Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin mendorong Indonesia jadi negara hub produksi vaksin mRNA. Usulan itu bakal didorong saat Indonesia memegang Presidensi G20 pada 2022 mendatang.
Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat konferensi pers Sherpa Meeting I Presidensi G20 secara virtual, Senin (7/12).
"Bapak Presiden (Jokowi) melihat topik yaitu arsitektur kesehatan global, terutama untuk mendorong Asean termasuk Indonesia agar menjadi hub produksi vaksin berbasis mRNA," kata Menko Airlangga.
Melalui usulan itu, Presiden Jokowi disebutnya ingin agar setiap negara dengan populasi lebih dari 100 juta jiwa memiliki pusat produksi vaksin sendiri.
"Jadi usulan kita adalah di setiap negara berpopulasi 100 juta, minimal ada satu center untuk produksi vaksin. Dan tentu ada kaitannya dengan hak intelektual terhadap vaksin tersebut yang perlu dikerjasamakan secara global," tutur Menko Airlangga.
Pernyataan senada sempat dilontarkan Menteri BUMN Erick Thohir saat berbincang dengan mantan bos Microsoft, Bill Gates di sela-sela COP26 di Glasgow, Skotlandia.
Dari perbincangan itu, Bill Gates berencana menanamkan investasi di Biofarma yang dikhususkan untuk pengembangan dan produksi vaksin mRNA. Jika itu terealisasi, maka secara langsung akan mendorong produk bioteknologi Tanah Air semakin berkembang dan kemandirian kesehatan Indonesia segera terwujud.
"Pertemuan khusus dengan Bill Gates untuk membahas minatnya berinvestasi di Biofarma dalam alih teknologi dalam pengembangan vaksin mRNA. Biofarma terbuka akan hal itu. Ini merupakan pengakuan atas kapasitas Biofarma yang berperan besar dalam proses produksi dan distribusi vaksin Covid-19 sehingga program vaksinasi nasional berjalan lancar dan mendapat apresiasi dunia internasional," papar Menteri Erick.
Advertisement
Kemunculan Omicron Imbas Ketimpangan Distribusi Vaksin Dunia
Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan kemunculan Covid-19 varian omicron merupakan akibat terjadinya ketimpangan sebaran vaksin. Ketersediaan vaksin di negara-negara berkembang seperti Afrika jauh lebih rendah dari negara-negara maju.
"Sekarang dunia terancam varian omicron dan ini menunjukkan adanya ketimpangan vaksin di negara maju dan negara berkembang," kata Menko Airlangga dalam konferensi pers Sherpa Meeting, Presidensi G20, Bali, Selasa (7/12).
Menko Airlangga menyebut, tingkat vaksinasi di Afrika Selatan baru mencapai 24 persen dan rata-rata di seluruh Afrika hanya mencapai 7 persen. Hal ini pun dianggap bisa mengganggu kehidupan masyarakat dan proses pemulihan ekonomi global. Mengingat pertumbuhan ekonomi tiap negara atau global sangat tergantung pada penanganan penyebaran virus corona.
"Kita melihat perekonomian ini masih bergantung pada situasi pandemi," katanya.
Maka, perlu dilakukan kolaborasi global untuk memastikan ketersediaan vaksin juga merata di negara berkembang. Dalam forum internasional tersebut diharapkan bisa menghasilkan langkah terobosan yang konkret. Sehingga bisa segera dieksekusi agar pemulihan ekonomi dunia berjalan bersamaan.
Menko Airlangga menambahkan dalam Presidensi G20 ini merupakan kesempatan bagi Indonesia menunjukkan kepemimpinannya di kancah global. Membantu menjawab berbagai tantangan yang ada dengan solusi yang lebih inklusif, berdaya tahan dan berkesinambungan.
"Presidensi ini adalah kesempatan menunjukkan kepemimpinan Indonesia di global," kata dia mengakhiri.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com