Berbagai cara dilakukan Pemprov DKI untuk mengurangi banjir yang menjadi momok menakutkan setiap tahunnya. Salah satunya dengan menormalisasi 13 kali di Jakarta.Salah satu kali yang masuk dalam daftar normalisasi adalah Ciliwung. Sudah tiga tahun berjalan, proyek itu belum juga rampung.Ada masalah utama yang membuat proyek itu sulit berjalan mulus. Yakni banyaknya hunian di bantaran kali. Meski berdiri ilegal, tak mudah meratakan bangunan semi permanen itu karena warga kompak menolak direlokasi.Memastikan kelanjutan proyek normalisasi Ciliwung, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, tim Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) dan Rindam Jaya, memutuskan menyusuri Kali Ciliwung dengan perahu karet. Sejak Rabu pagi, rombongan memulai penyisiran dari Jembatan Gedong, Jakarta Timur menuju Kalibata, melewati kawasan Condet, Bidara Cina, Kampung Pulo, dan diakhiri di kawasan Manggarai.Banyak hal yang ditemukan Ahok, sapaan Basuki, saat menyusuri aliran Kali Ciliwung. Antara lain, hunian bantaran yang kian padat, limbah industri hingga endapan tanah yang membuat dangkal.Temuan itu membuatnya geleng-geleng kepala. Ahok marah besar, dan memastikan penertiban hunian di bantaran harus dibongkar meski warga menolak. Sebagai gantinya, dia menyediakan 20 unit rumah susun di Rawa Bebek dan Rusun Marunda.
Advertisement
Ahok mengaku heran dengan suara aktivis yang seolah memberikan pembelaan dengan melarang warga bantaran digusur. Padahal, kehidupan di bantaran jelas tak layak huni."Tadi ada yang ikut kan. Makanya ini yang selalu saya katakan, di mana suara aktivis, ketika melihat Ciliwung direklamasi? Masih tidak ada komentar," kata Ahok di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (18/5).
Ahok di Ciliwung ©2016 merdeka.com/muhammad luthfi rahman
Kepada warga bantaran kali, Ahok sempat mengatakan mereka telah mereklamasi sungai untuk dijadikan tempat tinggal. Bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu tersebut justru disewakan para pendiri bangunan."Hampir seluruh Ciliwung itu direklamasi dengan tanah, dengan kayu, dengan sampah, lalu kemudian membuat rumah-rumah untuk disewakan. Jadi yang suka protes kami, adalah orang-orang yang suka menyewakan.""Reklamasi kali itu lebih bahaya dari reklamasi laut. Masa aktivis diam saja melihat kehidupan rakyat tinggal seperti di kandang burung gitu," tegasnya.Ahok berjanji akan membongkar bangunan agar proyek normalisasi kali dapat dilanjutkan. Sebab, proyek yang telah berjalan sejak 3 tahun lalu itu progresnya baru 47 persen."Harus bongkar semua, bongkar," ujar dia.
Advertisement
Ahok menyebut bantaran kali di kawasan di Condet, Jakarta Timur, paling banyak dijadikan hunian oleh warga."Pokoknya makin mendekati kota makin banyak reklamasi. Condet juga reklamasi, semua gitu. Pasangin bambu, buangin sampah, ada yang pakai karung," sambungnya.
Ahok di Ciliwung ©2016 merdeka.com/muhammad luthfi rahman
Dia tak peduli alasan warga yang ngotot bertahan. Apalagi sampai ada yang mengaku penghuni terlama di bantaran Ciliwung."Banyak orang mengklaim 'saya tinggal di sini sejak pertama kali Ciliwung ada kehidupan'. Ini nenek moyang nya tinggal di sini nih. Terus saya bilang, nenek moyang kita gak goblok amat, kok kamu menghina banget sama nenek moyang kita. Mana ada nenek moyang bikin rumah di bantaran sungai," pungkasnya.Ditambahkan Ahok, sekitar 50 ribu KK di sepanjang 19 KM Kali Ciliwung yang masih menduduki bantaran. Mereka yang dipastikan akan direlokasi jika ketersediaan unit rusun telah siap.Pembangunan rusun sudah dilakukan bertahap. Tahap awal, di tahun ini 20 ribu rusun akan dibangun lebih dulu dengan target selesai Oktober 2017. Kemudian, tahun depan, Pemprov DKI akan menambah 50 ribu lagi untuk warga Kali Ciliwung.