Kisah Pilu Zahra, Siswi SMP di Aceh yang Rela Jadi Kuli Bangunan demi Bertahan Hidup

Ia harus memikul tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya yang berada di bawah garis kemiskinan. Setiap hari Zahra harus rela bekerja sebagai kuli bangunan bersama kakak dan ibunya.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Kisah Pilu Zahra, Siswi SMP di Aceh yang Rela Jadi Kuli Bangunan demi Bertahan Hidup
Kisah pilu Zahra harus bekerja kuli bangunan demi bertahan hidup. ©2021 Kanal Youtube Valdian Saputra/editorial Merdeka.com

Seorang pelajar umumnya akan mengisi hari-harinya dengan belajar dan bermain bersama teman-teman sebayanya. Namun kenyataan berbeda harus dialami oleh Zahra, seorang siswi kelas tiga di SMP 5 Kota Lhokseumawe, Banda Aceh.

Pasalnya, Ia harus memikul tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya yang berada di bawah garis kemiskinan. Setiap hari Zahra harus rela bekerja sebagai kuli bangunan bersama kakak dan ibunya.

Bahkan Ia seringkali tak masuk sekolah lantaran harus bekerja menggarap bangunan tetangganya.

“Iya kerja bangunan, dari pagi sampai jam 5 sore,” terang Zahra seperti dikutip dari kanal Youtube Valdian Saputra.

Bagaimana kisah perjuangan Zahra selengkapnya? Berikut ulasannya.

Bekerja Mengikat Besi bersama Sang Ibu

©2021 Kanal Youtube Pesona Tanoh Rincong/editorial Merdeka.com

Setiap harinya Zahra harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebagai kuli bangunan, termasuk mengikat besi untuk pondasi. Bahkan pekerjaannya itu kerap membuat tangannya terluka dan memar.

Di usianya yang masih sangat muda, Zahra harus rela bekerja sebagai kuli bangunan setelah sang ayah pergi meninggalkan keluarganya.

“Ini dilakukan (ikat ikat besi) sejak suami pergi tanpa kabar,“ kata Lela, ibu dari Zahra.

Tinggal di Gubuk Kayu Seadanya

Zahra dan keluarganya kini tinggal di sebuah gubuk kayu sederhana di Desa Uteun Kot, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Mereka memilih tinggal di sini karena harga sewa yang murah. 

“Ini tinggalnya di sini. Karena sempat panik dan adik Zahra sakit akhirnya tinggal di sini tidur bergantian di luar. Walaupun satu ruangan jadi satu dengan dapur seperti ini tapi kami nyaman,” tambah sang Ibu.

Mengetahui kondisi keluarga Zahra yang memprihatinkan, para guru di sekolahnya pun berinisiatif untuk patungan demi bisa membangun rumah yang layak huni. Hingga rumah tersebut jadi, Zahra dan keluarganya harus tinggal di gubuk tersebut.

Membantu Pengobatan Kanker sang Adik

Adik Zahra, Suci Istiqomah, divonis dokter mengalami kanker saraf sejak kelas satu SD. Zahra bersama ibu dan kakaknya pun terus berjuang mengumpulkan uang untuk membantu pengobatan Suci.

“Untuk biaya sehari sekolah SD dan SMP termasuk pengobatan Suci yang sampai hari ini masih berobat,” terang Lela.

Demi bisa mencukupi biaya kebutuhan sehari-hari dan pengobatan untuk anaknya, selain menjadi kuli bangunan Lela juga bekerja sebagai buruh cuci.

Sebelumnya kondisi Zahra dan keluarganya yang memprihatinkan ini menjadi viral setelah rumah mereka yang sederhana diunggah di berbagai media sosial. Saat itu ada salah seorang guru yang berkunjung ke rumah Zahra lantaran ia kerap tak masuk sekolah.

Dari situ terungkap jika Zahra sering absen masuk sekolah karena harus bekerja sebagai kuli bangunan untuk membantu perekonomian keluarganya.

Mendapat Bantuan

Kisah hidup Zahra dan keluarganya pun viral di media sosial. Sejak itu beberapa bantuan mulai berdatangan. Salah satunya bantuan dari PLN setempat yang menggratiskan aliran listrik di rumahnya yang sedang dibangun.

Selain itu ada pula donasi dari para donatur setempat yang terketuk hatinya untuk membantu Zahra dan keluarganya.

Rekomendasi