Ali Abdullah Saleh, sosok pemersatu sekaligus pemecah belah Yaman yang tewas dibunuh
Ali Abdullah Saleh, sosok pemersatu sekaligus pemecah belah Yaman yang tewas dibunuh. Mantan pemimpin Yaman Ali Abdullah Saleh dikenal sebagai sosok yang berkuasa selama lebih dari tiga dekade di Timur Tengah. Dia juga dinilai punya peran dalam membuat negaranya dilanda perang saudara.
Mantan pemimpin Yaman Ali Abdullah Saleh dikenal sebagai sosok yang berkuasa selama lebih dari tiga dekade di Timur Tengah. Dia juga dinilai punya peran dalam membuat negaranya dilanda perang saudara.
Saleh yang dibunuh dua hari lalu di Yaman adalah pria yang menganggap kepemimpinannya selama ini seperti 'menari di atas kepala ular' untuk menggambarkan ruwetnya politik di Yaman yang terdiri dari banyak suku. Ajudannya mengatakan dia tewas setelah sebuah ledakan menghantam rumahnya di Ibu Kota Sanaa. Pemberontak Huthi yang tadinya menjadi sekutu Saleh namun ditinggalkannya mengatakan mereka membunuh dia dalam sebuah penggerebekan di gurun.
Dilansir Laman the Straits Times Selasa (5/12), Sabtu lalu Saleh secara terbuka menyatakan putus hubungan dengan Huthi dan menyerukan rakyat Yaman untuk mempertahankan negara melawan para pemberontak itu. Manuvernya itu menjadi kenangan terakhir yang bisa dilakukannya.
Sebagian orang mengatakan Saleh berusia 75 tahun saat tewas kemarin, meski berdasarkan biografi resmi menyebut dia empat tahun lebih muda.
Saleh selama ini menjadi pemimpin bagi negara Arab paling miskin dan selalu dilanda perang serta menjadi surga bagi tumbuhnya militan Al Qaidah. Di mata internasional Saleh dipandang sebagai pemimpin korup dan tidak punya prinsip dan hanya mementingkan harta dan kekuasaan buat dirinya dan kerabatnya.
Ali Abdullah Saleh ©2017 Merdeka.com
"Ini akhir yang tragis bagi orang yang 33 tahun memimpin Yaman dengan cara yang buruk," ujar Farea al-Muslimi, sarjana Yaman dan Ketua Studi Strategis Pusat Sanaa. Muslimi membandingkan kepemimpinan Saleh dengan Saddam Hussein di Irak dan Muammar Qadafi di Libya yang membuat negara masing-masing kacau balau.
Duta besar Amerika Serikat dari 2010 hingga 2013, Gerald M Feierstein menyebut Saleh sebagai sosok yang sulit dipercaya.
"Tapi positifnya dia seperti orang yang bisa menjaga stabilitas, semacam ahli politik yang membuat Yaman bergerak maju, termasuk di bidang pendidikan dan kesehatan."
Namun Saleh, kata Feierstein, orang yang maling miliaran bahkan puluhan miliar dolar uang negara selama berkuasa. Dia memimpin negara dengan mengangkat orang-orang terdekatnya, termasuk keluarganya.
Dua pendahulu Saleh masing-masing dibunuh dalam waktu kurang dari dua tahun dan ketika dia berkuasa pada 1978 banyak orang menilai dia tidak akan bertahan lama. Namun karena kecerdikannya dalam bernegosiasi Saleh bertahan hingga tiga dekade.
Saleh berkuasa di Yaman Utara hingga 1990 ketika mempersatukan wilayah selatan dan utara untuk membentuk Republik Yaman. Saleh kemudian bertahan pada perang saudara 1994 dan memenangkan suara mayoritas untuk menjadi presiden pertama Yaman yang dipilih dalam pemilu. Berkat bantuan putra dan sepupunya yang menduduki jabatan-jabatan penting, Saleh menjadi penguasa terlama dalam sejarah Yaman.
Saleh menyerahkan jabatannya pada Februari 2012 setelah ditekan oleh demo besar-besaran, tekanan internasional dan kelompok suku bersenjata. Namun dia masih menjalankan kekuasaannya di belakang layar untuk melemahkan penggantinya Abdurabbu Mansur Hadi. Ketika pemberontak Huthi menyerbu Ibu Kota Sanaa, Saleh membuat kaget rakyat Yaman karena mau bersekutu dengan para milisi Syiah itu untuk melawan Hadi yang didukung Arab Saudi.
Baca juga:
Anak mantan presiden Yaman ancam balas dendam ke pemberontak
Aksi pemberontak Houthi rayakan kematian eks Presiden Yaman
Eks Presiden Yaman tewas di tangan pemberontak Huthi
Kelompok pemberontak Yaman terbelah dan saling serang
Arab Saudi tidak serius cabut blokade di Yaman