MUI: Jangan pilih pemimpin Muslim tetapi zalim

Berawal dari ceramah Rhoma Irama. Ceramah Raja Dangdut itu menuai pro dan kontra.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
MUI: Jangan pilih pemimpin Muslim tetapi zalim
Fauzi Bowo dan Jokowi. ©2012 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Ceramah Rhoma Irama di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, menjadi bola salju yang terus menggelinding. Ada yang pro dan kontra menanggapi ceramah Raja Dangdut tersebut. Sebagian menilai SARA, sebagian menilai itu sah-sah saja sebagai seorang dai.Rhoma berkali-kali menjelaskan maksud ceramahnya tersebut. Dia menegaskan, ceramahnya itu tidak berbau SARA. Dia hanya mensyiarkan sesuai ajaran Islam.Soal SARA atau tidaknya, kasus ini sudah ditangani oleh Panwaslu DKI Jakarta. Rhoma juga sudah dimintai keterangan terkait masalah ini kemarin. Apakah ada unsur SARA? Panwaslu masih mengumpulkan bukti-bukti lagi.Heboh soal ceramah Rhoma ini juga menjadi perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI). Salah satu Ketua MUI Amidhan berpendapat, tidak ada yang salah dalam ceramah Rhoma. Sebagai seorang dai, Rhoma hanya menyampaikan ayat Alquran.Bagaimana pandangan Amidhan selengkapnya mengenai ceramah Rhoma. Berikut petikan wawancaranya kepada merdeka.com, Selasa (7/8):Bagaimana Anda atau MUI sendiri menanggapi ceramah Rhoma Irama yang sedang dipersoalkan?Itu ceramahnya dilakukan di masjid, ceramah agama, dan dalam bulan Ramadan. Jadi konteksnya khusus disampaikan kepada audiens di masjid itu sendiri.Dalam ceramahnya apa ada yang salah apa sudah benar?Dia (Rhoma) berbicara dan mengutip ayat dalam Alquran kalau tidak salah surat Al Maidah. Surat itu menjelaskan kalau memilih pemimpin itu janganlah memilih non muslim.Al Maidah ayat 51:"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim"Jadi ceramahnya tidak salah?Karena ini masih momen Pilkada, jadi dikait-kaitkan dengan Pilkada pada putaran kedua dan ada yang mempertanyakan mengapa membawa SARA ke dalam masjid.Menurut saya, apa yang disampaikan itu dalam rumah tangga Islam dari hati ke hati yang sebenarnya sah-sah saja. Kecuali dia sebagai juru kampanye Foke. Dia (Rhoma) sudah mengaku bukan tim Foke.Dalam ceramahnya, Rhoma menyebut nama seorang calon gubernur dan wakil gubernur, apa tidak menyudutkan calon tertentu?Misalkan dia menyebut, Foke muslim, Nara muslim, Jokowi muslim dan Ahok non muslim. Kalau hanya menyebut begitu saja tidak masalah. Ini semua keterbukaan, semua terserah pemilih. Rhoma itu hanya menyampaikan perintah agama.Jadi orang muslim memilih pemimpin non muslim dosa?Di dalam Alquran tidak boleh, tentu dilarang. Tetapi kalau menurut ahli fiqh, jangan memilih pemimpin yang zalim dan tidak adil walaupun itu muslim. Atau kebalikannya, boleh saja memilih pemimpin yang non muslim asal adil dan tidak zalim.Nah, tetapi kalau dikaitkan dengan Pilkada semua tidak tahu dan tidak jelas. Makanya, semua harus berpikir positif.Lalu bisa dilihat dari mana kalau calon pemimpin yang akan dipilih itu bisa adil dan tidak zalim?Dari latar belakangnya.Menurut Anda, tafsir pemimpin dalam surat Al Maidah itu apa?Pemimpin bisa banyak, bisa presiden, gubernur, bupati, camat dan pemimpin rumah tangga. Pemimpin di situ artinya luas.

Rekomendasi