AS dan Iran Resmi Teken Kesepakatan Damai
Namun, Trump memperingatkan akan melancarkan serangan terhadap Iran jika Teheran tidak mematuhi kesepakatan damai yang telah disepakati.
Pada Rabu, 17 Juni 2026, Amerika Serikat (AS) dan Iran secara resmi mengumumkan teks perjanjian sementara yang menjadi landasan untuk menghentikan konflik antara kedua negara. Kesepakatan ini membuka peluang bagi negosiasi menuju gencatan senjata yang lebih permanen, meskipun Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa Washington akan siap untuk melancarkan serangan militer jika Iran melanggar kesepakatan tersebut.
Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis, Trump memberikan peringatan bahwa AS tidak akan ragu untuk mengambil tindakan militer jika Teheran mengingkari komitmennya.
"Kita akan membombardir mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian. Saya ingin mereka menghormati perjanjian," ungkap Trump, seperti yang dilansir dari laman Japan Today pada Kamis, 18 Juni.
Trump juga memberikan peringatan tegas kepada pejabat Iran, menyatakan bahwa jika pemerintah Iran tidak menunjukkan itikad baik selama proses perdamaian, kemungkinan serangan militer akan kembali diaktifkan. Meskipun demikian, ia menyebut rakyat Iran sebagai "orang-orang cerdas" dan berharap agar proses negosiasi yang sedang berlangsung dapat menghasilkan gencatan senjata permanen dalam waktu 60 hari ke depan.
Dalam kesempatan tersebut, Trump juga mengubah salah satu argumen yang sebelumnya dipakai untuk membenarkan serangan terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa tidak adil jika Iran tidak memiliki rudal balistik sama sekali, berbeda dengan pernyataannya sebelumnya yang berjanji akan menghancurkan seluruh kemampuan rudal negara tersebut.
Konflik antara AS dan Iran dimulai pada 28 Februari ketika AS bersama Israel melancarkan serangan ke Iran. Serangan pada hari pertama tersebut dilaporkan mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang saat itu berusia 86 tahun, serta beberapa pejabat tinggi militer Iran. Konflik ini kemudian berkembang menjadi perang regional yang menyebabkan lonjakan harga energi, meningkatkan tekanan inflasi global, dan menimbulkan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan pangan di berbagai negara berkembang.
Harga Minyak Turun
Di tengah dinamika diplomatik yang berlangsung, harga minyak dunia mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya harapan bahwa Selat Hormuz—jalur penting bagi perdagangan minyak global—akan segera beroperasi normal kembali. Harga minyak mentah Brent bahkan tercatat turun di bawah USD 80 per barel, yang merupakan level terendah sejak dimulainya konflik antara AS dan Iran.
Namun, harga minyak kembali mengalami kenaikan lebih dari 1 persen setelah Presiden Trump mengisyaratkan kemungkinan untuk melanjutkan operasi militer jika hasil pelaksanaan perjanjian oleh Iran tidak memuaskan.
Di sisi lain, seorang pejabat senior AS yang memilih untuk tidak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa nota kesepahaman telah ditandatangani oleh kedua negara, meskipun statusnya masih sementara. Ia menambahkan bahwa baik Washington maupun Teheran masih memiliki peluang untuk menarik diri sebelum kesepakatan final yang mengikat disahkan.
Perjanjian tersebut terdiri dari 14 poin yang bertujuan untuk memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada bulan April selama 60 hari ke depan. Dalam periode tersebut, kedua negara akan memanfaatkan waktu untuk merundingkan kesepakatan damai yang bersifat permanen.
Menurut informasi dari pejabat AS dan Iran, nota kesepahaman ini telah ditandatangani secara digital oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Kementerian Luar Negeri Iran juga menyatakan bahwa perjanjian ini mulai berlaku efektif sejak Rabu (17/6).