25 Orang Uighur dipenjara di Thailand kabur, 5 berhasil dibekuk lagi
Orang Uighur itu berhasil kabur setelah menggali terowongan menembus dinding sel menggunakan pecahan keramik. Mereka kemudian memanjat tembok dengan kawat berduri menggunakan sejumlah selimut yang diikat, sehingga berfungsi seperti tali.
Sekitar 25 orang Uighur ditahan di penjara Thailand kabur. Namun, aparat berhasil menangkap lima orang dan masih memburu 20 lainnya.
Dilansir dari laman BBC, Senin (20/11), peristiwa itu terjadi di sebuah penjara di Provinsi Songkhla, dekat perbatasan dengan Malaysia pada dini hari. Aparat keamanan setempat menyatakan orang Uighur itu berhasil kabur setelah menggali terowongan menembus dinding sel menggunakan pecahan keramik. Mereka kemudian memanjat tembok dengan kawat berduri menggunakan sejumlah selimut yang diikat, sehingga berfungsi seperti tali.
"Kami masih mencari 20 orang lagi. Suara mereka tersamarkan karena hujan lebat," kata aparat setempat yang enggan ditulis namanya.
Aparat menyatakan mereka sudah membentuk pos pemeriksaan di sepanjang perbatasan buat mencegah mereka kabur lebih jauh. Mereka yang kabur juga tidak mempunyai dokumen kependudukan. Akibatnya, China dan Turki saling mengklaim kalau itu adalah warga negara mereka.
Etnis Uighur sebenarnya adalah orang Turkic muslim. Mulanya mereka tinggal di negara bernama Turkestan Timur, yang diduduki oleh China pada 1949. Sejak itu China melakukan transmigrasi etnis Han secara besar-besaran ke wilayah dihuni orang Uighur.
Banyak etnis Uighur merupakan pemeluk Islam dari Provinsi Xinjiang, China, memilih kabur karena rezim komunis setempat mengekang dan menindas mereka. Mereka dilarang beribadah atau mempraktikkan kebudayaan. Pemerintah China juga memaksa mereka tidak menggunakan bahasa Turkic. Makanya sebagian dari mereka memilih melawan. Namun, China bertindak lebih keras dengan mengirim pasukan bersenjata lengkap buat memburu apa yang mereka sebut 'kelompok separatis dan teroris'. Banyak orang Uighur disiksa dan tewas dieksekusi. Meski demikian, China membantah tudingan itu. Demi menyelamatkan diri, mereka memilih kabur ke negara-negara Asia Tenggara buat singgah sebelum menuju Turki.
Pemerintah Thailand juga pada Juli 2015 memulangkan seratus orang Uighur ke China. Hal itu ditentang banyak pegiat hak asasi karena sama saja secara tidak langsung membunuh orang Uighur. Insiden ledakan bom di Kuil Erawan, Ibu Kota Bangkok, dua tahun lalu, diduga sebagai reaksi terhadap kebijakan Thailand itu.
Baca juga:
Amnesty Internasional: China tahan 30 kerabat pemimpin Uighur yang diasingkan
Muslim Uighur di China dilarang simpan sajadah dan Alquran
Pejabat China sebut warga muslim Xinjiang paling bahagia sedunia
Muslim China dilarang pakai bahasa mereka di sekolah
Polisi Italia tahan aktivis Uighur saat hendak gelar jumpa pers
China larang bahasa Uighur dipakai di sekolah