Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

China larang bahasa Uighur dipakai di sekolah

China larang bahasa Uighur dipakai di sekolah Muslim Uighur di Thailand. ©REUTERS/Athit Perawongmetha

Merdeka.com - Rezim komunis China terus melanjutkan praktik penindasan terhadap warga etnis Uighur di Provinsi Xinjiang. Setelah menerbitkan sejumlah kebijakan diskriminatif, mereka kini menyatakan melarang bahasa Uighur dipakai di sekolah-sekolah di Xinjiang.

Dilansir dari laman RFA, Minggu (30/7), menurut laporan, Departemen Pendidikan di Kotamadya Hetian, Provinsi Xinjiang, melarang penggunaan bahasa Uighur di seluruh tingkatan sekolah. Alasan mereka adalah hal itu supaya tercipta asimilasi antara warga etnis Uighur dengan penduduk mayoritas lain.

Dalam aturan itu, pihak sekolah diharuskan menyeragamkan penggunaan bahasa nasional dan sistematika penulisan China. Jika ada yang coba-coba mengajarkan bahasa Uighur, maka dia bakal dihukum.

Padahal, kebijakan itu bertentangan dengan undang-undang dasar China. Dalam Pasal 4 disebutkan "Semua orang bebas menggunakan dan mengembangkan bahasa dan tulisan, untuk melestarikan kebiasaan'. Sedangkan pada Pasal 121, 'Pemerintah daerah di China harus membudayakan berbahasa dan menulis dalam bahasa biasa digunakan di daerah itu'.

Hal itu kemudian dipertegas dalam Aturan Hukum Berbahasa pada Wilayah Otonomi Etnis di China. Dalam pasal 10 beleid itu disebutkan 'Pemerintah menjamin kebebasan warga di daerah itu berbicara dan menulis menggunakan bahasa mereka, buat melestarikan tradisi dan kebiasaan'. Kemudian pada Pasal 37 disebutkan, 'Sekolah dan lembaga pendidikan yang merekrut pelajar etnis minoritas menggunakan buku pelajaran dalam bahasa mereka, sekaligus dalam proses pembelajaran, jika dimungkinkan'.

Menurut pegiat dan Presiden Asosiasi Uighur Amerika Serikat, Ilshat Hasan, kebijakan melarang penggunaan bahasa Uighur di sekolah menunjukkan pemerintah komunis China justru melanggar aturan mereka buat dan sepakati bersama. Meski ada embel-embel hal itu demi memperkuat program dwi bahasa dalam sekolah, tetapi kenyataannya seperti membunuh penutur bahasa Uighur perlahan-lahan. Padahal menurut dia, orang Uighur adalah penutur bahasa Turkic paling uzur di dunia.

"ini adalah bentuk pembantaian budaya. Dunia tidak boleh diam membiarkan China menghancurkan bahasa dan budaya kami yang indah, dan sudah bertahan selama ribuan tahun," kata Hasan.

(mdk/ary)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP