Gara-gara pintu belum tertutup rapat, pesawat Korsel putar balik
"Tiap penumpang akan diberi kompensasi sebesar 100 ribu won (setara Rp 1,1 juta)," ucap pihak maskapai.
Kementerian perhubungan Korea Selatan membenarkan maskapai negaranya putar balik ke Cebu, Filipina. Pasalnya, pintu pesawat yang sudah mengudara itu belum tertutup rapat dan bisa membahayakan penumpang dan kestabilan pesawat.
Pesawat berpenumpang 163 orang ini terpaksa memutar balik setelah terbang selama 40 menit. Pesawat ini berangkat dari Cebu menuju Busan, Korea Selatan, Minggu kemarin.
Dilansir dari Reuters, Selasa (5/1), pesawat milik maskapai Korean Air, Jin Air, merupakan maskapai dengan penerbangan tarif rendah. Staf humas Jin Air mengatakan suara berisik membuat awak pesawat menyadari ada yang tidak beres dengan pintu pesawat itu.
Begitu tahu ada celah di pintu pesawat, pilot langsung memutar kembali arah pesawat. Insiden itu terjadi kala Boeing 737-800 tersebut berada di ketinggian 10 ribu kaki (sekitar 3.048 meter).
Kru pesawat Jin Air juga langsung memberi tahu penumpang melalui pengumuman di pesawat. Para penumpang mengaku sangat cemas dengan keselamatan mereka.
Begitu pesawat berhasil mendarat di Cebu, para penumpang melontarkan protesnya kepada pihak maskapai. Jin Air sendiri mengatakan telah menyediakan ruangan hotel bagi para penumpang.
Pesawat ini akhirnya bisa kembali melakukan perjalanan menuju Busan setelah 15 jam mendarat kembali di Cebu.
"Tiap penumpang akan diberi kompensasi sebesar 100 ribu won (setara Rp 1,1 juta)," ucap Juru Bicara Jin Air.
Meskipun begitu, seluruh penumpang selamat dan berhasil kembali ke Busan dengan pesawat yang sama.
Akibat insiden ini, pemerintah Korea Selatan bakal meninjau kembali keselamatan enam penerbangan tarif rendah di negaranya.
Baca juga:
Terungkap! Ke Mana Perginya Kotoran Toilet Pesawat
Pilot ini rela putar balik pesawat demi jemput penumpang tertinggal
Maskpai India mendarat darurat di Iran gara-gara tikus masuk kabin
Ganti rugi Jepang pada korban Ianfu Korsel tak disambut baik pegiat
Paling banyak korban, Indonesia malah pasif tuntut ganti rugi Ianfu