Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Usai Bertemu Bahas Pesawat Max 8, Bos Garuda Indonesia dan Boeing Kompak Tutup Mulut

Usai Bertemu Bahas Pesawat Max 8, Bos Garuda Indonesia dan Boeing Kompak Tutup Mulut Dirut Garuda Indonesia Ari Askhara. ©2018 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara, enggan berkomentar mengenai hasil pertemuan dengan petinggi The Boeing Company. Pertemuan tersebut digelar pagi ini di kawasan perkantoran Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Dikutip dari Antara, Kamis (28/3), Ari Askhara setelah pertemuan segera memasuki mobil setelah menyapa beberapa jurnalis yang menunggu sejak pagi hari. Dirut Garuda itu tidak mau berkomentar dan menyatakan bahwa dia terburu-buru karena ada pertemuan lain.

Sementara, petinggi Boeing yaitu Sales Director International Sales The Boeing Company, Samir Belyamani, juga menyatakan tidak mau berkomentar. Namun, ujar Samir, pekerja media bisa mengajukan pertanyaan melalui email atau surat elektronik yang akan dibalas pihak kantor regional di Singapura.

Sebelumnya, pihak Maskapai Garuda Indonesia akan bertemu dengan petinggi perusahaan manufaktur pesawat asal Amerika Serikat Boeing terkait pengajuan pembatalan pengiriman 49 unit pesawat Boeing 737 Max 8.

"Mereka (petinggi Boeing) akan datang ke Indonesia," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara.

Ari mengatakan, pihaknya telah mengajukan pembatalan tersebut, dan kemungkinan juga mengusulkan penggantian dengan jenis pesawat lainnya. "Kemungkinan (penukaran) itu ada, tapi saat ini belum mengajukan opsi ke Boeing, baru ‘cancel’ saja," katanya.

Dari total 50 unit pesawat Boeing 737 Max 8 yang dipesan Garuda Indonesia, satu di antaranya sudah dioperasikan untuk penerbangan domestik. Namun, dia mengaku masih belum dibahas terkait satu unit Boeing 737 Max 8 yang sudah beroperasi tersebut.

Terkait biaya yang sudah dikeluarkan untuk pembelian pesawat tersebut, Ari mengatakan semua dibeli menggunakan skema pembiayaan (leasing). "Kami tidak ada ‘capital expenditure’ tapi ‘operational expenditure’," katanya.

Ari mengatakan alasan pembatalan tersebut karena hilangnya kepercayaan publik terhadap pesawat Boeing 737 Max 8 setelah mengalami dua kali kecelakaan, yakni Lion Air JT 610 dan Ethiophian Airlines ET 302.

Terlebih, sejumlah otoritas penerbangan Uni Eropa dan Amerika Serikat Federal Aviation Administration sudah melarang sementara pengoperasian jenis pesawat tersebut. Sejauh ini satu Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia tengah dikandangkan usai pelarangan terbang oleh pemerintah.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP