Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyebut bahwa industri penerbangan dunia saat ini butuh suntikan dana segar dari pemerintah antara USD 150-200 miliar atau sekitar Rp3.147 triliun untuk bertahan dari krisis virus corona atau Covid-19.
IATA memperkirakan, global bailout bisa saja muncul setelah ada pernyataan bahwa operator maskapai di Amerika Serikat akan membutuhkan bantuan sampai USD 58 miliar.
CEO IATA Alexandre de Juniac beranggapan, pandemi corona tampaknya akan merombak perindustrian, di mana banyak maskapai jatuh dan yang lainnya akan saling berkonsolidasi untuk membentuk kelompok usaha baru.
Peringatan ini disebutnya datang ketika pemerintahan di seluruh dunia mengindikasikan bahwa mereka akan aktif mengajukan proposal untuk menyelamatkan perusahaan penerbangan. Seperti yang terjadi di Italia, di mana pemerintah setempat berencana untuk menasionalisasi ulang perusahaan maskapai besar Alitalia.
"Airbus SE dan Boeing Co juga sedang dalam pembicaraan untuk mendapat dukungan negara. European Company (SE) mengumumkan penutupan sementara untuk memenuhi persyaratan kebersihan yang lebih ketat," ujar dia, seperti dilansir Bloomberg.
Di industri penerbangan, IATA yang membawahi 290 maskapai di seluruh dunia yang sebelumnya menyampaikan, dugaan bahwa pihak operator akan kehilangan USD 113 miliar pendapatan tahun ini itu sudah usang.
Perhitungan tersebut dianggap tidak memperhitungkan penutupan dan larangan terbang yang diberlakukan di seluruh dunia akibat penyebaran corona.
Advertisement
Industri Penerbangan Butuh Banyak Bantuan
Chieft Economist IATA Brian Pearce menyampaikan, hanya sekitar 30 maskapai dunia yang punya utang dan pendapatan yang cukup sehat.
"Bahkan operator yang lebih kuat pun mungkin hanya memiliki uang yang cukup untuk bertahan hidup beberapa bulan tanpa bantuan. Itu membuat adanya risiko jangka pendek berupa kebangkrutan," dia menambahkan.
Sementara menurut De Juniac, maskapai penerbangan saat ini membutuhkan banyak bantuan. Mulai dari dana talangan penuh, jaminan pinjaman, dukungan pasar obligasi, dan keringanan pajak.
"Bahkan mungkin pasca krisis berlalu, pihak operator tetap akan dalam kondisi lemah, dan pemerintah harus mengurangi beban umum di sektor ini," tegas dia.
Reporter: Maulandy
Sumber: Liputan6.com