Corona Dunia: 4 Negara Miskin Ini Melangkah Cepat Atasi Penyebaran Wabah COVID-19
Merdeka.com - Dampak COVID-19 cenderung lebih terasa bagi negara-negara miskin dan berkembang. Hal ini karena negara miskin dan berkembang kurang memiliki kapasitas untuk menyerap guncangan akibat COVID-19. Infrastruktur yang buruk dan kurangnya sumber daya juga menghambat upaya kesehatan masyarakat. Kebersihan dasar dan kurangnya fasilitas cuci tangan serta sabun juga menjadi masalah utama bagi orang miskin.
Melansir dari The Guardian, ekonom dan pakar kesehatan global telah meminta para pemimpin G20 untuk memberikan triliunan dolar kepada negara-negara miskin untuk menopang sistem ekonomi dan perawatan kesehatan di sana.
Namun, terdapat 4 negara miskin yang diketahui dapat menangani persebaran COVID-19 dan mengelola dampaknya sendiri dengan cukup baik untuk saat ini.
COVID-19 di Negara Miskin dan Berkembang
Seperti kebanyakan negara berpenghasilan rendah dan menengah yang tak luput dari serangan COVID-19, situasi negara miskin dan berkembang tentu suram. Sistem kesehatan negara miskin dan berkembang terlalu lemah untuk menangani ledakan COVID-19. Tanpa perawatan intensif, akan ada lebih banyak orang yang meninggal di negara-negara ini. Meski pada kenyataannya, sejauh ini negara maju yang terkena dampak paling parah.
Tanpa kemewahan sistem rumah sakit yang didanai dengan baik, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah lainnya mulai meningkatkan langkah-langkah untuk mencegah penyebaran COVID-19.
Melansir dari Nature Research Journal, Nigeria langsung bergerak untuk menghentikan penyebaran sejak kasus pertama COVID-19 dikonfirmasi. Langkah-langkah preventif yang diterapkan antara lain; menghentikan sebagian besar kegiatan masyarakat, menjalankan sistem penangkapan bagi siapa saja yang melanggar, dengan cepat melakukan tes untuk mendeteksi persebaran virus, dan bersedia melakukan tes menggunakan alat-alat yang tersedia -meski hasilnya tidak seakurat dibandingkan apabila negara memiliki kapasitas laboratorium yang memadai.
Negara miskin dan berkembang secara eksponensial menghadapi lebih banyak kendala dalam pendanaan, kapasitas dan infrastruktur daripada negara-negara kaya. Mereka tidak bisa begitu saja mengikuti buku pedoman negara-negara teladan, seperti Korea Selatan dan Singapura, untuk membatasi penyebaran dengan cepat.
Empat negara ini - Nigeria, Peru, El Salvador dan Kenya - memberikan pandangan lain pada fase pandemi COVID-19. Pertempuran bergerak ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang berjuang untuk menahan COVID-19 sebelum lepas kendali.
1. Nigeria (323 kasus, 10 kematian)
Nigeria sedang berjuang melawan wabah penyakit mematikan, demam Lassa, ketika COVID-19 meledak di China. Melihat potensi infeksi COVID-19 yang menyebar, Chikwe Ihekweazu, director-general of the Nigeria Centre for Disease Control (NCDC) langsung meminta timnya untuk melakukan tes diagnostik.
Pada 3 Februari, laboratorium telah menerima persediaan untuk tes yang mendeteksi urutan genetik dari virus Corona menggunakan teknik yang dikenal sebagai PCR. Teknik ini dikembangkan oleh para peneliti di Jerman dan didistribusikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Segera setelah itu, Ihekweazu pergi bersama delegasi internasional peneliti penyakit menular dalam misi WHO ke Wuhan dan kota-kota lain di Cina. Tujuannya untuk mempelajari strategi tanggapan COVID-19 China dan mengumpulkan informasi tentang tingkat keparahan dan penularan penyakit.
Kasus Pertama Nigeria
Nigeria mengonfirmasi kasus pertamanya pada 27 Februari. Laboratorium kolaborasi NCDC di Lagos langsung mengirim sampel pada Christian Happi, ahli mikrobiologi di Redeemer's University di Ede. Timnya mengurutkan genom dari coronavirus dalam waktu tiga hari, lalu membuatnya tersedia secara online. Itu adalah genom SARS-Cov-2 pertama yang diurutkan di benua Afrika.
Langkah Pemerintah Nigeria Menekan Penyebaran COVID-19
Ketika penyebaran di Nigeria naik menjadi delapan pada 18 Maret, pihak berwenang melarang kedatangan orang dari negara-negara yang memiliki kasus COVID-19 di atas 1.000. Disusul dengan pelarangan pertemuan lebih dari 20 orang di Lagos dan Abuja, dan meminta bisnis yang tidak penting ditutup.
Pada 29 Maret, ketika kasus mendekati 100, Presiden Muhammadu Buhari mengumumkan penerbangan domestik ditangguhkan, dan pos pemeriksaan akan memblokir jalan untuk mencegah perjalanan yang tidak penting antar negara.
"Ini masalah hidup dan mati. Lihatlah korban tewas setiap hari yang mengerikan di Italia, Prancis, dan Spanyol," demikian ujar Presiden Buhari. Kebijakan melarang perjalanan domestik di Nigeria termasuk yang tercepat diterapkan daripada negara lain.
2. Peru (7.519 Kasus, 193 Kematian)
Peru mengumumkan langkah-langkah sosial yang ketat segera setelah mereka mengkonfirmasi kasus penularan lokal pertama. Pada 15 Maret terdapat sekitar 70 kasus. Peru menutup perbatasan dan sekolahnya, mengimbau masyarakat untuk tetap di rumah (kecuali untuk tugas penting pada siang hari) dan memberlakukan jam malam di beberapa tempat.
"Langkah-langkah ini penting, karena Peru adalah negara dengan 32 juta penduduk dengan sistem kesehatan yang buruk," kata Alejandro Llanos-Cuentas, seorang ilmuwan penyakit menular di Universitas Cayetano Heredia di Lima.
Langkah Pemerintah Peru Menekan Penyebaran COVID-19
Otoritas Peru juga menegakkan aturan itu. Pada jumpa pers, Presiden Martín Vizcarra mengatakan kepada wartawan bahwa polisi telah menangkap 21.000 warga karena melanggar UU. Pihak berwenang mempublikasikan jumlah penangkapan harian dalam upaya memperingatkan warga lain agar tidak melanggar aturan lockdown. Pemerintah juga mengadopsi langkah-langkah untuk mendukung warga yang kehilangan pendapatan karena lockdown, seperti pembayaran tunai dan distribusi makanan.
Untuk memperluas uji kesehatan di luar ibukota, pemerintah telah meminta 1 juta tes diagnostik cepat yang diproduksi oleh China dan Korea Selatan. Tes-tes ini mendeteksi baik protein pada coronavirus yang memicu respons imun, atau antibodi yang dihasilkan orang sebagai respons terhadap infeksi.
Tes tersebut dapat membantu rumah sakit mengukur berapa banyak petugas kesehatan yang telah terinfeksi dan kebal. Ketika warga dinyatakan positif, tim medis mencari kontak dekat pasien. Sementara itu, individu yang terinfeksi dapat mengambil tindakan ekstra untuk mengisolasi diri sendiri, atau menuju ke pusat-pusat isolasi yang dibangun oleh pemerintah Peru.
3. Kenya (197 Kasus, 8 Kematian)
Pada 25 Maret dengan 25 kasus yang dikonfirmasi, Kenya memberlakukan jam malam (jam 7 malam), dan mengumumkan warga agar tetap tinggal di rumah kecuali untuk tugas mendesak. Polisi Kenya memukuli warga yang kedapatan berkeliaran, bahka sebelum jam malam dimulai.
Penyalahgunaan kewenangan oleh polisi bukanlah hal baru di Kenya. Tetapi taktik mereka dapat menjadi bumerang jika masyarakat memprotes, terutama jika orang tidak dapat mengakses kebutuhan sehari-hari.
"Jika pemerintah tidak memiliki database cara mendistribusi makanan, orang tidak bisa makan, dan itu bisa menyebabkan kerusuhan," kata Abigail Arunga, seorang Jurnalis di Nairobi.
Masyarakat Kurang Teredukasi Mengenai COVID-19
Arunga menambahkan bahwa banyak warga di Nairobi mempertanyakan gawatnya penyakit tersebut. Warga menganggap COVID-19 adalah masalah yang hanya memengaruhi orang-orang kelas atas dan menengah yang datang ke Kenya dari Amerika Serikat dan Eropa.
Evans Amukoye, seorang peneliti paru pediatrik di Kenya Medical Research Institute di Nairobi, mengatakan bahwa meyakinkan publik untuk menganggap COVID-19 serius adalah sulit. Karena sejauh ini hanya sedikit kasus yang telah dikonfirmasi. Pihak berwenang lebih mengutamakan untuk memaksakan pembatasan sosial guna menjauhkan penyebaran terlebih dahulu.
4. El Salvador (137 Kasus, 6 Kematian)
El Salvador adalah salah satu negara tercepat di dunia dalam hal implementasi tanggapan COVID-19., kata Luis Romero Pineda, wakil koordinator proyek di Médicines sans Frontières di San Salvador. Dengan hanya sekitar 100 tempat tidur ICU yang tersedia di negara ini, El Salvador akan menghadapi potensi bencana jika jumlah COVID-19 melonjak.
(mdk/edl)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya