dengan Israel untuk mengirim imigran ke Negara Barat melalui sebuah pernyataan resmi. Namun tidak disebutkan negara-negara mana saja yang akan menerima para imigran tersebut.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Jerman mengatakan bahwa pihaknya belum mengetahui rencana pengiriman para imigran Afrika dari Israel ke negaranya. Hal serupa juga diungkapkan oleh pihak Italia.
"Tidak ada kesepakatan dengan Italia dalam konteks perjanjian bilateral Israel dan UNHCR," tegas Kementerian Luar Negeri Italia.
Sementara itu, Kanada memiliki kesepakatan dengan Israel untuk menangguhkan deportasi individu dari imigran yang memiliki aplikasi sponsor dari pihak swasta hingga mereka melewati proses yang diharuskan.
"Ada sekitar 1.845 permohonan yang diproses pada akhir tahun lalu," kata juru bicara Kementerian Imigrasi Kanada, Hursh Jaswal.
Sebagaimana diketahui, saat ini ada 37.000 orang Afrika di Israel yang masih belum jelas nasibnya. Jumlah mereka juga menimbulkan dilema moral bagi negara mayoritas pemeluk Yahudi tersebut. Ditambah, pemerintah sayap kanan saat ini berada di bawah tekanan komunitas pemilih nasionalis untuk mengusir para imigran.
Baca juga:
Masukkan anti imigran dalam kurikulum sekolah, PM Hungaria dipuji mantan staf Trump
Ratusan pengungsi di Medan demo minta diberangkatkan ke negara ketiga
Aksi nekat imigran menyusup di bawah truk demi ke Italia
Tak terima video soal imigran dihapus, staf PM Hungaria akan panggil Facebook
Terdampar di Berau, WN Filipina mengaku kapal rusak saat mengantar keponakan