Jadi Petani Masa Depan, Pemuda Depok Berhasil Tanam Sayur di Ruangan Tanpa Matahari
Merdeka.com - Keterbatasan lahan tidak mengurangi semangat Muhammad Iqbal untuk bercocok tanam. Petani milenial asal Kota Depok, Jawa Barat tersebut berhasil membuktikan jika budidaya sayuran tidak harus dilakukan di luar ruangan.
Saat ditemui di Sentra Farm, Jalan Raya Bogor, Gudang Malatek G19, ia menceritakan bahwa konsep pertanian modern vertical farm bisa diterapkan di Indonesia. Prosesnya pun tidak memerlukan sinar matahari dan hanya dibantu oleh lampu khusus berjenis grow light.
"Saat ini kan lahan sudah menyempit, dibuat perumahan segala macam. Lewat pertanian vertikal ini. Lahan pun nggak perlu besar dan produksi bisa meningkat" terangnya, dikutip dari YouTube Capcapung, Kamis (6/1).
Terinspirasi dari Pertanian Luar Negeri

©2022 Instagram sentrafarm.id/Merdeka.com
Konsep bercocok tanam di tengah lahan yang terbatas belakangan banyak diterapkan di luar negeri. Iqbal mengaku terinspirasi dari konsep pertanian vertikal serupa yang kebanyakan terletak di belakang restoran.
Penyediaan bahan sayuran yang dekat dengan tempat pengolahan tentu akan menjadi keuntungan tersendiri. Menurut dia, sayuran atau produk tani yang ditanam bisa tetap segar, dan terhindar dari layu.
"Konsep ini terinspirasi dari luar negeri ya, di mana letaknya bisa di belakang-belakang restoran. Jadinya sayuran bisa tetap sehat dan tidak layu," jelasnya.
Mudah Dipantau
Konsep vertical farming disebut Iqbal memiliki sejumlah keuntungan. Petani bisa memantau langsung kondisi tanamannya yang sedang dibudidayakan. Bahkan, hasil pertanian jadi lebih sehat karena tidak diserang hama atau penyakit.
Selain itu, tanaman jadi mudah dipantau lantaran tidak terpengaruh cuaca. Untuk perawatannya sendiri jadi lebih terpantau karena semua bisa diatur terkait suhu, sirkulasi, hingga cahaya dari lampu grow light.
"Jika dibandingkan greenhouse, indoor vertikal farm ini jadi lebih terpantau. Tentunya ini juga jadi terbebas dari hama dan penyakit, juga suhu, sirkulasi sampai pencahayaan juga sudah bisa diatur. Sama PH dan nutrisi juga kita tidak khawatir," terangnya lagi.
Kualitas Sayuran Lebih Bagus

©2022 Instagram sentrafarm.id/Merdeka.com
Iqbal melanjutkan, dalam memantau kualitas sayuran ternyata cukup mudah. Dirinya hanya tinggal memadukan antara jumlah kerapatan cahaya grow light dalam ruangan (PPFD), dengan sirkulasi yang berasal dari kipas-kipas kecil.
Biasanya, PPFD yang dipakai adalah 80-300 saat berada di dalam ruangan. Namun angka itu bisa disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, jika dinaikkan ukuran sayuran bisa lebih besar.
"Proses ini saya dapatkan dari YouTube dan google, dari sana kita belajar titik kritisnya jika bertani di dalam ruangan. Dari situ kita tau bahwa hal penting ada di ppfdnya. Jika ppfdnya berkisar 80-300 maka bibit akan tumbuh. Dan semakin besar angkanya tumbuhan akan ikut besar. Namun harus diimbangi sirkulasi agar morfologinya tidak terbakar/rusak," katanya.
Dijual di Marketplace
Iqbal sendiri menanam berbagai jenis tanaman hidroponik seperti letus, romaine, slada kriting, pakcoy, hingga basil. Untuk penjualan ia andalkan melalui sistem online di marketplace.
"Kita juga di sini open house, jadi bagi konsumen yang mau datang langsung ke Sentra Farm bisa" terangnya.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya