Telkom Tunjuk Dirut Baru lewat RUPSLB 2026, Spin-Off InfraCo dan Perubahan Pengurus Disetujui

RUPSLB Telkom Indonesia 2026 menyetujui pemisahan bisnis wholesale fiber ke InfraNexia dan perubahan pengurus. Ini arah transformasi Telkom ke HoldCo-OpCo.

Wuri Anggarini
Oleh Wuri Anggarini - Reporter
Telkom Tunjuk Dirut Baru lewat RUPSLB 2026, Spin-Off InfraCo dan Perubahan Pengurus Disetujui
Momen foto bersama usai penandatanganan akta pemisahan (deed of spin-off) oleh Telkom dan Infranexia, Rabu (30/9). Foto: Telkom Indonesia

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memperoleh persetujuan pemegang saham independen untuk memisahkan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia). Keputusan diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar daring pada Rabu (30/9/2026), sekaligus menyetujui perubahan pengurus perseroan dengan menetapkan Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama Telkom.

Aksi pemisahan (spin-off) ini dikategorikan sebagai transaksi afiliasi sesuai Peraturan OJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan. Pelaksanaannya memenuhi ketentuan kuorum dari mayoritas pemegang saham independen.

Pembentukan InfraNexia sebagai operating company yang mengelola bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup merupakan bagian dari strategi TLKM 30 untuk mendorong monetisasi aset bernilai tinggi dan memperluas kemitraan strategis. Langkah ini sejalan dengan transformasi Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding melalui model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo) yang berorientasi pada penciptaan nilai dan sinergi berkelanjutan antarterafiliasi.

"Atas nama direksi Perseroan, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan yang senantiasa menyertai perjalanan transformasi Telkom. Kepercayaan yang diberikan kepada Telkom atas Spin-Off InfraCo ini menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus, sekaligus memberi ruang dan fleksibilitas bagi InfraNexia untuk berkembang lebih optimal. Telkom memastikan transformasi yang tengah dijalankan dapat memberikan dampak nyata terhadap kinerja dan value creation, sekaligus menghadirkan kontribusi yang semakin besar bagi kemajuan ekosistem digital Indonesia," kata Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno.

Komposisi Dewan Telkom Indonesia Usai RUPSLB 2026

RUPSLB Telkom 2026 Setujui Spin-Off InfraCo dan Perubahan Pengurus, Nanang Hendarno Jadi Dirut Baru
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom, Rabu (30/9). Foto: Telkom Indonesia

RUPSLB turut menyetujui perubahan susunan pengurus perseroan yang diharapkan memperkuat tata kelola, mendongkrak kinerja, dan mendukung agenda transformasi TLKM 30. Berikut susunan Dewan Komisaris dan Direksi Telkom setelah RUPSLB 2026:

  • Komisaris Utama: Angga Raka Prabowo.
  • Komisaris: Ossy Darmawan.
  • Komisaris: Rizal Mallarangeng.
  • Komisaris: Edwin Hidayat Abdullah.
  • Komisaris Independen: Rofikoh Rokhim.
  • Komisaris Independen: Anthony Leong.
  • Komisaris Independen: Deswandhy Agusman.
  • Komisaris Independen: Ira Noviarti.

Adapun susunan jajaran Direksi Telkom adalah sebagai berikut:

  • Direktur Utama: Nanang Hendarno.
  • Direktur Enterprise & Business Service: Veranita Yosephine.
  • Direktur Human Capital Management: Willy Saelan.
  • Direktur Keuangan & Manajemen Risiko: Arthur Angelo Syailendra.
  • Direktur Network: Budi Satria Dharma Purba.
  • Direktur Strategic Business Development & Portfolio: Seno Soemadji.
  • Direktur Wholesale & International Service: Radita Ali Putra.
  • Direktur IT Digital: Kharim I. G. Siregar.
  • Direktur Legal & Compliance: Andy Kelana.

InfraNexia Kelola Lebih dari 90% Aset Jaringan, Siapkan Infrastruktur AI

RUPSLB Telkom 2026 Setujui Spin-Off InfraCo dan Perubahan Pengurus, Nanang Hendarno Jadi Dirut Baru
Press conference penandatanganan akta pemisahan (deed of spin-off) oleh Telkom dan Infranexia, Rabu (30/9). Foto: Telkom Indonesia

Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia menandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) sebagai tonggak utama penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2, setelah meraih persetujuan pemegang saham independen melalui RUPSLB. Akta tersebut ditandatangani oleh Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf di Telkom Landmark Tower, Jakarta.

Melalui tahapan ini, lebih dari 90% aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom resmi dikonsolidasikan ke InfraNexia, memperkuat perannya sebagai penyedia infrastruktur digital berbasis wholesale dengan jangkauan nasional. Skala tersebut mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, termasuk 26.000 km Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik, dengan total nilai transaksi mencapai sekitar Rp85,7 triliun.

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menyampaikan, InfraNexia diarahkan untuk mempertajam fokus bisnis dan meningkatkan produktivitas aset infrastruktur guna mendorong kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup.

"Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri. Langkah ini menjadi bagian dari upaya TelkomGroup membangun bisnis agar semakin fokus, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai yang jauh lebih besar dari tiap aset strategis yang dimiliki," ujar Nanang.

Sejalan dengan arahan tersebut, Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menilai konsolidasi memberi ruang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan dan memperkuat kolaborasi di ekosistem digital nasional.

"Skala infrastruktur yang semakin besar memberi kami fleksibilitas untuk menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi berbagai kebutuhan pelanggan. Fokus kami bukan hanya memperluas pemanfaatan aset, tetapi memastikan infrastruktur yang kami miliki dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan lebih banyak mitra dan layanan digital, serta mendukung penguatan ekosistem dan kedaulatan digital Indonesia," tambah Seno.

Pasca konsolidasi, InfraNexia mengelola jaringan serat optik yang terhubung melalui infrastruktur darat dan laut, didukung 4 area, 12 regional, dan 61 distrik di seluruh Indonesia. Cakupan tersebut menjadi fondasi bagi operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, data center, dan berbagai pelaku industri untuk memperluas kapasitas dan jangkauan layanannya.

Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf menyebut fase baru ini memperkuat peran InfraNexia dalam membangun jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka, terintegrasi, dan dapat dimanfaatkan bersama.

"Indonesia membutuhkan AI Ready Infrastructure yang mampu berkembang seiring kebutuhan industri dan teknologi. Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan scalable, kami ingin menghadirkan fondasi yang dapat mendukung pertumbuhan AI, cloud, data center, serta berbagai inovasi digital lainnya di masa depan, sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi mitra untuk memperluas layanan dan menciptkan peluang pertumbuhan baru tanpa harus mengembangkan seluruh infrastrukturnya secara mandiri," pungkas Lukman.

InfraNexia menjalankan model bisnis carrier-neutral dan open-access melalui dua lini utama, yakni Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx. Portofolionya mencakup layanan konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, hingga pemanfaatan infrastruktur pasif bersama sesuai kebutuhan kapasitas, cakupan, dan model bisnis tiap pelanggan.

Perusahaan juga mempercepat modernisasi operasi jaringan melalui otomasi, integrasi sistem, dan pengembangan kapabilitas autonomous network untuk meningkatkan keandalan layanan, efisiensi operasional, serta kemampuan jaringan merespons permintaan pelanggan.

Penguatan skala dan kapabilitas dilakukan agar infrastruktur tetap relevan dengan kebutuhan Indonesia yang kian terkoneksi serta mendukung pertumbuhan ekosistem digital nasional.

"InfraNexia dengan semangat Flowing Through Nusantara merefleksikan bagaimana infrastruktur kami akan terus menghubungkan wilayah, industri, dan berbagai peluang pertumbuhan di seluruh Indonesia. Semangat ini menjadi pengingat bahwa setiap pengembangan yang kami lakukan harus memberikan ruang bagi konektivitas dan ekosistem digital untuk terus bertumbuh," tutup Lukman.

Rekomendasi