Hamas Kecam Presiden Mahmoud Abbas Atas Pernyataannya yang Menghina dan Merendahkan
Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, menuntut Hamas membebaskan tawanan Israel dan menyebut kelompok perlawanan tersebut dengan kata-kata kasar.
Hamas dan Aliansi Perlawanan Palestina mengecam Presiden Palestina Mahmoud Abbas karena melontarkan kata-kata merendahkan untuk menggambarkan gerakan tersebut.
"Dalam sebuah pertemuan yang merampas legitimasi kepemimpinan rakyat Palestina, Abbas menggambarkan bagian penting dan integral dari rakyatnya sendiri dengan menggunakan bahasa yang merendahkan," kata pejabat senior Hamas, Bassem Naim.
"Abbas berulang kali dan dengan curiga menyalahkan rakyat kami atas kejahatan pendudukan (penjajahan Israel) dan agresi yang sedang berlangsung," lanjutnya, dikutip dari Middle East Eye, Jumat (25/4).
Dalam pidatonya saat menghadiri pertemuan ke-32 Dewan Pusat Palestina, Abbas mendesak Hamas untuk membebaskan tawanan Israel yang masih ditahan di Gaza.
“Prioritas pertama adalah menghentikan perang pemusnahan di Gaza. Perang ini harus dihentikan – ratusan orang terbunuh setiap hari. Mengapa kalian tidak menyerahkan tawanan Amerika? Dasar anak anjing, bebaskan saja siapa pun yang kalian tahan dan selesaikan saja. Hentikan semua alasan mereka (Israel) dan selamatkan kami," cetusnya.
Selain itu, Abbas juga meminta Hamas meletakkan senjata.
Aliansi Perlawanan Palestina mengecam pernyataan Abbas, yang disebutnya sebagai “penghinaan yang jelas dan berbahaya terhadap pasukan perlawanan Palestina dan mendorong retorika yang memperdalam perpecahan dan memicu kebencian di antara rakyat.”
Aliansi Perlawanan Palestina menekankan, Dewan Pusat tidak mewakili keinginan sejati rakyat Palestina, juga tidak mengekspresikan aspirasi mereka.
"Sebaliknya, Dewan Pusat dibentuk untuk membangun warisan politik dan mereproduksi kepemimpinan yang telah kehilangan legitimasinya karena kebijakannya yang gagal yang telah mendorong perjuangan Palestina ke ambang kehancuran," jelasnya.
Mereka juga mengatakan pidato Abbas tidak mencerminkan penderitaan rakyat Palestina di Gaza, Tepi Barat, dan kamp-kamp pengungsian.
“Juga tidak melayani kepentingan bangsa dan perjuangannya. Sebaliknya, pidato itu mengungkapkan pemutusan hubungan yang lengkap antara kepemimpinan tanpa legitimasi dan realitas perjuangan sehari-hari yang dialami oleh rakyat Palestina.”
“Jika Anda benar-benar peduli dengan masa depan bangsa ini, biarkan sikap akhir Anda menjadi sikap patriotik yang memulihkan rasa hormat terhadap persatuan dan lembaga-lembaga nasional, setelah Anda menjadi mitra dalam memperdalam perpecahan,” pungkas aliansi tersebut.