Keputusan Mencla-mencle AFC, ini Kata Pengamat soal Arab Saudi & Qatar jadi Tuan Rumah Putaran 4
Pengamat sepak bola di Indonesia mengkritik keputusan penunjukan Arab Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah untuk putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Penunjukan Arab Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah untuk putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan peluang Timnas Indonesia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Selain Timnas Indonesia, putaran keempat yang akan dimulai pada 8 Oktober mendatang juga melibatkan nasib tim-tim lainnya, seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Irak, dan Oman. Pengamat sepak bola nasional, Gita Suwondo, memberikan kritik terhadap keputusan AFC mengenai penunjukan tuan rumah tersebut.
Gita menyatakan, "Kalau dibilang pantas enggak pantas, atau etis enggak etis, mungkin jadi nggak etis karena bisa dibilang AFC mencla-mencle sejak awal."
Ia juga menambahkan, "Dibilang kan akan ada tempat netral untuk putaran keempat. Menjelang November - Desember lalu kan dibilang bahwa akan di-central live di sebuah negara dari dua grup ini."
Menurutnya, ada ketidakpastian dalam pernyataan AFC yang membingungkan. "Kemudian Maret kemarin keluar narasi yang mengatakan bahwa siapa pun yang mendapat poin paling tinggi di antara urutan ketiga dan keempat mereka yang akan menjadi tuan rumah," imbuhnya.
Gita juga menegaskan bahwa berdasarkan perhitungan poin, seharusnya Irak dan Uni Emirat Arab yang layak menjadi tuan rumah. "Jadi kalau mengacu ke sana kan harusnya Irak dan Uni Emirat Arab karena mereka sama-sama punya poin 15. Qatar itu 13, Arab Saudi 13, kita 12, Oman juga 12."
Ia menambahkan, "Jadi kemudian akhirnya disebutkan terakhir penunjukan Arab Saudi dan Qatar adalah karena peringkat mereka tertinggi di ranking FIFA," ujarnya lagi.
Berdasarkan Peringkat FIFA
Gita menjelaskan lebih lanjut bahwa FIFA akan segera mengeluarkan peringkat terbaru. Berdasarkan koefisien yang ada, seharusnya tidak ada dua negara tersebut yang terpilih sebagai tuan rumah. "Tanggal 1 Juli nanti keluar ranking baru dengan kemarin Irak mencatat kemenangan dan Arab Saudi kalah dari Australia. Urutan 58 dan 59 ini akan bisa berubah jadi Irak yang 58, Arab Saudi yang 59. Atau Arab Saudi mundur jadi 60 karena ada pengurangan poin," jelasnya.
Gita juga menambahkan, "Jadi nggak patokan juga bahwa rangking yang tertingginya akan Qatar dan Irak mungkin. Namun, balik lagi, ini masalah politis sudah. Berat ngomongnya. Suudzon mungkin saya."
Utang Budi?
Gita Suwondo menjelaskan bahwa terdapat rasa utang budi yang dirasakan oleh FIFA terhadap dua negara tersebut, sehingga keduanya dengan relatif mudah memperoleh persetujuan dari FIFA. "Cuma, artinya gini. Kita bicara Piala Dunia 2034, 48 finalis. Kan 2026 mulai 48 finalis. Kalau 2030 karena 100 tahun Piala Dunia jadi 64 finalis. Kalau enggak turun lagi tetap 64 finalis, siapa negara bisa sendirian menyelenggarakan ini? Ya Arab Saudi. Makanya bidding 2034 nggak ada lawan Arab Saudi. Itu satu utang budi FIFA," ungkap Gita Suwondo sambil tertawa.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Qatar memiliki keuntungan dalam hal pengembangan pemuda yang diusung oleh FIFA, terutama untuk kategori U-17, yang tidak siap dalam waktu dua tahun. "Setiap tahun sekarang. Ada di Qatar 48 finalis. Kita salah satu finalisnya. Artinya keuntungan buat kita karena 48 finalis. Coach Nova Arianto yang pegang. Namun, balik lagi utang budi FIFA ke Qatar. Melihatnya sih seperti itu," tutupnya.