Donald Trump dan Kim Jong-un Diprediksi Akhiri Perang Korea
Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong Un akan kembali bertemu di Hanoi, Vietnam pada tanggal 27-28 Februari ini. Dalam pertemuan kedua ini diprediksi keduanya akan menandatangani kesepakatan damai dan mengakhiri Perang Korea. Banyak pihak juga berharap akan dicapai kesepakatan resmi menyudahi Perang Korea 1950-1953.
Konflik yang kemudian membawa Korut dan Korsel yang didukung AS bermusuhan selama bertahun-tahun berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Dengan demikian secara teknis Pyongyang dan Washington dinilai secara teknis masih berperang. Demikian dilansir dari Channel News Asia, Senin (25/2).
"Saya percaya bahwa ada kemungkinan (berdamai) di sana," kata juru bicara kepresidenan Gedung Biru, Kim Eui-kyeom kepada wartawan di Seoul.
"Tidak ada cara untuk mengetahui seperti apa deklarasi itu, tapi saya percaya AS dan Korea Utara mungkin mencapai kesepakatan," lanjutnya optimis.
Presiden Korsel, Moon Jae-in mengatakan pada Oktober lalu, bahwa "hanya masalah waktu" sebelum Washington dan Pyongyang menyatakan perang berakhir. AS juga telah menunjukkan nada optimis terhadap komitmen pemerintahan Kim Jong Un.
Utusan khusus AS untuk Korut, Stephen Biegun mengatakan awal bulan ini Trump siap mengakhiri perang, memicu spekulasi akhir resmi konflik diperkirakan telah dekat.
Pertemuan keduanya juga diharapkan akan membuat kemajuan dalam pembicaraan mengenai denuklirisasi dan kemungkinan perjanjian damai.
Namun, menurut Juru Bicara Gedung Putih, bahkan jika para pemimpin AS dan Korut menyatakan Perang Korea berakhir, sebuah perjanjian perdamaian formal kemungkinan akan ditandatangani pada tahap terakhir proses denuklirisasi di Semenanjung Korea, dan diperkirakan memakan waktu lebih lama untuk mewujudkannya.
"Perjanjian damai dan deklarasi akhir perang berbeda," katanya, seraya menambahkan perjanjian itu harus merupakan upaya multilateral yang melibatkan Korsel dan China. Korut, Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dipimpin AS, dan China semuanya menandatangani gencatan senjata.
KTT Hanoi digelar setelah Donald Trump dan Kim Jong Un bertemu pada Juni 2018 di Singapura, di mana menghasilkan perjanjian denuklirisasi di Semenanjung Korea. Sejak saat itu kemajuan diplomasi di antara keduanya terhenti, dengan masing-masing pihak tidak sepakat atas arti perjanjian tersebut.
Lembaga pemantau Korut yang berpusat di AS, 38 North, melaporkan pada Senin kemarin bahwa tidak ada indikasi Pyongyang mengoperasikan reaktor nuklirnya di kompleks Yongbyon.
Pembongkaran kompleks itu diperkirakan akan menjadi salah satu langkah denuklirisasi kunci, yang akan dibahas Trump dan Kim di Hanoi.
"Tidak ada ventilasi uap dari ruang generator, juga tidak ada air panas di pipa pembuangan air pendingin," kata situs web tersebut.
Trump Bahagia Korut Hentikan Uji Coba Senjata
Pada Minggu (24/2), Trump menyampaikan kepada para gubernur di Gedung Putih bahwa dia senang selama Korut melanjutkan penghentian sementara uji coba senjata. Sebelumnya, pemerintahan Trump mendesak Kim menghentikan program senjata nuklir, sebelum negara sosialis di Semenanjung Korea itu mengharapkan konsesi apa pun.
Namun dalam beberapa hari terakhir, sebagaimana dilansir dari The Straits Times pada Senin (25/2), Trump mengatakan akan senang dapat menghapus sanksi jika ada kemajuan berarti dalam denuklirisasi.
Trump sebelumnya juga Trump mengatakan denuklirisasi penuh tetap menjadi tujuan utama, tetapi tidak terburu-buru untuk untuk mewujudkannya. Dia juga meminta Korut melanjutkan penghentian uji senjata yang telah berlangsung sejak 2017 lalu.
Reporter: Happy Ferdian Syah UtomoSumber: Liputan6
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya