Paling banyak korban, Indonesia malah pasif tuntut ganti rugi Ianfu
Merdeka.com - EkaHindra - peneliti independen sekaligus pendamping korban perbudakan seks tentara Jepang (Ianfu) di Indonesia - mengatakan sikap Jepang meminta maaf serta membayar ganti rugi atas kekejaman pada perempuan Korea Selatan di era Perang Dunia II awal pekan ini, tidak perlu disambut euforia.
Jepang baru bisa dianggap serius bertanggung jawab atas praktik lancung di masa lalu, apabila perlakuan yang sama diberikan kepada seluruh korban Ianfu yang tersebar di seantero Asia.
Ironisnya, masalah Ianfu tidak menjadi perhatian utama politik luar negeri pemerintah Indonesia. Padahal isu ini menyangkut nasib banyak perempuan di Tanah Air. "Pemerintah harus bergerak tidak tinggal diam, harus mengambil langkah. Kami ada data dan Indonesia memiliki jumlah korban terbesar dari semua negara," ungkap Eka saat dihubungi merdeka.com, Kamis (31/12).
Di Indonesia, setidaknya ada 22 ribu perempuan melapor pernah dipaksa mengikuti program Ianfu. Wanita yang rata-rata kini sudah renta atau bahkan meninggal ini belum mendapatkan ganti rugi layak. Selama 16 tahun meneliti isu ini, Eka melihat pemerintah RI justru terlibat menciptakan karut marut.
Pada 1997, misalnya, Menteri Sosial Inten Suweno menerima dana santunan bagi para korban sebesar 380 juta yen dari pemerintah Jepang. Namun banyak dari korban mengaku tidak pernah menerima santunan tersebut.
Di masa mendatang, kalau memang serius ingin menutut tanggung jawab Negeri Matahari Terbit, Eka berharap pemerintah wajib melibatkan korban dan para pegiat. "Tindakan proaktif harus diaksanakan secara terbuka, transparan, melibatkan para korban, masyarakat, dan para aktivis sipil yang mendampingi kasus Ianfu," tandasnya.
Ianfu adalah kejahatan perang Kekaisaran Jepang yang terjadi sepanjang 1932-1945 di banyak negara. Dengan iming-iming beasiswa sekolah ataupun pekerjaan berupah tinggi, para perempuan di wilayah pendudukan dipaksa melayani kebutuhan seks para tentara dan pejabat Nippon. Korban membentang dari Korsel, China, Filipina, Taiwan, Indonesia, hingga Timor Leste. Perkiraan total korban melebihi 200 ribu perempuan.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya