Soeharto pernah kerja jadi tentara Belanda

Reporter : Ramadhian Fadillah | Senin, 4 Maret 2013 07:29




Soeharto pernah kerja jadi tentara Belanda
soeharto. Life via thegossip-celebrity.blogspot.com

Merdeka.com - Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto memiliki karier cemerlang dalam kemiliteran. Soeharto memimpin serangan Oemom 1 Maret 1949 dan mengobrak-abrik pertahanan Belanda di Yogyakarta.

Soeharto juga menjadi Panglima Mandala pembebasan Irian Barat tahun 1963. Kariernya menanjak hingga menjadi Panglima Kostrad dan Menteri Panglima Angkatan Darat sebelum akhirnya dilantik menjadi pejabat presiden tahun 1967.

Tapi siapa menyangka, Soeharto ternyata pernah menjadi tentara Belanda. Soeharto bergabung dalam Koninkijk Nederland Indische Leger (KNIL) atau tentara Hindia Belanda sebelum kedatangan bala tentara Jepang.

Dari kecil hingga remaja, Soeharto hidup melarat. Karena itu pula dia hanya bisa sekolah sampai sekolah lanjutan rendah. Kira-kira setingkat SMP.

Setelah lulus, Soeharto pun bingung cari pekerjaan. Dia sempat kerja di bank desa tapi dipecat. Tak ada kenalan yang bisa memberinya pekerjaan. Hidupnya sempat luntang-lantung.

Maka akhirnya Soekarno mendaftar jadi tentara Belanda. Hal ini diakuinya dalam buku biografinya Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya yang diterbitkan Cipta Lamtoro Gung Persada.

"Terasa agak lama sampai saya mendapat panggilan atas lamaran saya itu. Saya ikut ujian dan ternyata lulus dan diterima," kata Soeharto.

Ada dua sistem penerimaan KNIL untuk serdadu rendahan. Dinas panjang (langverband) atau ikatan dinas pendek (kortverband). Soeharto memilih kortverband karena karirnya lebih menjanjikan.

"Saya masuk kortverband di Gombong. Kami berlatih dari pagi sampai malam. Pengalaman ini berbeda sekali sewaktu menjadi pembantu klerk di Bank. Tapi saya menemukan kesenangan dan mulai tertarik untuk benar-benar bisa hidup dari pekerjaan ini," kenang Soeharto.

Soeharto lulus sebagai yang terbaik. Dia kemudian ditugaskan praktik menjadi wakil komandan regu di Batalion XIII di Rampal dekat Malang. Lalu menjaga pertahanan pantai di Gresik.

"Orang Belanda yang masih saya ingat ialah komandan kompi saya, Kapten Dryber, komandan peleton saya Letnan Hyneman dan komandan regu Sersan Jansen," beber Soeharto.

Saat itulah pecah perang dunia ke II di Pasifik. Tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah pada Jepang. Berakhir pulalah kiprah KNIL di Hindia Belanda.

Karena tak ingin ditangkap Jepang, Soeharto melepas atribut militernya. Dia kemudian menjadi polisi Jepang, lalu komandan kompi Pembela Tanah Air (PETA). Soeharto tak pernah mengaku dia mantan serdadu Belanda pada Jepang.

Pada era 1900-1942, menjadi serdadu KNIL Belanda bukanlah hal aneh bagi kaum pribumi. Bukan karena ideologi atau setia pada Belanda, tapi lebih sekadar cari makan. Umumnya pemuda-pemuda di daerah yang tandus dan tak punya pekerjaan mau jadi tentara karena tertarik upahnya.

Sejarawan Petrik Matanasi dalam buku KNIL, Bom Waktu Tinggalan Belanda mengutip pernyataan seorang perwira KNIL Didi Kartasasmita.

"Mereka menjadi alat pemerintahan bukan karena ideologi, tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup."

Para mantan KNIL ini di kemudian hari memegang peranan penting dalam TNI. Jenderal Besar AH Nasution, Kepala Staf Angkatan Perang Oerip Soemohardjo, dan Kolonel Alex Kawilarang, adalah mantan perwira KNIL.

Begitu juga Jenderal TB Simatupang dan Jenderal Ahmad Yani juga pernah merasakan menjadi serdadu Belanda. Dan masih banyak lagi.

Begitu Indonesia mengumumkan kemerdekaannya mereka segera bergabung dengan barisan keamanan rakyat (BKR). Di kemudian hari, mereka menjadi tokoh kunci TNI.

(Dari berbagai sumber)

Baca juga:

4 Tradisi spiritual dan kebatinan Pak Harto
4 Cerita menarik Soehartoarto memimpin serangan Oemom 1 Maret 1949 dan mengobrak-abrik pertahanan Belanda di Yogyakarta.

Soeharto juga menjadi Panglima Mandala pembebasan Irian Barat tahun 1963. Kariernya menanjak hingga menjadi Panglima Kostrad dan Menteri Panglima Angkatan Darat sebelum akhirnya dilantik menjadi pejabat presiden tahun 1967.

Tapi siapa menyangka, Soeharto ternyata pernah menjadi tentara Belanda. Soeharto bergabung dalam Koninkijk Nederland Indische Leger (KNIL) atau tentara Hindia Belanda sebelum kedatangan bala tentara Jepang.

Dari kecil hingga remaja, Soeharto hidup melarat. Karena itu pula dia hanya bisa sekolah sampai sekolah lanjutan rendah. Kira-kira setingkat SMP.

Setelah lulus, Soeharto pun bingung cari pekerjaan. Dia sempat kerja di bank desa tapi dipecat. Tak ada kenalan yang bisa memberinya pekerjaan. Hidupnya sempat luntang-lantung.

Maka akhirnya Soekarno mendaftar jadi tentara Belanda. Hal ini diakuinya dalam buku biografinya Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya yang diterbitkan Cipta Lamtoro Gung Persada.

"Terasa agak lama sampai saya mendapat panggilan atas lamaran saya itu. Saya ikut ujian dan ternyata lulus dan diterima," kata Soeharto.

Ada dua sistem penerimaan KNIL untuk serdadu rendahan. Dinas panjang (langverband) atau ikatan dinas pendek (kortverband). Soeharto memilih kortverband karena karirnya lebih menjanjikan.

"Saya masuk kortverband di Gombong. Kami berlatih dari pagi sampai malam. Pengalaman ini berbeda sekali sewaktu menjadi pembantu klerk di Bank. Tapi saya menemukan kesenangan dan mulai tertarik untuk benar-benar bisa hidup dari pekerjaan ini," kenang Soeharto.

Soeharto lulus sebagai yang terbaik. Dia kemudian ditugaskan praktik menjadi wakil komandan regu di Batalion XIII di Rampal dekat Malang. Lalu menjaga pertahanan pantai di Gresik.

"Orang Belanda yang masih saya ingat ialah komandan kompi saya, Kapten Dryber, komandan peleton saya Letnan Hyneman dan komandan regu Sersan Jansen," beber Soeharto.

Saat itulah pecah perang dunia ke II di Pasifik. Tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah pada Jepang. Berakhir pulalah kiprah KNIL di Hindia Belanda.

Karena tak ingin ditangkap Jepang, Soeharto melepas atribut militernya. Dia kemudian menjadi polisi Jepang, lalu komandan kompi Pembela Tanah Air (PETA). Soeharto tak pernah mengaku dia mantan serdadu Belanda pada Jepang.

Pada era 1900-1942, menjadi serdadu KNIL Belanda bukanlah hal aneh bagi kaum pribumi. Bukan karena ideologi atau setia pada Belanda, tapi lebih sekadar cari makan. Umumnya pemuda-pemuda di daerah yang tandus dan tak punya pekerjaan mau jadi tentara karena tertarik upahnya.

Sejarawan Petrik Matanasi dalam buku KNIL, Bom Waktu Tinggalan Belanda mengutip pernyataan seorang perwira KNIL Didi Kartasasmita.

"Mereka menjadi alat pemerintahan bukan karena ideologi, tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup."

Para mantan KNIL ini di kemudian hari memegang peranan penting dalam TNI. Jenderal Besar AH Nasution, Kepala Staf Angkatan Perang Oerip Soemohardjo, dan Kolonel Alex Kawilarang, adalah mantan perwira KNIL.

Begitu juga Jenderal TB Simatupang dan Jenderal Ahmad Yani juga pernah merasakan menjadi serdadu Belanda. Dan masih banyak lagi.

Begitu Indonesia mengumumkan kemerdekaannya mereka segera bergabung dengan barisan keamanan rakyat (BKR). Di kemudian hari, mereka menjadi tokoh kunci TNI.

(Dari berbagai sumber)

Baca juga:

4 Tradisi spiritual dan kebatinan Pak Harto
4 Cerita menarik Soeharto dan hobinya memancing
Emas Astana Giribangun & ledakan saat penggalian makam Soeharto
Soehartokemiliteran. Soeharto memimpin serangan Oemom 1 Maret 1949 dan mengobrak-abrik pertahanan Belanda di Yogyakarta.

Soeharto juga menjadi Panglima Mandala pembebasan Irian Barat tahun 1963. Kariernya menanjak hingga menjadi Panglima Kostrad dan Menteri Panglima Angkatan Darat sebelum akhirnya dilantik menjadi pejabat presiden tahun 1967.

Tapi siapa menyangka, Soeharto ternyata pernah menjadi tentara Belanda. Soeharto bergabung dalam Koninkijk Nederland Indische Leger (KNIL) atau tentara Hindia Belanda sebelum kedatangan bala tentara Jepang.

Dari kecil hingga remaja, Soeharto hidup melarat. Karena itu pula dia hanya bisa sekolah sampai sekolah lanjutan rendah. Kira-kira setingkat SMP.

Setelah lulus, Soeharto pun bingung cari pekerjaan. Dia sempat kerja di bank desa tapi dipecat. Tak ada kenalan yang bisa memberinya pekerjaan. Hidupnya sempat luntang-lantung.

Maka akhirnya Soekarno mendaftar jadi tentara Belanda. Hal ini diakuinya dalam buku biografinya Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya yang diterbitkan Cipta Lamtoro Gung Persada.

"Terasa agak lama sampai saya mendapat panggilan atas lamaran saya itu. Saya ikut ujian dan ternyata lulus dan diterima," kata Soeharto.

Ada dua sistem penerimaan KNIL untuk serdadu rendahan. Dinas panjang (langverband) atau ikatan dinas pendek (kortverband). Soeharto memilih kortverband karena karirnya lebih menjanjikan.

"Saya masuk kortverband di Gombong. Kami berlatih dari pagi sampai malam. Pengalaman ini berbeda sekali sewaktu menjadi pembantu klerk di Bank. Tapi saya menemukan kesenangan dan mulai tertarik untuk benar-benar bisa hidup dari pekerjaan ini," kenang Soeharto.

Soeharto lulus sebagai yang terbaik. Dia kemudian ditugaskan praktik menjadi wakil komandan regu di Batalion XIII di Rampal dekat Malang. Lalu menjaga pertahanan pantai di Gresik.

"Orang Belanda yang masih saya ingat ialah komandan kompi saya, Kapten Dryber, komandan peleton saya Letnan Hyneman dan komandan regu Sersan Jansen," beber Soeharto.

Saat itulah pecah perang dunia ke II di Pasifik. Tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah pada Jepang. Berakhir pulalah kiprah KNIL di Hindia Belanda.

Karena tak ingin ditangkap Jepang, Soeharto melepas atribut militernya. Dia kemudian menjadi polisi Jepang, lalu komandan kompi Pembela Tanah Air (PETA). Soeharto tak pernah mengaku dia mantan serdadu Belanda pada Jepang.

Pada era 1900-1942, menjadi serdadu KNIL Belanda bukanlah hal aneh bagi kaum pribumi. Bukan karena ideologi atau setia pada Belanda, tapi lebih sekadar cari makan. Umumnya pemuda-pemuda di daerah yang tandus dan tak punya pekerjaan mau jadi tentara karena tertarik upahnya.

Sejarawan Petrik Matanasi dalam buku KNIL, Bom Waktu Tinggalan Belanda mengutip pernyataan seorang perwira KNIL Didi Kartasasmita.

"Mereka menjadi alat pemerintahan bukan karena ideologi, tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup."

Para mantan KNIL ini di kemudian hari memegang peranan penting dalam TNI. Jenderal Besar AH Nasution, Kepala Staf Angkatan Perang Oerip Soemohardjo, dan Kolonel Alex Kawilarang, adalah mantan perwira KNIL.

Begitu juga Jenderal TB Simatupang dan Jenderal Ahmad Yani juga pernah merasakan menjadi serdadu Belanda. Dan masih banyak lagi.

Begitu Indonesia mengumumkan kemerdekaannya mereka segera bergabung dengan barisan keamanan rakyat (BKR). Di kemudian hari, mereka menjadi tokoh kunci TNI.

(Dari berbagai sumber)

Baca juga:

4 Tradisi spiritual dan kebatinan Pak Harto
4 Cerita menarik Soeharto dan hobinya memancing
Emas Astana Giribangun & ledakan saat penggalian makam Soeharto
Soeharto malu baru disunat umur 14 tahun

Ada dua sistem penerimaan KNIL untuk serdadu rendahan. Dinas panjang (langverband) atau ikatan dinas pendek (kortverband). Soeharto memilih kortverband karena karirnya lebih menjanjikan.

"Saya masuk kortverband di Gombong. Kami berlatih dari pagi sampai malam. Pengalaman ini berbeda sekali sewaktu menjadi pembantu klerk di Bank. Tapi saya menemukan kesenangan dan mulai tertarik untuk benar-benar bisa hidup dari pekerjaan ini," kenang Soeharto.

Soeharto lulus sebagai yang terbaik. Dia kemudian ditugaskan praktik menjadi wakil komandan regu di Batalion XIII di Rampal dekat Malang. Lalu menjaga pertahanan pantai di Gresik.

"Orang Belanda yang masih saya ingat ialah komandan kompi saya, Kapten Dryber, komandan peleton saya Letnan Hyneman dan komandan regu Sersan Jansen," beber Soeharto.

Saat itulah pecah perang dunia ke II di Pasifik. Tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah pada Jepang. Berakhir pulalah kiprah KNIL di Hindia Belanda.

Karena tak ingin ditangkap Jepang, Soeharto melepas atribut militernya. Dia kemudian menjadi polisi Jepang, lalu komandan kompi Pembela Tanah Air (PETA). Soeharto tak pernah mengaku dia mantan serdadu Belanda pada Jepang.

Pada era 1900-1942, menjadi serdadu KNIL Belanda bukanlah hal aneh bagi kaum pribumi. Bukan karena ideologi atau setia pada Belanda, tapi lebih sekadar cari makan. Umumnya pemuda-pemuda di daerah yang tandus dan tak punya pekerjaan mau jadi tentara karena tertarik upahnya.

Sejarawan Petrik Matanasi dalam buku KNIL, Bom Waktu Tinggalan Belanda mengutip pernyataan seorang perwira KNIL Didi Kartasasmita.

"Mereka menjadi alat pemerintahan bukan karena ideologi, tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup."

Para mantan KNIL ini di kemudian hari memegang peranan penting dalam TNI. Jenderal Besar AH Nasution, Kepala Staf Angkatan Perang Oerip Soemohardjo, dan Kolonel Alex Kawilarang, adalah mantan perwira KNIL.

Begitu juga Jenderal TB Simatupang dan Jenderal Ahmad Yani juga pernah merasakan menjadi serdadu Belanda. Dan masih banyak lagi.

Begitu Indonesia mengumumkan kemerdekaannya mereka segera bergabung dengan barisan keamanan rakyat (BKR). Di kemudian hari, mereka menjadi tokoh kunci TNI.

(Dari berbagai sumber)

Baca juga:

4 Tradisi spiritual dan kebatinan Pak Harto

[ren]

KUMPULAN BERITA
# Soeharto

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER
LATEST UPDATE
  • Bicara soal kelautan, Susi akan panggil duta besar negara asing
  • Jokowi diperiksa soal kasus Obor Rakyat di rumdin gubernur DKI
  • Soal hedging, Pertamina siap ikuti aturan BI dan pemerintah
  • Politikus PDIP: Pimpinan DPR tandingan untuk melawan KMP
  • Rini buka peluang tarik personel internal jadi bos Pertamina
  • NasDem nilai Presiden Jokowi tak perlu terbitkan Perppu MD3
  • Rekan jadi korban kriminalisasi, ratusan notaris geruduk MA
  • Sambut Halloween, lelaki Amerika penggal kepala ibunya
  • Honda Remix, matic street-extreme pesaing Yamaha X-ride
  • Hendra OB mengaku didandani jaksa selepas diciduk
  • SHOW MORE