Siasat Gen Z Bertahan di Ibu Kota: Ngopi Tetap Enak Tanpa Dompet Bocor

Kebiasaan membeli kopi Rp25.000 setiap hari bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah dalam sebulan. Kopi sachet bisa sebagai alternatif praktis sambil tetap mempertimbangkan rasa dan harga.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani - Reporter
Siasat Gen Z Bertahan di Ibu Kota: Ngopi Tetap Enak Tanpa Dompet Bocor
Olahan Kopi Kekinian/Ide Jualan Minuman di Rumah (Sumber: gemini.com)

Bagi sebagian orang, aroma kopi yang mengepul di pagi hari adalah sebuah ritual wajib. Tanpa kafein yang mengalir di pembuluh darah, pagi rasanya belum benar-benar dimulai.

Namun, di balik kenikmatan secangkir es kopi susu kekinian seharga Rp 25.000 yang biasa dibeli sebelum masuk kantor, ada bahaya "bocor halus" yang diam-diam mengintai dompet para pekerja muda.

Mari kita hitung secara matematis. Jika dilakukan selama 20 hari kerja, misalnya, uang yang keluar untuk kopi bisa mencapai Rp 500.000. Sementara jika dilakukan setiap hari selama sebulan, pengeluarannya bisa mencapai Rp 750.000.

Bagi pekerja muda, pengeluaran seperti ini mungkin terlihat kecil jika hanya dilakukan sekali. Namun, jika menjadi kebiasaan, jumlahnya bisa cukup terasa di akhir bulan.

Imam, salah seorang gen Z yang baru memulai karirnya, memilih cara sederhana untuk tetap menikmati kopi tanpa membuat pengeluaran ikut membesar. Ia lebih sering memilih kopi sachet.

Menurut Imam, kopi sachet dipilih karena praktis dan mudah dibawa ke mana saja. Ia juga biasanya membeli kopi dalam jumlah banyak sekaligus.

"Karena simple dan mudah dibawa ke mana saja. Saya beli satu renteng kopi sekaligus," ujar Imam saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (7/10).

Meski begitu, bukan berarti Imam asal memilih kopi dengan harga paling murah. Ia tetap mempertimbangkan rasa yang sesuai selera.

"Sesuai selera, jadi tetap memilih yang enak dengan mempertimbangkan harga," kata dia.

Hal serupa dilakukan Nana. Ia memilih kopi sachet karena alasan sederhana, yakni lebih murah sekaligus praktis.

“Lebih murah dan praktis,” kata Nana.

Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa mengatur keuangan tidak selalu harus dengan menghilangkan hal-hal yang disukai. Pilihan sederhana bisa dilakukan dengan mencari alternatif yang tetap nyaman dan sesuai kemampuan kantong.

Pengeluaran Kecil Sering Tak Terasa

Kopi hanya salah satu contoh pengeluaran kecil yang bisa muncul berulang kali. Jajan, pesan makanan lewat aplikasi, ongkos ojek online, hingga membeli camilan juga bisa membuat uang bulanan cepat berkurang.

Karena itu, anak muda yang ingin uangnya lebih awet bisa mulai memperhatikan pengeluaran rutin yang sebenarnya tidak wajib.

Bukan berarti harus berhenti membeli kopi atau jajan sama sekali. Pengeluaran untuk hiburan tetap boleh masuk dalam anggaran, selama tidak mengganggu kebutuhan utama.

Cara Biar Uang Nggak Habis Sebelum Gajian

Ada beberapa cara sederhana yang bisa dicoba untuk menjaga uang bulanan tetap aman.

Pilah Prioritas Sejak Hari Pertama Gajian: Begitu gaji masuk, langsung amankan alokasi untuk kebutuhan wajib. Biaya kos atau kontrakan, uang makan utama, transportasi, dan tagihan bulanan harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum melirik menu promosi di aplikasi makanan.

Menabung di Awal, Bukan dari Sisa: Jangan pernah menunggu akhir bulan untuk menyisihkan uang. Tabungan yang ideal dipotong langsung di depan, sehingga masa depan Anda tidak bergantung pada "keajaiban" sisa uang di minggu terakhir.

Audit Pengeluaran Mikro: Cobalah rajin mencatat setiap pengeluaran kecil harian, sekecil apa pun nominalnya. Dari catatan tersebut, Anda akan terkejut melihat kebiasaan mana yang sebenarnya paling banyak menyedot isi dompet.

Temukan Alternatif Cerdas: Menikmati hal yang disukai tidak harus selalu dengan opsi termahal. Menyeduh kopi sendiri di kantor, membawa bekal makan siang dari rumah, atau sekadar mengurangi frekuensi nongkrong di kafe estetis bisa menjadi penyelamat finansial yang ampuh.

Tetap Jujur pada Selera: Hemat tidak sama dengan menyiksa diri. Seperti prinsip yang dipegang Imam, harga murah boleh jadi pertimbangan utama, namun kualitas dan rasa tetap harus memberikan kenyamanan bagi diri sendiri.

 

Hemat bukan berarti harus selalu memilih barang termurah. Seperti Imam, harga tetap bisa menjadi pertimbangan tanpa mengorbankan selera.

Pada akhirnya, menjaga uang bulanan bukan soal siapa yang paling irit. Yang lebih penting adalah mengetahui ke mana uang pergi dan memastikan pengeluaran kecil tidak mengganggu kebutuhan yang lebih penting.

Sebab, Rp25.000 mungkin terasa kecil hari ini. Tapi kalau keluar setiap hari, dompet bisa merasakan bedanya.

Rekomendasi