Di Balik Kerusuhan di Kazakhstan yang Kian Meluas dan Beringas
2 Januari menjadi tonggak meletusnya demonstrasi besar di Kazakhstan sejak negara pecahan Uni Sovyet itu merdeka pada 1991.
Api masih berkobar di Gedung Balai Kota Almaty, Kazakhstan ketika para demonstran merubuhkan patung presiden pertama Nursultan Nazarbayev beberapa hari lalu.
Demonstrasi besar-besaran termasuk jarang terjadi di Kazakhstan dan di masa Tahun Baru saat orang-orang menikmati liburan bersama keluarga, unjuk rasa ke jalan juga tampaknya tidak lazim, terlebih suhu udara juga mencapai di bawah nol derajat.
Namun tahun ini, 2 Januari menjadi tonggak meletusnya demonstrasi besar di Kazakhstan sejak negara pecahan Uni Sovyet itu merdeka pada 1991.
Pada hari yang mencekam itu, kerumunan massa mengamuk di Kota Zhanaozen lantaran harga gas LPG naik dua kali lipat. LPG selama ini menjadi bahan bakar kendaraan sebagian besar warga Kazakh.
Baca juga:
Presiden Kazakhstan Bubarkan Kabinet di Tengah Kerusuhan karena Harga BBM Naik
Aksi Protes Kenaikan Harga LPG di Kazakhstan Berujung Rusuh
Kenaikan harga ini terjadi saat negara itu mulai beralih secara bertahap ke penjualan LPG secara elektronik untuk menghentikan subsidi bahan bakar dari negera dan melihat bagaimana pasar menentukan harga.
Meski pemerintahan Presiden Kassym-Jomart Tokayev kemudian mengumumkan harga bahan bakar itu akan diturunkan bahkan lebih rendah dari sebelum kenaikan, demonstrasi tetap berlanjut.
"Tokayev dan pemerintah mungkin akan membahas situasi sosial dan ekonomi di tengah masyarakat dan mereka bisa saja menaikkan gaji dan bantuan sosial agar warga tidak rusuh. Tapi pada akhirnya semua orang tahu, perubahan semacam itu tidak akan terjadi," kata Daniyar Khassenov, aktivis politik di Kyiv, seperti dilansir laman Aljazeera, Kamis (6/1).
Orang Tua minggir
Yel-yel "Shal ket" (orang tua harus minggir) menjadi teriakan andalan para demonstran di seantero negeri. Semua orang tahu siapa yang dimaksud.
Nazarbayev resmi mundur sebagai presiden pada 2009 dan diganti oleh sekutunya Tokayev. Nazarbayev kemudian mengepalai Dewan Keamanan dan semakin jelas bahwa orang tua itu tidak mau melepaskan kekuasaannya.
"Semua orang paham Tokayev itu hanya boneka dan dia tidak punya kekuatan politik serta pengaruh terhadap rakyat. Yel-yel itu bermaksud mengecam keseluruhan sistem yang dibangun rezim Nazarbayev," kata Bota Jardemalie, pengacara Kazakhstan, aktivis politik dan hak asasi manusia yang mendapat suaka politik di Belgia pada 2013.
"Itu artinya dia dan keluarganya, putrinya yang banyak dibenci orang, menantunya Timur Kulibayev yang memonopoli usaha di sektor ekonomi, terutama minyak dan gas, dan semua orang tahu monopoli menjadi alasan di balik kenaikan harga gas."
Sementara itu dalam beberapa tahun belakangan pemerintah mulai menekan kebebasan individu dan hak asasi.
Jurnalis dan rival politik mulai dibungkam dan dibui. Pemerintah juga mulai antikritik, memenjarakan warga, dan meminta Interpol untuk memburu mereka yang kabur ke luar negeri.
Meski sudah ada beberapa unjuk rasa di masa lalu pada 2016 dan 2019, kali ini para pengamat menilai demonstran akan menuntut lebih jauh yaitu menghancurkan rezim Nazarbayev.
"Naiknya harga bahan bakar hanya pemicu turunnya massa ke jalan yang sejak lama sudah menderita karena korupsi, kurangnya kebebasan sipil dan pilihan politik serta rasa ketidakadilan yang dirasakan rakyat ketika melihat elit bergelimang kemewahan," kata Marius Fossum, perwakilan dari Komite Helsinki Norwegia di Almaty.
(mdk/pan)