Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mahasiswa UB Malang bikin tas cerdas untuk penderita asma

Mahasiswa UB Malang bikin tas cerdas untuk penderita asma Sanbav. ©2016 merdeka.com/darmadi sasongko

Merdeka.com - Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang menciptakan terobosan baru untuk para penderita asma. Sebuah alat yang dinamakan Sanbav, diciptakan untuk mendeteksi kondisi lingkungan yang menjadi pemicu kambuhnya sesak napas.

Alat tersebut dikemas dalam satu paket tas yang mudah dibawa dalam perjalanan ke mana pun. Selain itu, juga terkoneksi langsung dengan Android di smartphone, sehingga penderita dapat mengambil solusi pencegahan secara dini.

Karena itu, para penemunya menamakan alat tersebut Sanbav, singkatan dari Smart Android Bag for Asthma Prevention. Tim penemu Sanbav terdiri dari Muhammad Nur Azis (Teknik Mesin), Mohammad Efendi Sofyan (Teknik Mesin), Shofia Medina Samara (Pendidikan Dokter), Aisyah Nurul Amalia (Pendidikan Dokter) dan Nardo Golan (Teknik Elektro).

sanbav

Sanbav ©2016 merdeka.com/darmadi sasongko

"Ada empat parameter utama lingkungan yang dapat menyebabkan asma kambuh. Parameter itu antara lain suhu, kelembapan, partikel debu dan partikel gas," kata Shofia, anggota Tim Sanbav di Universitas Brawijaya, Jumat (3/6)

Kebanyakan pencetus asma, kata Shofia adalah suhu dingin sekitar 20 derajat celsius. Semakin tinggi kelembapan udara akan lebih mudah memunculkan kekambuhan asma, yakni sekitar 60-70 persen kelembapan.

Sementara untuk faktor gas dan debu, lebih banyak dicetuskan oleh gas CO2 dan debu berukuran kurang dari 5 mikron yang mencemari lingkungan. Penderita akan dengan mudah mengalami sesak dalam lingkungan dengan kondisi seperti tersebut di atas.

"Jadi sesungguhnya dari pencetus asma sampai asma kambuh ada beberapa rentang waktu. Di jarak waktu itu pengidap bisa berpindah dari lingkungan berbahaya atau menggunakan alat prevensi seperti masker dan inhaler," tambah Aisyah, anggota tim lain.

sanbav

Sanbav ©2016 merdeka.com/darmadi sasongko

Ketua Tim, Muhammad Nur Azis mengungkapkan, ide pembuatan Sanbav muncul dari para penderita asma yang sangat terganggu aktivitasnya. Sementara salah satu penyebab utama asma adalah lingkungan, tetapi belum ada alat deteksi yang secara cepat memberikan informasi.

"Kita mencari solusi mendeteksi kondisi lingkungan, berupa alat yang dibentuk menjadi sebuah tas agar mudah dipakai dan tidak menggangu pengguna," ujar Azis.

Tas Sanbav terkoneksi dengan android melalui bluetooth. Begitu diaktifkan, aplikasi di Android akan menampilkan parameter-parameter pencetus asma dengan nilai tertentu. Aplikasi ini nantinya bisa didapatkan pada Google PlayStore.

Ketika angka yang ditampilkan pada aplikasi keluar dari parameter normal, maka akan muncul sinyal kondisi bahaya dan muncul instruksi untuk penggunanya. Misalnya, pengguna dianjurkan untuk menghindari lokasi ketika temperatur terlalu rendah ataupun memakai masker ketika lingkungan terkontaminasi partikel debu.

Paling penting juga, alat ini bisa dikalibrasi sesuai kebutuhan pengguna. Karena setiap pengidap asma masing-masing memiliki riwayat tersendiri. Sementara standar parameter Sanbav diatur memakai data rata-rata yang paling valid.

"Jadi bisa memasukkan secara manual data parameter pencetus asma masing-masing individu yang disesuaikan dengan kondisi aktual pengguna. Jadi alat kita tidak kaku, bisa dikalibrasi menyesuaikan dengan kondisi pengguna masing-masing," tegasnya.

Nardo, anggota tim yang menangani pembuatan aplikasi menambahkan, alat tersebut juga dilengkapi guide book. Di dalamnya terdapat literatur lengkap berdasarkan referensi kedokteran yang terbaru dan teraktual.

Soal biaya, alat yang diriset sejak tahun 2014 itu menghabiskan dana sebesar Rp 1,5 juta. Namun untuk dikomersilkan masih bisa didapatkan harga yang lebih murah.

"Rencananya dipasang alarm, voice dan LCD. Diharapkan ke depan ketika tas tidak terkoneksi dengan android masih bisa berfungsi sebagai peringatan. Biar nanti pengguna tidak terbatas untuk orang normal, tetapi orang dengan cacat fisik masih bisa memakai," kata anggota tim lainnya Sofyan.

Proses pembuatan Sanbav melibatkan dosen pembimbing Prof. Dr. Ir. Rudy Soenoko, M.Eng.Sc dibantu dokter spesialis paru dr. Ungky Agus S., Sp.P dan Dr. Susanti Djajalaksana, Sp.P(K).

Baca juga:

Canggihnya Sanbav, tas karya mahasiswa UB untuk penderita asma

Mahasiswa Brawijaya buktikan tanaman padi bisa hasilkan listrik

Mahasiswa di Malang temukan alat pendeteksi pestisida di sayuran

Kisah anak kos buka gerai cuci sepatu hingga Singapura

Racikan 'obat' sepatu dokter Tirta menembus pasar dunia

Temuan mengagumkan listrik murah para mahasiswa (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP