Epidemiolog: Selama yang Diutamakan Ekonomi, Pandemi Covid-19 Tak akan Selesai

Dia berharap, Menkes Budi bisa membuat sektor Kesehatan menjadi leading sector di Indonesia.

Rifa Yusya Adilah
Oleh Rifa Yusya Adilah - Reporter
Epidemiolog: Selama yang Diutamakan Ekonomi, Pandemi Covid-19 Tak akan Selesai
Protokol kesehatan penumpang KRL. ©Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Epidemiolog Universitas Airlangga, Windhu Purnomo menyayangkan sikap pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19 selama 11 bulan ini. Menurutnya, pemerintah lebih mengedepankan sektor ekonomi daripada sektor kesehatan masyarakat.

“Jatuhnya ekonomi suatu negara itu efek dari pandemi bukan penyebab. Selama yang diutamakan adalah ekonominya, maka pandemi tidak akan pernah selesai,” kata Windhu saat dihubungi merdeka.com, Rabu (30/12).

Menurutnya, pemerintah masih punya waktu untuk segera memperbaiki kebijakan dalam menanggulangi pandemi Covid-19 ini. Windhu pun menaruh harapan kepada Menteri Kesehatan RI yang baru, yakni Budi Sadikin.

Dia berharap, Menkes Budi bisa membuat sektor Kesehatan menjadi leading sector di Indonesia. Sehingga, seluruh kebijakan yang dilakukan akan mengutamakan kesehatan masyarakat Indonesia.

“Mudah-mudahan pemerintah mulai sadar. Nah sekarang kan sudah ada Menkes baru, menurut saya dia cukup cerdas meskipun bukan dari kalangan kesehatan. Dia cepat belajar. Ya, mudah-mudahan bisa mengubah semuanya termasuk pengorganisasian,” kata Windhu.

Windhu mengatakan, sosok pemimpin dalam suatu organisasi sangatlah penting. Sehingga menurutnya, peran Menkes Budi dalam mengatasi pandemi Covid-19 di Indonesia ini sangatlah penting.

“Pengorganisasian penting karena ide itu tidak akan dijalankan kalau dia tidak jadi leader. Jadi leading sector-nya harus kesehatan, jangan seperti sekarang ini. Kemarin saja tetap ada cuti bersama lalu pintu-pintu pariwisata dibuka,” ujarnya.

Dia pun menyoroti kebijakan pemerintah yang baru menutup akses Warga Negara Asing per 1 Januari 2020 dengan alasan masih ada traveller yang hendak ke Indonesia. Menurutnya, kebijakan itu bukti bahwa pemerintah lebih mengutamakan sektor ekonomi.

“Kemarin bandara ramai padahal ada virus varian baru yang lebih menular, kita nunggu 1 Januari dulu baru WNA distop datang. WNA sudah datang ke Indonesia duluan, nah itu kan bisa bawa virus baru itu,” kata dia.

Dia pun sangat menyayangkan kebijakan tersebut. Menurutnya, masyarakat sudah mulai tidak percaya dengan pemerintah. Hal ini terbukti dari ramainya mal walaupun ditutup jam 7 dan ramainya lokasi wisata di Bali walaupun pemerintah mengimbau masyarakat untuk merayakan tahun baru di rumah.

“Nah pemerintah sudah kehilangan momen, masyarakat sudah terlanjur lelah karena pemerintahnya bukan fokus di bidang Kesehatan. Terus terang, pemerintah lamban karena bingung apa yang harus diprioritaskan. Padahal tidak perlu bingung,” tutupnya.

Rekomendasi