Apa Keuntungan Korea Utara dalam KTT Kedua Trump-Kim Jong-un di Vietnam?
Pertemuan kedua, setelah delapan bulan KTT pertama di Singapura pada Juni 2018, dinilai memiliki pertaruhan besar. Keberhasilan Trump dalam pertemuan ini dinilai dari seberapa jauh Korea Utara melakukan denuklirisasi.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong Un akan kembali bertemu dalam KTT kedua di Hanoi, Vietnam, 27-28 Februari. Kim dilaporkan telah tiba di Vietnam pada Selasa (26/2) pagi dengan menggunakan kereta dari Pyongyang.
Pertemuan kedua, setelah delapan bulan KTT pertama di Singapura pada Juni 2018, dinilai memiliki pertaruhan besar. Keberhasilan Trump dalam pertemuan ini dinilai dari seberapa jauh Korea Utara melakukan denuklirisasi.
Dilansir dari CNN, Selasa (26/2), ada tiga teori tentang manfaat atau keuntungan bagi Kim Jong-un dan negaranya.
1. Menjamin Deklarasi politik untuk akhiri Perang Korea
Keuntungan terbesar bagi Kim adalah hubungan diplomatik dan juga ekonomi. Kim, seperti Trump, sangat menginginkan momen dramatis dan bersejarah saat keduanya yang bermusuhan selama tujuh dekade, berdiri berdampingan mendeklarasikan akhir politik dari Perang Korea.
"Agar lebih jelas: Pernyataan seperti itu tidak akan berfungsi sebagai perjanjian damai yang secara resmi mengakhiri perang. Tetapi itu sudah cukup bagi Kim untuk mengabarkan kepada rakyatnya sebagai kemenangan propaganda," demikian analisis dari Direktur Lembaga Pusat Hyundai Motor-Korea untuk Sejarah Korea dan Kebijakan Publik, Jean H. Lee.
Mengakhiri Perang Korea gagal dicapai ayah (Kim Jong Il) atau kakek Kim Jong Un (Kim Il Sung) sebelum meninggal dunia. Menuntaskan tugas tersebut, kata Lee, akan memperkuat otoritasnya di Korut sebagai negarawan dan ahli strategi militer.
"Deklarasi semacam itu akan memungkinkan Kim untuk mengalihkan fokus negara itu dari perang menuju (tujuan) ekonomi; itu juga akan memulai proses panjang negosiasi-negosiasi perjanjian damai formal dengan China, PBB dan Amerika Serikat," jelasnya.
Jauh lebih penting, Kim akan mencari konsesi ekonomi dengan imbalan pemulihan hubungan dan berjanji untuk menyerahkan unsur-unsur program nuklirnya. Pencabutan sanksi PBB yang diberlakukan terhadap Korut adalah prioritas bagi Kim.
Setelah sanksi dilonggarkan, Korea Selatan khususnya dinilai siap memulai kembali proyek-proyek ekonomi bersama Korut yang dapat membuka fungsi jalur kehidupan ekonomi untuk Pyongyang serta untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak di Korut. Selain itu, Seoul harus menunggu konsesi nuklir konkret dari Korut sebagai dasar pencabutan sanksi bilateral sejak 2010.
"Bagi Kim, peta jalan sukses menuju denuklirisasi di Hanoi akan membuka jalan bagi Korut untuk kembali ke kancah internasional, secara politik dan ekonomi, sambil menunda pelepasan total aset nuklirnya yang berharga selama bertahun-tahun yang akan datang," pungkas Lee.
Kim Jong-un dan Trump jalan-jalan santai ©2018 REUTERS/Jonathan Ernst
2. Tampil demi kemenangan sederhana
Adam Mount, dari Federasi Ilmuwan Amerika memaparkan analisanya. Dia mengatakan Kim Jong Un memiliki beberapa jalan kemenangan dalam pertemuannya dengan Trump di Hanoi - dan Trump tampaknya bertekad mewujudkannya.
"Kim memperoleh kemenangan sederhana dengan hanya muncul dan mengulangi prestasinya di Singapura - dianggap melibatkan Amerika Serikat sebagai kekuatan nuklir, mendapat peluang baru untuk diplomasi dan perdagangan dan meningkatkan kemungkinan pemberian sanksi bantuan dari Beijing dan Seoul," jelasnya.
"Dan saat dia duduk bersama Trump di Hanoi, sentrifugalnya terus berputar dan pabrik rudal terus dibangun. Negosiasi membantunya mengemudikan momen genting dalam program nuklirnya, membeli waktu untuk memperluas, menyembunyikan, dan menyebarkan gudang senjatanya. Jaminan yang tidak jelas dan tampilan simbolik tidak membebani biaya apa pun baginya," lanjut Mount.
Di sisi lain, Kim bisa menang besar jika Trump mengabaikan penasehatnya dan secara impulsif menawarkan konsesi besar secara cuma-cuma, sebagaimana yang dilakukan saat bertemu di Singapura dengan menghentikan latihan militer.
Trump tampak cemas kegagalan tujuannya pada saat KTT pertama di Singapura bakal terulang. "Mudah-mudahan kita juga berhasil dengan KTT kedua seperti yang kita lakukan dengan yang pertama," ujarnya.
Bagi Trump, hanya ada satu jalan menuju sukses: Berhasil memaksa Kim Jong Un dengan pilihan yang sulit. Apakah menerima persenjataan yang belum sempurna dengan imbalan hubungan keamanan yang lebih baik dan ekonomi yang lebih baik?
3. Transaksi nuklir ringankan sanksi
Komunitas internasional perlu memahami dengan jelas tujuan strategis pemimpin Korea Utara mengenai apa yang akan terjadi selama dan setelah KTT Hanoi. Kim Jong Un tampaknya memiliki dua tujuan strategis. Salah satunya adalah mempertahankan nuklir independen untuk menjaga keamanan nasional.
Kecuali jika kepercayaan yang dibangun antara AS dan Korut, yang bisa memakan waktu puluhan tahun jika segalanya berjalan baik, ada sedikit yang bisa dilakukan Washington untuk membuat jaminan keamanannya bagi Pyongyang terlihat kredibel dan tidak dapat diubah.
"Karena alasan ini, masyarakat internasional seharusnya tidak mengharapkan konsesi apa pun dari Korut yang akan menggerogoti kemampuannya mempertahankan senjata pencegah nuklir yang ada untuk masa mendatang," jelas Tong Zhao, dari Tsinghua Center untuk Kebijakan Global.
"Jika Presiden AS, Trump bersedia menerima kesepakatan yang berfokus pada pembekuan program nuklir dan rudal Korut dan mencegah kemajuan lebih lanjut, sebagai lawan menghilangkan elemen inti dari kemampuan yang ada, itu akan membantu Kim mencapai tujuannya yang paling penting," lanjutnya.
Zhao menambahkan, ini tak selalu menjadi hasil yang buruk. Pengaruh pemaksaan dari komunitas internasional sangat terbatas oleh keinginan AS menghindari perang besar dengan Korut.
"Dalam kondisi seperti itu, perlucutan senjata secara paksa berada di luar jangkauan kami dan langkah-langkah nyata oleh Korut untuk membekukan dan membatasi skala dan ruang lingkup program nuklir dan misilnya akan menjadi kontribusi yang berarti bagi pengurangan risiko nuklir," pungkasnya.
Baca juga:
Ketatnya Pengawalan Kim Jong-un Saat Menuju Hanoi
Tempuh Perjalanan Kereta Dua Setengah Hari, Kim Jong Un Tiba di Vietnam
Kim Jong-un Jejakkan Kaki di Vietnam
Donald Trump dan Kim Jong-un Diprediksi Akhiri Perang Korea
Temui Trump di Vietnam, Kim Jong-un Naik Kereta Antipeluru berkecepatan 60 KM per jam
Donald Trump Mengaku Senang Korea Utara Hentikan Tes Senjata