Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ajak Pembeli Berdiskusi, Pengusaha Tempe Cirebon Ini Siasati Naiknya Harga Kedelai

Ajak Pembeli Berdiskusi, Pengusaha Tempe Cirebon Ini Siasati Naiknya Harga Kedelai Siasat pengusaha tempe rumahan di Cirebon. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Tingginya harga kedelai di pasaran dunia, membuat sejumlah pengusaha tempe di Kota Cirebon memutar otak. Mereka menyusun siasat agar bisa terus 'bernapas'. Salah satunya adalah Arif Budiman, seorang produsen tempe rumahan di Kampung Karangsetra, Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kejaksan Kota Cirebon.

Arif menyebutkan, industrinya cukup tersentak sejak kenaikan harga kedelai impor Amerika. Produksi di tempatnya semakin dibatasi. Dia menyebut harga kedelai naik sejak akhir November.

Selama ini, bahan baku kacang kedelai untuk produksinya ia dapatkan dari agen di Cirebon. Tak ada pilihan lain, Arif terpaksa menggunakan kedelai impor.

"November ke Desember itu naiknya signifikan sekali, dari Rp200 sampai Rp500 per kg bahkan Rp1.000 per kg. Sekarang Rp9.300 sampai Rp9.500 per kg," kata Arif Budiman, Selasa (5/1/2021), dilansir dari Liputan6.com.

Berdiskusi dengan Pembeli

siasat pengusaha tempe rumahan di cirebon

©2021 Merdeka.com

Salah satu siasat yang coba Arif jalankan adalah meminta pendapat pembeli. Ia menawarkan harga tetap, namun ukuran diperkecil. Atau ukuran tetap namun harga akan di atas rata-rata. Hal tersebut dilakukan agar pembeli tidak kabur.

"Kami terpaksa produksi tempe dengan catatan ya itu volume berkurang atau harga naik. Jadi biasanya kita kasih tahu ke pembeli dulu, mau harga naik atau tetap. Kalau maunya harga tetap volumenya dikecilin. itu mau tidak mau," tutur Arif.

Biaya Produksi Tak Tertutup

ilustrasi kedelai

Ilustrasi kedelai/ ©2019 Merdeka.com/Pixabay

Kendati beragam upaya telah dilakukan, kenaikan harga kedelai tetap mencekik pengusaha. Menurutnya, selama ini hasil penjualan tak mampu menutup biaya produksi di tempatnya.

Arif menyebutk, harga jual tempe buatan di industrinya saat ini Rp4.000 per potong, dari harga sebelumnya Rp3.000 sampai 3.500 per potong. Untuk mengurangi risiko merugi, hasil produksi tempenya harus habis terjual dalam sehari.

"Sebelumnya pendapatan rata-rata Rp500 ribu sampai Rp600 ribu per hari sekarang omzet dan pendapatan turun. Untung Rp1.000 saja masih belum nutup sama ongkos produksi," sebut Arif.

Proses Panjang

ilustrasi tempe kedelai

©2020 Merdeka.com/indonesia.go.id

Untuk memproduksi tempe, Arif butuh proses yang panjang. Rentang waktu berkisar empat hari selama proses produksi tempe, mulai dari pengolahan kedelai sampai penjualan.

Ia berharap ada solusi bijak dari pemerintah untuk mengatasi persoalan kenaikan harga kedelai ini. Arif mengaku, pihaknya masih merasa rugi jika kedelai impor dibelinya dengan harga Rp9.300 sampai Rp9.500 per kg.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP