Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

DPR Minta Pembukaan Sekolah Tak Serentak, Cuma di Zona Hijau Covid-19

DPR Minta Pembukaan Sekolah Tak Serentak, Cuma di Zona Hijau Covid-19 Air mancur di Gedung DPR. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta pembukaan tahun ajaran baru dibedakan setiap wilayah. Hetifah menilai, hanya sekolah di zona hijau bisa beraktivitas kembali. Hetifah mengatakan, prioritas utama adalah keselamatan siswa dan guru, kurikulum tidak masalah dinomorduakan.

"Jikalau memang sekolah ingin dibuka, harus dipastikan memang hanya untuk daerah yang berada dalam zona hijau sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Gugus Tugas Penanganan Covid-19," ujar Hetifah dalam keterangan yang diterima, Jumat (29/5).

Kendati sekolah dibuka kembali, kegiatan belajar mengajar diharapkan mengkombinasikan tatap muka dan virtual. Agar meminimalisir kontak langsung dan mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada.

"Kemendikbud harus terus menggencarkan program peningkatan kapasitas guru, kepala sekolah, dan orangtua agar hal ini dapat berjalan efektif," kata Hetifah.

Hetifah meminta, tenaga pendidik menjadi pihak yang aktif memantau keadaan para murid baik kesehatan jasmani maupun rohani. Serta diharapkan mensosialisasikan gerakan hidup sehat kepada siswa dan orangtua.

"Tenaga UKS juga harus dioptimalkan. Mereka harus secara aktif melakukan pengecekan kondisi kesehatan tiap muridnya setiap pagi sebelum masuk sekolah," ucapnya.

Hetifah mengakui tak semua wilayah terjangkau akses internet. Sehingga, dia meminta Kemendikbud dan Kominfo bekerjasama untuk menyediakan akses internet ke pelosok.

"Sebelum hal itu terwujud, Kemendikbud harus memikirkan program-program afirmasi bagi mereka, seperti program-program TVRI dan RRI, pendampingan guru ke rumah, dan lain-lain," ucapnya.

Politikus Golkar ini mengingatkan, pembukaan sekolah harus dibarengi penerapan standar yang baru. Hetifah mengatakan, sarana dan prasarana sanitasi perlu diperbaiki hingga ruang kelas diterapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak.

"Untuk sekolah yang belum dapat memenuhi standar-standar diatas, lebih baik untuk tidak dipaksakan dibuka dahulu," kata dia.

Lebih lanjut, Hetifah meminta Kemendikbud mencontoh pembukaan kegiatan belajar dari negara lain. Seperti di Australia yang memberlakukan murid hanya masuk seminggu sekali.

"Hal ini hanya agar guru dapat mengevaluasi keberjalanan pembelajaran daring yang telah dilakukan seminggu kebelakang, dan memberikan arahan untuk seminggu ke depan. Pertemuan antar-murid sangat diminimalisir," ucapnya.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP